InfoSAWIT, JAKARTA – Membangun sumber daya manusia (SDM) di perusahaan perkebunan kelapa sawit tidak cukup hanya dengan meningkatkan kompetensi individu. Organisasi juga perlu memiliki budaya yang kuat, tingkat keterikatan karyawan yang tinggi, serta sistem kerja yang dijalankan secara konsisten.
Hal tersebut disampaikan Human Capital & OSM Director Bumitama Gunajaya Agro (BGA), Agus Sutrisno, dalam IPS Planter Talks 2026 Series #5 bertajuk “Leading from the Field: Turning Leadership into Excellence & Result”, yang dihadiri InfoSAWIT, Sabtu (7/11/2026).
Dalam pemaparannya, Agus menekankan bahwa pembangunan SDM perlu dimulai dengan menetapkan tujuan yang jelas. Perusahaan harus memahami organisasi seperti apa yang ingin dibangun dan nilai-nilai apa yang harus menjadi pegangan seluruh karyawan.
Menurut dia, salah satu fondasi penting adalah membentuk budaya organisasi yang kuat. Nilai-nilai perusahaan tidak boleh berhenti sebagai atribut atau sekadar hafalan, tetapi harus tercermin dalam perilaku sehari-hari seluruh anggota organisasi.
Budaya tersebut, kata Agus, perlu diterapkan secara konsisten di setiap lini pekerjaan. Dengan demikian, nilai organisasi tidak hanya menjadi slogan, melainkan menjadi pedoman dalam menjalankan aktivitas dan mengambil keputusan.
Selain budaya organisasi, Agus juga menyoroti pentingnya membangun keterikatan karyawan atau employee engagement. Salah satu indikator yang dapat digunakan adalah survei untuk mengetahui bagaimana karyawan memandang perusahaan tempat mereka bekerja.
BACA JUGA: Produksi Kedelai Uni Eropa Diproyeksi Turun 20% pada 2026, Ketergantungan Impor Meningkat
Ia menyebutkan, perusahaan perlu mendorong tingkat keterikatan karyawan hingga berada di atas 80%. Bahkan, angka yang lebih tinggi menjadi gambaran bahwa karyawan memiliki hubungan dan pandangan positif terhadap organisasi.
Salah satu cerminnya adalah ketika karyawan mampu berbicara positif mengenai perusahaan, merasa menjadi bagian dari organisasi, serta memiliki keinginan untuk bertahan dan berkembang bersama perusahaan.
Agus juga menyinggung tingkat perputaran karyawan atau turnover. Dalam ilustrasi yang disampaikan, angka turnover sekitar 4,8% dalam setahun berarti dari setiap 100 karyawan, hanya sekitar lima orang yang meninggalkan perusahaan.
BACA JUGA: HIP Biodiesel November 2026 Ditetapkan Rp14.312 per Liter, Belum Termasuk Ongkos Angkut
Bagi Agus, produktivitas organisasi tidak dapat dilepaskan dari kualitas budaya dan bagaimana sistem kerja dijalankan. Sistem yang telah disepakati harus benar-benar diterapkan di seluruh lini, bukan sekadar menjadi aturan tertulis.
Lebih jauh, organisasi juga harus mampu membangun daya saing. Salah satu tolok ukur yang disampaikan Agus adalah posisi perusahaan yang dapat mencapai persentil ke-80 atau lebih dibandingkan rata-rata kompetitor.
Dengan posisi tersebut, perusahaan diharapkan memiliki daya saing yang lebih baik, termasuk dalam menawarkan manfaat dan lingkungan kerja yang kompetitif bagi karyawan.
BACA JUGA: Ekspor Lemak dan Minyak Nabati Indonesia Tembus US$29,31 Miliar hingga September 2026
Paparan Agus memperlihatkan bahwa kepemimpinan dalam industri perkebunan tidak hanya berkaitan dengan pencapaian target operasional. Lebih dari itu, pemimpin memiliki tanggung jawab membangun organisasi yang memiliki nilai kuat, karyawan yang terikat dengan perusahaan, serta sistem kerja yang berjalan secara disiplin dan konsisten.
Pada akhirnya, keunggulan organisasi tidak hanya ditentukan oleh seberapa baik strategi dirancang, tetapi juga oleh kemampuan seluruh anggota organisasi menjalankan nilai dan sistem yang telah disepakati bersama. (T2)
