InfoSAWIT, KUALA LUMPUR – Penerapan European Union Deforestation Regulation (EUDR) mulai 30 Desember tahun ini membuka peluang sekaligus tantangan baru bagi industri kelapa sawit Malaysia. Di tengah pasar Uni Eropa yang semakin kecil, tuntutan terhadap ketertelusuran produk berpotensi menguntungkan perusahaan yang mampu memenuhi standar keberlanjutan, tetapi menekan produsen yang belum memiliki sistem pelacakan memadai.
Dilansir InfoSAWIT dari UOB Kay Hian (UOBKH) Research, Senin (14/9/2026), Malaysia dinilai memiliki posisi yang relatif strategis menghadapi penerapan regulasi tersebut. Salah satu faktor pendukungnya adalah skema sertifikasi Malaysian Sustainable Palm Oil (MSPO) yang disebut sebagai satu-satunya skema nasional yang secara formal telah diakui Uni Eropa.
Pengakuan tersebut berpotensi menjadi keunggulan bagi perusahaan perkebunan Malaysia untuk mempertahankan bahkan meningkatkan pangsa pasar sawit di Eropa. Peluang terutama terbuka pada sektor pangan dan oleokimia yang semakin membutuhkan bukti ketertelusuran dan kepatuhan terhadap standar keberlanjutan.
BACA JUGA: PTPN IV PalmCo Perkuat Kemitraan Petani Sawit, Dorong Percepatan PSR dan Produktivitas
Namun, keuntungan tersebut datang bersamaan dengan konsekuensi kepatuhan yang lebih besar.
Sawit Malaysia Masih Berstatus Risiko Standar
UOBKH Research mencatat Malaysia masih berada dalam klasifikasi “standard risk” dalam kerangka EUDR. Status tersebut membuat komoditas asal Malaysia dikenai pemeriksaan kepatuhan tahunan sebesar 3 persen.
Kondisi ini menimbulkan tambahan biaya dan pengawasan dibandingkan negara yang memperoleh status “low risk”. Bagi pelaku usaha sawit, kemampuan memenuhi persyaratan ketertelusuran menjadi semakin penting untuk menjaga kelancaran akses pasar.
BACA JUGA: SPKS Khawatir Kebijakan Ekspor Sawit Satu Pintu Tekan Harga TBS Petani
Di sisi lain, pasar sawit Uni Eropa sendiri telah mengalami penyusutan. Impor minyak sawit EU tercatat sekitar 2,85 juta ton pada 2025/2026, turun 5 persen dibandingkan periode sebelumnya.
Penurunan tersebut terutama dipengaruhi kebijakan pengecualian sawit dari sektor bahan bakar nabati, bukan semata-mata akibat penerapan EUDR.
Dengan pasar yang semakin terbatas tetapi pengawasannya semakin ketat, minyak sawit Malaysia yang memenuhi persyaratan ketertelusuran berpeluang memperoleh premi harga.
Perusahaan Besar Dinilai Lebih Siap
Situasi tersebut diperkirakan memberikan keuntungan lebih besar kepada perusahaan perkebunan yang telah memiliki sistem produksi dan rantai pasok terintegrasi.
Perusahaan besar seperti SD Guthrie Berhad, Kuala Lumpur Kepong Berhad (KLK), dan IOI Corporation Berhad dinilai memiliki posisi lebih baik untuk memenuhi berbagai persyaratan EUDR.
UOBKH Research menilai perusahaan perkebunan terintegrasi dengan kemampuan ketertelusuran yang kuat akan lebih mudah menyerap tuntutan kepatuhan. Sebaliknya, produsen kecil yang memiliki sistem ketertelusuran terbatas berpotensi menghadapi kesulitan lebih besar untuk mempertahankan akses ke pasar Eropa.
BACA JUGA: Menteri PPPA: Pedoman Gender di Sektor Sawit Bukan untuk Persulit Perusahaan
Kondisi tersebut pada akhirnya dapat mengubah struktur persaingan industri sawit Malaysia. Pasokan yang mampu memenuhi standar keberlanjutan berpeluang mendapatkan akses pasar dan premi lebih baik, sementara pasokan yang tidak memenuhi ketentuan berisiko semakin terdesak.
Sistem Ketertelusuran Jadi Kunci
Malaysia kini mengandalkan National Traceability System sebagai bagian penting dari strategi menghadapi tuntutan pasar global.
Sistem tersebut mengintegrasikan e-MSPO, GeoSAWIT, dan SIMS untuk memperkuat kemampuan negara dalam melacak rantai pasok sawit. Menurut UOBKH Research, penguatan sistem ketertelusuran tersebut menjadi salah satu fondasi bagi Malaysia untuk mengejar status risiko yang lebih rendah di masa mendatang.
BACA JUGA: Inpres Karhutla Disorot, Sawit Watch Nilai Perlindungan Buruh Sawit Terabaikan
Dampaknya juga berpotensi melampaui pasar Eropa.
Standar verifikasi yang semakin ketat dapat diadopsi oleh pembeli sawit di sejumlah pasar Asia, termasuk Jepang, Korea Selatan, dan China. Jika tren tersebut berkembang, produk sawit Malaysia yang telah memenuhi persyaratan ketertelusuran dapat memperoleh premi pasar yang lebih luas.
Sebaliknya, pasokan yang tidak memenuhi standar, terutama dari kalangan pekebun kecil, berisiko kehilangan daya saing.
