InfoSAWIT, BEKASI – Gelar akademik bukan satu-satunya modal untuk memasuki dunia kerja. Bagi lulusan pendidikan vokasi perkebunan kelapa sawit, kemampuan akademik perlu berjalan bersama integritas, etika, kemauan belajar dan kesiapan fisik.
Pesan tersebut disampaikan Ketua Badan Pengurus Yayasan Citra Widya Edukasi, Mayjend TNI (Purn.) Dr. Djanadi Bimo Prakoso, MPA, M.Sc., dalam Wisuda Sarjana Terapan Angkatan IV dan Ahli Madya Angkatan XVIII Politeknik Kelapa Sawit Citra Widya Edukasi (Poltek Kelapa Sawit CWE) di Harris Hotel Convention Hall, Kota Bekasi, yang dihadiri InfoSAWIT, Minggu (27/9/2026).
Dalam sambutannya, Djanadi memperkenalkan formula yang disebutnya sebagai “kesuksesan 100%”. Formula tersebut membagi keberhasilan lulusan ke dalam tiga unsur utama, yakni 50% pengabdian, kerja keras, integritas tim dan pembelajaran berkelanjutan; 30% kepandaian yang berlandaskan etika moral Pancasila dan UUD 1945; serta 20% kesemaptaan jasmani.
BACA JUGA: BMKG Prediksi Hujan Oktober 2026 Rendah, Sejumlah Sentra Sawit Perlu Waspada Kekeringan
Menurut Djanadi, separuh dari keberhasilan seseorang justru ditentukan oleh bagaimana ia menjalankan pekerjaan dan membangun sikap profesional.
Dedikasi, kerja keras dan semangat pantang menyerah menjadi bagian penting ketika lulusan menghadapi dunia kerja. Kemampuan bekerja dalam tim juga harus dibarengi dengan integritas serta komitmen untuk menolak praktik korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN).
Tidak kalah penting, lulusan diminta menjadi pembelajar sepanjang hayat atau long-life learner. Perubahan teknologi dan kebutuhan industri yang bergerak cepat membuat kompetensi yang diperoleh di bangku kuliah perlu terus diperbarui.
BACA JUGA: BRIN Kembangkan Sensor Real-Time untuk Deteksi MOAH pada Minyak Sawit
“Jadilah insan yang terus belajar dan selalu terbiasa mencatat setiap proses maupun pembelajaran sebagai bentuk ketelitian dan profesionalisme,” pesan Djanadi.
Sementara itu, kemampuan intelektual mendapatkan porsi 30% dalam formula tersebut. Namun, kecerdasan menurutnya tidak dapat dilepaskan dari etika moral.
Pengetahuan dan kemampuan profesional harus diarahkan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat dan bangsa, dengan tetap berpegang pada nilai Pancasila, UUD 1945 dan semangat kebhinekaan.
Adapun 20% terakhir berkaitan dengan kesemaptaan jasmani. Bagi lulusan yang akan bekerja di industri perkebunan, kondisi fisik menjadi salah satu aspek yang tidak dapat diabaikan karena aktivitas pekerjaan di lapangan dapat menuntut stamina dan ketahanan tubuh.
Djanadi menyebut standar ketangkasan jasmani yang menjadi gambaran kesiapan fisik, antara lain kemampuan lari 3,2 kilometer dalam 14 menit, push-up 45 kali dalam dua menit dan sit-up 45 kali dalam dua menit.
Formula tersebut menunjukkan bahwa Poltek Kelapa Sawit CWE tidak hanya menempatkan pendidikan sebagai proses memperoleh ijazah, tetapi juga sebagai pembentukan karakter dan kesiapan menghadapi dunia profesional.
Bagi para lulusan, pesan tersebut menjadi bekal memasuki industri sawit yang membutuhkan tenaga kerja dengan kombinasi kompetensi teknis, integritas, kemampuan beradaptasi dan ketahanan menghadapi tuntutan pekerjaan.
“Kerja, kerja, kerja, sukses!” menjadi pesan penutup Djanadi kepada para wisudawan sebelum mereka memulai perjalanan baru di dunia kerja dan masyarakat. (T2)
