Lahan Miring vs Datar, Ini Faktor yang Bisa Bikin Produksi Sawit Berbeda

oleh -1.527 Kali Dibaca
Editor: Redaksi InfoSAWIT
InfoSAWIT
Dok. InfoSAWIT/ Acara IPS Planters Talk 2026 bertajuk “From High Yield Estate to Sustainable Excellence”, Sabtu (26/9/2026).

InfoSAWIT, JAKARTA – Perbedaan kondisi lahan menjadi salah satu faktor yang perlu diperhitungkan dalam mengejar produktivitas kelapa sawit. Lahan datar dan areal dengan kemiringan atau teras memiliki karakteristik tanah serta tantangan operasional yang berbeda, sehingga potensi produksi maupun hasil aktualnya tidak selalu sama.

Hal tersebut disampaikan Marlon Sitanggang, Head Agronomy PT Union Sampoerna Triputra Persada, saat berbicara dalam acara IPS Planters Talk 2026 bertajuk “From High Yield Estate to Sustainable Excellence”, yang dihadiri InfoSAWIT, Sabtu (26/9/2026).

Menurut Marlon, perbedaan produktivitas antara lahan datar dan lahan miring bukan semata-mata disebabkan oleh keberadaan teras. Meskipun pembangunan teras dilakukan dengan standar yang baik, karakteristik tanah pada areal tersebut tetap berbeda dibandingkan lahan datar.

BACA JUGA: Strategi Panen Efektif Jadi Kunci Dorong Produktivitas Sawit Berkelanjutan

“Kalau kita tanam di areal teras, walaupun teras sudah dibuat sebagus mungkin, kita tetap menanam pada kondisi tanah yang berbeda dengan areal datar,” jelasnya.

 

Topsoil Berpengaruh terhadap Produktivitas Sawit

Marlon menjelaskan, salah satu pembeda penting terdapat pada keberadaan topsoil. Pada lahan datar, lapisan tanah atas cenderung lebih banyak dibandingkan pada area yang mengalami kemiringan dan telah melalui proses pembentukan teras.

Lapisan topsoil memiliki peranan penting bagi pertumbuhan tanaman karena mengandung bahan organik yang mendukung terbentuknya koloid tanah. Koloid tersebut membantu mengikat unsur hara yang diberikan melalui pemupukan sehingga lebih tersedia bagi tanaman.

BACA JUGA: Petani Sawit Desak Pemerintah Evaluasi B50 dan Libatkan Koperasi dalam Rantai Pasok Biodiesel

Kondisi tersebut pada akhirnya dapat memengaruhi pertumbuhan dan produktivitas tanaman kelapa sawit.

“Bahan organik merupakan salah satu manfaat penting dalam pembentukan koloid tanah yang dapat mengikat nutrisi yang diberikan melalui pupuk, sehingga dapat dimanfaatkan dengan baik oleh tanaman,” katanya.

Karena itu, menurut Marlon, perbedaan potensi maupun produksi aktual antara lahan datar dan lahan bertopografi miring merupakan sesuatu yang perlu diperhitungkan dalam pengelolaan perkebunan.

BACA JUGA:  Pabrik Kelapa Sawit Baru Dibangun di Belinyu, Investasi Diharapkan Buka Lapangan Kerja

Namun, perbedaan tersebut bukan berarti produktivitas lahan miring tidak dapat dioptimalkan.

 

Manajemen Kebun Tetap Menjadi Faktor Penentu

Marlon menegaskan, perbandingan produktivitas antara dua kondisi lahan harus dilakukan dengan mempertimbangkan kesamaan perlakuan agronomi dan operasional.

Artinya, penerapan pest management practice, pemeliharaan tanaman, pemupukan, hingga aspek fisiologis tanaman harus tetap menjadi bagian dari evaluasi.

BACA JUGA: Hilirisasi Sawit Terhambat Regulasi, POPSI Dorong Percepatan Pembaruan Aturan Klasifikasi Produk

Selain faktor tanah, kendala operasional di lahan miring juga dapat memengaruhi hasil yang diperoleh. Salah satu persoalan yang perlu diperhatikan adalah potensi kehilangan hasil (losses) pada saat panen.

Menurut Marlon, kondisi topografi dapat menyebabkan buah dan brondolan lebih sulit dikendalikan setelah proses pemanenan. Tandan buah segar maupun brondolan yang jatuh di permukaan teras berpotensi bergeser atau menggelinding sehingga tidak seluruhnya dapat dikumpulkan dengan mudah.

“Tidak bisa kita paksa buah itu betul-betul jatuh dan tetap berada di teras. Brondolan maupun tandan bisa menggelinding, dan itu akan berpengaruh terhadap hasil panen,” ujarnya.

BACA JUGA: Harga CPO KPBN Inacom Withdraw Pada Jumat (25/9), Perdagangan CPO di Bursa Malaysia Anjlok

 

Dua Faktor Utama Perlu Diperhatikan

Dengan demikian, terdapat setidaknya dua aspek yang menurut Marlon perlu diperhatikan ketika membandingkan produktivitas lahan datar dengan areal teras.

Pertama, faktor agronomis, terutama karakteristik tanah dan ketersediaan topsoil yang berhubungan dengan kemampuan tanah menyediakan dan mempertahankan unsur hara.

Kedua, faktor operasional, terutama efektivitas pekerjaan pemeliharaan dan panen serta potensi kehilangan hasil pada lahan dengan kondisi topografi tertentu.

BACA JUGA: MPOC Proyeksikan Ekspor Sawit Malaysia Stabil 16 Juta Ton pada 2027

Marlon menilai, data mengenai potensi produksi dari penyedia kecambah tetap dapat digunakan sebagai pembanding atau referensi. Namun, pencapaian aktual di lapangan tetap sangat bergantung pada kondisi lahan dan bagaimana pengelolaan perkebunan dilakukan.

Dengan pendekatan tersebut, evaluasi produktivitas tidak hanya melihat angka produksi secara langsung, tetapi juga mempertimbangkan karakteristik lahan serta tantangan yang dihadapi dalam operasional perkebunan kelapa sawit. (T2)

Dapatkan update berita InfoSAWIT setiap hari dengan bergabung di Grup Telegram "InfoSAWIT - News Update", caranya klik link InfoSAWIT-News Update, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Bisa juga IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


Atau ikuti saluran Whatsapp "InfoSAWIT News", caranya klik link InfoSAWIT News

Untuk informasi langganan dan Iklan silahkan WhatsApp ke Marketing InfoSAWIT_01 dan Marketing InfoSAWIT_02 atau email ke sawit.magazine@gmail.com