InfoSAWIT, NEW DELHI – Kebijakan Indonesia yang memperketat ekspor sejumlah produk turunan kelapa sawit dinilai bukan sekadar dinamika perdagangan global, tetapi juga menjadi momentum bagi India untuk mempercepat program swasembada minyak nabati. Di tengah potensi perubahan arus pasokan dunia, India melihat peluang untuk memperkuat produksi domestik sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor minyak sawit.
Dilansir InfoSAWIT dari Fortune India, Jumat (31/7/2026), langkah Indonesia mempertahankan larangan ekspor Palm Oil Mill Effluent (POME) dan Crude Used Cooking Oil (UCO) dilakukan untuk memastikan ketersediaan bahan baku bagi pengembangan program biodiesel dan Sustainable Aviation Fuel (SAF) di dalam negeri.
Selain itu, Indonesia juga disebut tengah merencanakan sentralisasi ekspor sejumlah komoditas strategis, termasuk minyak sawit mentah (CPO), melalui badan usaha milik negara yang ditunjuk. Kebijakan tersebut dinilai mencerminkan meningkatnya peran pemerintah dalam pengelolaan ekspor komoditas strategis yang berpotensi memengaruhi stabilitas pasokan global.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Sumut Periode 29 Juli – 4 Agustus 2026 Turun Tipis
Bagi India, perubahan tersebut justru dipandang sebagai dorongan untuk mempercepat pengembangan industri kelapa sawit nasional agar lebih mandiri dalam memenuhi kebutuhan minyak nabati yang digunakan secara luas, mulai dari industri makanan hingga produk perawatan rumah tangga.
Pemerintah India sebenarnya telah meluncurkan National Mission on Edible Oils–Oil Palm (NMEO-OP) pada 2021 dengan target memperluas areal perkebunan kelapa sawit hingga 650 ribu hektare pada tahun fiskal 2025–2026.
Meski sejumlah pengamat menilai implementasi program tersebut belum sepenuhnya sesuai target, hingga Maret 2026 luas perkebunan sawit India telah mencapai sekitar 640 ribu hektare, atau hampir memenuhi sasaran pemerintah.
BACA JUGA: Mendorong Kemandirian Ekonomi Masyarakat, Bumitama Raih Medbun Awards 2026
Seiring semakin banyak tanaman memasuki usia produktif, produksi minyak sawit domestik diperkirakan meningkat pesat. Output nasional diproyeksikan mencapai sekitar 1,5 juta ton pada 2030–2031, atau hampir tiga kali lipat dibandingkan produksi saat ini.
Fortune India juga menepis anggapan bahwa kondisi iklim India tidak cocok untuk pengembangan kelapa sawit. Menurut media tersebut, meskipun tidak seluruh wilayah India berada di kawasan tropis ekuator, sejumlah daerah di bagian selatan memiliki kondisi agroklimat yang sesuai apabila didukung sistem irigasi dan praktik budidaya yang baik.
Hal itu tercermin dari keberhasilan Andhra Pradesh dan Telangana, dua negara bagian yang kini menyumbang sekitar 98 persen produksi minyak sawit India.
BACA JUGA: Audit GACC di Riau Perkuat Peluang Ekspor Sawit Indonesia ke Tiongkok
Keberhasilan tersebut juga berdampak terhadap peningkatan kesejahteraan petani. Sejumlah petani di Andhra Pradesh dilaporkan mampu meningkatkan pendapatan hingga tiga kali lipat setelah beralih ke budidaya kelapa sawit.
Selain mengejar ketahanan pangan, India juga menempatkan aspek keberlanjutan sebagai bagian dari strategi pengembangan sawit nasional. Perkebunan baru dikembangkan di lahan terdegradasi atau lahan pertanian yang sebelumnya ditanami komoditas dengan nilai ekonomi lebih rendah, sehingga tidak mendorong pembukaan kawasan hutan.
Kelapa sawit juga dinilai sebagai salah satu tanaman penghasil minyak nabati paling efisien karena mampu menghasilkan minyak lebih banyak per hektare dibandingkan tanaman minyak lainnya seperti kedelai maupun bunga matahari.
