IPS Planter Talks Series #2 Bedah Strategi Membangun Estate Sawit Berproduktivitas di Atas 30 Ton per Hektare

oleh -1.812 Kali Dibaca
Editor: Redaksi InfoSAWIT
InfoSAWIT
Dok. InfoSAWIT/ Acara IPS Planters Talk 2026 bertajuk “From High Yield Estate to Sustainable Excellence”, Sabtu (26/9/2026).

InfoSAWIT, JAKARTA – Indonesian Planters Society (IPS) kembali menggelar IPS Planter Talks 2026 – National Knowledge Series melalui Series #2 yang mengangkat tema “From High-Yield Estate to Sustainable Excellence: How Top Estate Achieves >30 Ton/Ha”, dihadiri InfoSAWIT, Sabtu (26/9/2026).

Forum tersebut membahas strategi membangun perkebunan kelapa sawit dengan produktivitas tinggi sekaligus menjaga efisiensi dan keberlanjutan operasional. Diskusi menghadirkan Marlon Sitanggang, Head of Agronomy Division PT Union Sampoerna Triputra Persada, serta Soemanto Sastro, Planter Senior.

Ketua Umum IPS, Ir. Jamalul, mengatakan pembahasan produktivitas menjadi bagian penting dalam rangkaian IPS Planter Talks 2026. Setelah Series #1 membahas persoalan sumber daya manusia melalui tema “Darurat SDM Sawit – No Harvester, No Revenue”, Series #2 diarahkan pada salah satu fondasi utama bisnis perkebunan, yakni kemampuan estate menghasilkan produktivitas secara konsisten.

BACA JUGA: Bukan Sekadar Pintar, Ini 3 Karakter yang Diminta Poltek Sawit CWE dari Calon Pemimpin Industri

Menurut Jamalul, pencapaian high yield tidak dapat bergantung pada satu faktor saja. Produktivitas tinggi merupakan hasil dari sistem yang menghubungkan kualitas tanaman, penerapan agronomi, kompetensi sumber daya manusia, kedisiplinan eksekusi, akurasi data hingga kepemimpinan.

“High yield bukan hasil dari satu program, satu pupuk, atau satu tahun kerja. High yield adalah sebuah sistem,” ujar Jamalul.

 

Mengukur Potensi dan Menutup Yield Gap

Dalam sesi “Building the High-Yield Estate”, Marlon Sitanggang menjelaskan bahwa produktivitas sawit terbentuk melalui interaksi Genotype × Environment × Management.

BACA JUGA: Wisuda Poltek Kelapa Sawit CWE: Lulusan Diburu Industri, 86 Orang Sudah Terserap

Pendekatan tersebut menempatkan potensi produksi setiap estate sebagai sesuatu yang perlu diukur secara realistis. Dengan demikian, target produksi lebih dari 30 ton TBS per hektare tidak semata-mata menjadi angka yang diterapkan secara seragam, tetapi harus disesuaikan dengan potensi genetik tanaman, kondisi lingkungan dan kualitas pengelolaan kebun.

Marlon memaparkan bahwa peningkatan produktivitas perlu diawali dengan identifikasi realistic yield potential. Selanjutnya, estate perlu mengukur yield gap, menemukan faktor pembatas, menentukan prioritas perbaikan, menjalankan intervensi secara disiplin dan melakukan verifikasi terhadap hasilnya.

Pembahasan mencakup sejumlah aspek fundamental, mulai dari agronomi, nutrisi tanaman, efektivitas pemupukan, kualitas panen, infrastruktur hingga penerapan data-driven agronomy.

BACA JUGA: Malaysia Perkuat Pasar Sawit India, Menteri Perladangan Pimpin Misi Dagang ke Bengaluru dan Mumbai

Salah satu isu yang mendapat perhatian adalah “hidden production”, yakni potensi produksi yang sebenarnya tersedia di lapangan tetapi tidak sepenuhnya masuk menjadi hasil produksi. Kehilangan tersebut dapat terjadi karena tandan matang tidak dipanen, brondolan tidak dikutip, tingkat kematangan tidak optimal, restan, lemahnya pengawasan maupun persoalan akses panen dan transportasi.

 

Produktivitas Tidak Berhenti di Kebun

Perspektif berbeda disampaikan Soemanto Sastro yang menyoroti pengalaman operasional perkebunan dalam membangun produktivitas. Menurutnya, pembentukan produksi dimulai jauh sebelum proses panen, termasuk dari kondisi tanah, iklim, kualitas bahan tanaman, kultur teknis dan pemupukan.

Konsistensi juga diperlukan sejak penggunaan benih unggul dan penerapan first class nursery. Tahapan berikutnya mencakup penanaman yang tepat, mempertahankan full stand dan homogenitas tanaman, pemupukan berdasarkan prinsip 6 Tepat, pemeliharaan tanaman, kesiapan infrastruktur serta pelaksanaan panen sesuai standar.

BACA JUGA: PURAKA Soroti Risiko Kebun Rakyat Pasca-Penyitaan Satgas PKH: Status Lahan Belum Otomatis Selesai

Pada sisi hilir kebun, pengangkutan TBS juga menjadi bagian penting dalam menjaga hasil. Prinsip zero restan diperlukan agar TBS yang telah dipanen dapat segera diangkut menuju pabrik. Di tingkat pengolahan, pengendalian losses dan administrasi yang akurat menjadi bagian dari upaya memastikan produksi lapangan tidak hilang dalam proses berikutnya.

Diskusi kedua narasumber memperlihatkan bahwa potensi tanaman dan kualitas eksekusi merupakan dua hal yang saling berkaitan. Potensi genetik dan kondisi lingkungan memberikan dasar produksi, tetapi pencapaiannya sangat ditentukan oleh sistem kerja, kualitas tenaga kerja, pengawasan, akses, data serta kedisiplinan operasional.

 

IPS Dorong Berbagi Pengetahuan Antarplanter

IPS Planter Talks 2026 dirancang dalam delapan series yang membahas berbagai isu strategis perkebunan, mulai dari sumber daya manusia, produktivitas estate, teknologi dan artificial intelligence (AI), masa depan palm oil mill, kepemimpinan, future planter, hingga perspektif manajemen puncak dan dialog bersama para pemimpin industri.

BACA JUGA: Lahan Miring vs Datar, Ini Faktor yang Bisa Bikin Produksi Sawit Berbeda

Melalui rangkaian tersebut, IPS mendorong terbentuknya ekosistem pengetahuan yang mempertemukan pengalaman praktisi dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan industri. Semangat “Leaders Learn, Share, and Grow Together” menjadi landasan untuk mendorong pertukaran pengalaman lintas perusahaan dan generasi planter.

Pembelajaran selanjutnya akan berlanjut melalui IPS Planter Talks 2026 Series #3 pada 10 Oktober 2026. Seri berikutnya akan mengangkat transformasi perkebunan berbasis data, IoT, analytics, dan artificial intelligence (AI) dengan tema “From Data to Decisions, From Insight to Impact.”

Series #3 akan menghadirkan Syarifarudin Afa, Praktisi AI Perkebunan, dengan materi “From Field Data to Intelligent Estate: How Data, GIS & AI Transform Plantation Operations”. Sementara Syaiful Bahri, Praktisi AI Palm Oil Mill, akan membahas “From Machine Data to Intelligent Mill: How IoT, Analytics & AI Transform Mill Operations.”

BACA JUGA: Pabrik Kelapa Sawit Baru Dibangun di Belinyu, Investasi Diharapkan Buka Lapangan Kerja

Materi tersebut akan menghubungkan transformasi digital dari estate hingga palm oil mill, termasuk fondasi data, GIS, konektivitas, pemantauan secara real-time, analitik, predictive AI, serta pemanfaatannya dalam peningkatan produktivitas, efisiensi dan kualitas pengambilan keputusan.

IPS Planter Talks Series #2 pada akhirnya menempatkan high yield bukan sekadar sebagai pencapaian angka produksi. Lebih jauh, produktivitas tinggi membutuhkan sistem yang mampu mengubah potensi tanaman menjadi kinerja secara konsisten, efisien dan berkelanjutan. (T2)

Dapatkan update berita InfoSAWIT setiap hari dengan bergabung di Grup Telegram "InfoSAWIT - News Update", caranya klik link InfoSAWIT-News Update, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Bisa juga IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


Atau ikuti saluran Whatsapp "InfoSAWIT News", caranya klik link InfoSAWIT News

Untuk informasi langganan dan Iklan silahkan WhatsApp ke Marketing InfoSAWIT_01 dan Marketing InfoSAWIT_02 atau email ke sawit.magazine@gmail.com