InfoSAWIT, JAKARTA – Kapasitas industri oleokimia global terus bertambah, tetapi pasar tak tumbuh secepat itu. Di tengah pasokan yang melimpah dan bahan baku yang kian sulit diakses, pertanyaan lama kembali mengemuka, siapa sebenarnya yang menikmati nilai dari rantai panjang industri ini?
Ada kegelisahan yang mengendap di balik angka-angka industri oleokimia global. Samuel Chevigny dari HBI Group merumuskannya dalam satu pertanyaan sederhana namun tajam, ketika kapasitas tumbuh lebih cepat daripada akses pasar, ke mana nilai akan mengalir? Pertanyaan ini bukan sekadar refleksi akademik, melainkan potret nyata dari dinamika industri yang tengah bergeser—pelan, tetapi pasti.
Asia sebagai Pusat Gravitasi Baru
Dalam beberapa tahun terakhir, kapasitas produksi asam lemak dan alkohol lemak terus bertambah, terutama di Asia. Indonesia dan Malaysia, dua raksasa berbasis sawit, semakin mengukuhkan posisi sebagai pusat produksi dunia. Data menunjukkan bahwa produksi asam lemak Indonesia saja diproyeksikan mencapai lebih dari 3,7 juta ton pada 2026, jauh melampaui kawasan lain.
BACA JUGA: Petani Sawit Kotawaringin Barat Berjuang Bangun Pabrik Sawit, Investasi Capai Rp250 Miliar
Namun pertumbuhan ini tidak berdiri sendiri. Ia datang bersamaan dengan pengetatan perdagangan global—tarif, regulasi keberlanjutan, hingga kebijakan anti-dumping di Eropa. Akibatnya, volume yang tak terserap pasar Barat beralih ke Asia. Kompetisi pun meningkat, bukan lagi antar kawasan, melainkan antar produsen di wilayah yang sama.
Di titik inilah paradoks muncul, kapasitas bertambah, tetapi margin justru tergerus. (T2)
