InfoSAWIT, BALI – Peneliti dari Advance Research Sdn Bhd Malaysia, Wei Chee Wong berdiri di panggung International Conference on Oil Palm and Environment (ICOPE) Series 2025 hari ke 3 yang dihadiri InfoSAWIT, Jumat (14/2/2025) menyampaikan hasil penelitian yang telah ia tekuni bertahun-tahun.
Di hadapan para periset dan praktisi industri sawit yang memenuhi Bali Beach Convention, ia memaparkan temuan terbaru mengenai struktur genetik dan strategi pengendalian Ganoderma—patogen penyebab busuk pangkal batang (BSR) yang selama ini dianggap sebagai penyakit yang mematikan bagi perkebunan kelapa sawit.
Wong, menekankan bahwa pendekatan genetik adalah kunci memahami penyebaran penyakit ini sekaligus mengembangkan varietas kelapa sawit yang lebih tahan infeksi. “Patogen ini bisa bertahan di lingkungan selama bertahun-tahun tanpa menimbulkan infeksi baru, membuatnya sangat sulit dikendalikan,” ujarnya dengan nada serius.
BACA JUGA: IUCN Sebut Konsumen Butuh Transparansi Keterangan Produk Berbahan Baku Ramah Lingkungan
Menurutnya, siklus penyakit Ganoderma membutuhkan waktu sekitar satu tahun untuk menyebar secara signifikan. Timnya telah menganalisis data historis pergerakan patogen dan praktik budidaya untuk memahami struktur populasi Ganoderma. Hasilnya mengejutkan: 99% varian genetik patogen dikategorikan dalam 3 kelompok, dengan beberapa varian baru mulai terdeteksi.
“Keragaman genetik lebih tinggi di perkebunan tua dibandingkan yang baru, menunjukkan bahwa patogen berevolusi seiring waktu dan beradaptasi terhadap lingkungan,” jelas Wong.
Pemodelan Genetik dan Penyebaran Patogen
Lebih jauh, Wong dan timnya melakukan pemodelan genetik untuk mengidentifikasi pola pergerakan patogen antar wilayah geografis. “Simulasi kami menunjukkan bahwa paparan genetik meningkat seiring pergerakan patogen, terutama di daerah dengan riwayat infeksi panjang seperti Sumatera dan Malaysia,” paparnya. Temuan ini diperkuat oleh data lapangan yang mengungkap perbedaan distribusi patogen di blok perkebunan dengan usia tanam berbeda.
BACA JUGA: ICOPE ke-7 Sukses Digelar, Kolaborasi Tiga Pilar Jadi Kunci Wujudkan Sawit Berkelanjutan
Di tengah ancaman ini, Wong menyampaikan harapan baru, bahwa pengembangan ketahanan parsial pada kelapa sawit. Menurutnya, ketahanan parsial lebih berkelanjutan karena mempersulit patogen untuk beradaptasi. “Kami telah melakukan uji coba selama 15 tahun untuk menyeleksi garis induk kelapa sawit yang tahan Ganoderma,” ungkapnya.
Hasil uji coba ini menjanjikan. Material terpilih mampu mengurangi insiden BSR hingga 1,7%. Dalam pengujian lebih lanjut, tim Wong menggunakan isolat patogen dengan tingkat agresivitas berbeda untuk melihat respons tanaman. “Material yang tahan terhadap isolat agresif berpotensi menjadi solusi jangka panjang,” kata Wong optimistis.
Langkah besar lainnya yang diambil tim Wong adalah mengkatalogisasi faktor transkripsi—gen pengatur respons imun—pada kelapa sawit yang terinfeksi Ganoderma. Dengan memahami gen-gen ini, mereka dapat mempercepat proses pemuliaan melalui seleksi berbasis penanda genetik (marker-assisted selection). “Ini bisa menjadi terobosan besar dalam pengembangan varietas unggul yang lebih tahan penyakit,” kata Wong.
BACA JUGA: Mandatori Biodiesel B40 Akan Diterapkan Maret 2025
Ke depan, Advance Research Sdn Bhd berencana memvalidasi temuan ini di lebih banyak lokasi serta mengintegrasikan data genetik dengan praktik budidaya berkelanjutan. “Tujuan akhir kami adalah menyediakan varietas unggul yang tidak hanya tahan penyakit, tetapi juga mendukung produktivitas dan keberlanjutan industri sawit,” pungkasnya.
Penelitian ini memberikan secercah harapan bagi industri kelapa sawit Malaysia dan wilayah lain yang menghadapi ancaman Ganoderma. Dengan pendekatan genetik yang terarah, petani dan perusahaan perkebunan diharapkan dapat mengurangi kerugian ekonomi sekaligus meningkatkan ketahanan ekosistem sawit terhadap perubahan iklim dan patogen emerging. Kolaborasi antara peneliti, pemerintah, dan pelaku industri menjadi kunci dalam mengakselerasi adopsi inovasi ini di lapangan. (T2)
