InfoSAWIT, JAKARTA — Para instruktur pelatihan “Paradigma Baru Manajemen Pemupukan, dengan Manajemen Akar & Kanopi” yang digelar oleh ETCAS Consultant dan Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran (Faperta Unpad), dengan dukungan Media Energy World dan InfoSAWIT, pada Jumat (15/8/2025) siang menggelar pembahasan teknis dan pedoman pelaksanaan. Tujuannya jelas: memastikan peserta mampu menguasai dan menerapkan teknik terbaru ini untuk mendongkrak produktivitas minyak sawit dari 3 ton menjadi 7–8 ton per hektar per tahun.
Penyelenggaraan pelatihan ini tak lepas dari tantangan yang dilontarkan Menteri Pertanian, Dr. Ir. Amran Sulaiman, dan Ketua GAPKI, Eddy Martono. Keduanya menargetkan lonjakan produksi minyak sawit nasional menjadi masing-masing 119 juta ton dan 100 juta ton per tahun. Target tersebut dinilai realistis, mengingat potensi produksi mencapai 10–12 ton per hektar atau setara 170–200 juta ton per tahun, tanpa perlu membuka lahan baru.
“Era produktivitas harus dimulai sekarang. Ada peluang besar dari program B100 dan pasar global yang semakin terbuka,” kata pihak penyelenggara dalam sesi pembahasan.
Faperta Unpad menyatakan siap bekerja sama dengan perkebunan besar maupun pekebun rakyat untuk mewujudkan target ambisius ini. Teknologi andalan seperti DRIS (Diagnosis and Recommendation Integrated System) dan Production Force Management berbasis manajemen akar dan kanopi menjadi senjata utama. “Ini adalah kontribusi nyata kami untuk negara,” tegas perwakilan Unpad.
Tidak berhenti di situ, pada 2026 materi pelatihan akan diperluas mencakup pemetaan, penggunaan drone untuk pertanian, serta penanggulangan banjir dan genangan yang kerap menjadi masalah di banyak kebun sawit.
BACA JUGA: Semester I 2025, Kementerian ESDM Lampaui Target Produksi Migas dan Dorong Pemanfaatan Biodiesel
Persiapan materi ditargetkan rampung pada pekan pertama Agustus. Para pakar seperti Prof. Cucu Suherman dan Dr. Mira Ariyanti, (ahli tanaman dan fisiologi sawit), Prof. Rija Sudirman (ahli kesuburan tanah), serta Dr. Memet Hakim (praktisi perkebunan) siap mengawal penuh jalannya pelatihan hingga menghasilkan dampak nyata di lapangan. (T2)
