InfoSAWIT, JAKARTA – Produktivitas perkebunan kelapa sawit tidak hanya ditentukan oleh tingginya potensi produksi, tetapi juga oleh ketepatan cara kerja, waktu pelaksanaan, ketersediaan tenaga kerja, hingga sistem panen yang diterapkan di lapangan.
Hal tersebut disampaikan praktisi perkebunan Soemanto Sastro dalam acara IPS Planters Talk 2026 bertajuk “From High Yield Estate to Sustainable Excellence”, yang dihadiri InfoSAWIT, Sabtu (26/9/2026).
Menurut Soemanto, pengelolaan kebun dengan target produksi tinggi harus tetap disesuaikan dengan anggaran yang telah ditetapkan perusahaan. Namun, pencapaian produksi maksimal membutuhkan kombinasi antara metode kerja yang tepat dan waktu pelaksanaan yang disiplin.
BACA JUGA: Petani Sawit Desak Pemerintah Evaluasi B50 dan Libatkan Koperasi dalam Rantai Pasok Biodiesel
“Kalau cara yang tepat akan menentukan kuantitas produksi, sedangkan waktu yang tepat akan menentukan kualitas produksi,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya menjaga rotasi panen agar tetap konsisten. Menurutnya, ketika rotasi panen dapat dijaga sesuai standar, kualitas produksi juga lebih mudah dipertahankan.
Tiga Aspek Akses Produksi
Soemanto menjelaskan, efektivitas operasional kebun antara lain bergantung pada akses terhadap tanaman. Ia menyebut konsep 3A, yakni akses menuju blok atau pokok tanaman yang harus didukung kondisi jalan, jembatan, piringan, dan pasar pikul yang memadai.
BACA JUGA: Pabrik Kelapa Sawit Baru Dibangun di Belinyu, Investasi Diharapkan Buka Lapangan Kerja
Akses yang baik, menurutnya, akan memudahkan pekerjaan pemeliharaan sekaligus memastikan kegiatan panen dapat dilakukan tepat waktu.
Selain akses, kriteria matang panen menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas hasil. Penentuan fraksi matang harus dilakukan berdasarkan standar yang telah ditetapkan perusahaan sehingga buah yang dipanen benar-benar memenuhi kriteria.
“Jangan terlalu banyak berteori. Yang penting bagaimana kita menentukan kriteria matang panen dengan benar,” katanya.
BACA JUGA: Hilirisasi Sawit Terhambat Regulasi, POPSI Dorong Percepatan Pembaruan Aturan Klasifikasi Produk
Persoalan berikutnya adalah menentukan rotasi panen. Soemanto menyebut terdapat perusahaan yang menggunakan rotasi tujuh hari, sementara perusahaan lain menerapkan 10 hari.
Menurutnya, tidak ada satu sistem yang dapat diterapkan secara mutlak untuk seluruh perusahaan. Setiap pilihan memiliki konsekuensi dan harus disesuaikan dengan kondisi kebun, tenaga kerja, serta kemampuan operasional masing-masing.
Sistem Ancak Harus Disesuaikan
Selain rotasi, sistem ancak juga menjadi faktor yang memengaruhi efektivitas panen. Di lapangan terdapat berbagai pendekatan, mulai dari sistem ancak giring, ancak tetap, hingga sistem yang dikombinasikan dengan pengelolaan mandoran.
BACA JUGA: Harga CPO KPBN Inacom Withdraw Pada Jumat (25/9), Perdagangan CPO di Bursa Malaysia Anjlok
Soemanto menilai masing-masing sistem memiliki kelebihan dan kekurangan. Karena itu, manajemen perlu memahami kelemahan dari sistem yang dipilih dan mencari cara untuk menguranginya.
“Tidak ada sistem yang sempurna. Yang penting bagaimana kita mengeliminasi kelemahan dari sistem yang diterapkan,” jelasnya.
Hal serupa berlaku pada sistem premi. Menurut Soemanto, premi seharusnya mampu mendorong peningkatan output sekaligus meningkatkan pendapatan pekerja. Sistem tersebut harus dirancang agar peningkatan produktivitas memberikan insentif yang sepadan.
Namun, sistem premi yang baik tidak akan berjalan efektif apabila faktor pendukungnya tidak tersedia.
Tenaga Kerja dan Peralatan Tidak Bisa Diabaikan
Soemanto mengingatkan perusahaan agar tidak mengabaikan kecukupan tenaga kerja, baik dari sisi jumlah maupun keterampilan. Perencanaan organisasi panen yang ideal akan sulit diwujudkan apabila jumlah tenaga kerja tidak mencukupi.
Peralatan panen juga menjadi bagian yang tidak kalah penting. Menurut dia, masih terdapat perusahaan yang memandang peralatan panen sebagai aspek yang kurang strategis sehingga kualitas alat yang digunakan tidak selalu menjadi prioritas.
