InfoSAWIT, JAKARTA – Nigeria, yang pernah menjadi produsen minyak sawit terbesar dunia dengan pangsa mencapai 43% pasokan global, kini justru bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan domestiknya. Kondisi tersebut menjadi gambaran bagaimana minimnya investasi, lemahnya inovasi, dan tidak konsistennya kebijakan telah menggerus daya saing industri sawit negara di Afrika Barat tersebut.
Dilansir InfoSAWIT dari Business Day, Minggu (2/8/2026), Nigeria saat ini hanya menyumbang sekitar 2% produksi minyak sawit dunia. Padahal, komoditas tersebut merupakan bahan baku utama bagi industri pangan, pengolahan makanan, hingga manufaktur di negara berpenduduk terbesar di Afrika tersebut.
Presiden National Oil Palm Growers Association of Nigeria (OPGAN), Joe Onyiuke, mengungkapkan bahwa penurunan produksi nasional terjadi akibat kurangnya dukungan terhadap sektor perkebunan, mulai dari inovasi teknologi, pembiayaan, hingga program peremajaan tanaman.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Sumut Periode 29 Juli – 4 Agustus 2026 Turun Tipis
“Kami pernah menguasai sekitar 43 persen pasokan crude palm oil dunia, tetapi sekarang hanya mampu menghasilkan sekitar dua persen,” ujar Onyiuke.
Berbeda dengan Nigeria, Malaysia justru berhasil menjadikan kelapa sawit sebagai salah satu tulang punggung perekonomian nasional. Negara tersebut mengembangkan industri sawit melalui kebijakan yang terarah, investasi berkelanjutan, serta penguatan riset dan hilirisasi.
Secara historis, bibit kelapa sawit memang berasal dari Afrika Barat. Pada era kolonial Inggris sekitar 1870-an, material tanaman tersebut dibawa ke Malaysia. Sejak dekade 1960-an, Malaysia berhasil melampaui Nigeria sebagai eksportir minyak sawit terbesar sebelum akhirnya Indonesia mengambil posisi teratas di pasar global.
Saat ini Malaysia menjadi produsen dan eksportir minyak sawit terbesar kedua di dunia setelah Indonesia. Sepanjang 2025, negara tersebut memproduksi sekitar 20,28 juta ton minyak sawit dan mengekspornya ke lebih dari 150 negara.
Industri sawit Malaysia juga menjadi penyerap tenaga kerja yang signifikan dengan sekitar tiga juta pekerja serta memberikan kontribusi sekitar 3% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Berdasarkan data Malaysia Palm Oil Council (MPOC), sektor ini menghasilkan devisa ekspor sekitar US$27,5 miliar sepanjang 2025.
Keberhasilan tersebut didukung oleh program peremajaan tanaman, investasi riset yang berkesinambungan, pembangunan pabrik pengolahan terintegrasi, hingga pelibatan pekebun swadaya dalam rantai pasok industri.
BACA JUGA: Mendorong Kemandirian Ekonomi Masyarakat, Bumitama Raih Medbun Awards 2026
Sementara itu, kondisi di Nigeria menunjukkan kesenjangan yang semakin lebar antara produksi dan konsumsi. Kebutuhan minyak sawit nasional diperkirakan mencapai 2,7 juta ton per tahun, sedangkan produksi domestik baru sekitar 1,5 juta ton. Kekurangan pasokan tersebut memaksa pelaku industri mengimpor minyak sawit dari Indonesia, Malaysia, dan sejumlah negara produsen lainnya.
Data UN Comtrade mencatat Nigeria menghabiskan sekitar US$155 juta untuk impor minyak sawit selama 2024. Nilai impor tersebut dinilai turut membebani devisa negara sekaligus memperbesar tekanan terhadap inflasi pangan.
Menurut Onyiuke, meski terdapat peningkatan investasi pada fasilitas pengolahan dalam beberapa tahun terakhir, pertumbuhan produksi nasional masih berjalan lambat. Ia menilai lemahnya adopsi teknologi, keterbatasan akses pembiayaan, kebijakan yang berubah-ubah, serta belum adanya program replanting nasional menjadi hambatan utama pengembangan industri sawit Nigeria.
