Pandangan serupa disampaikan Wakil Presiden National Association of Chambers of Commerce, Industry, Mines and Agriculture (NACCIMA), David Iweta. Menurutnya, Nigeria memiliki peluang besar untuk mengurangi ketergantungan impor crude palm oil (CPO) sekaligus memperkuat sektor ekspor nonmigas apabila mampu membangun industri sawit yang lebih kompetitif.
Ia menilai pengalaman Malaysia layak dijadikan referensi, terutama dalam membangun kebijakan jangka panjang, memperkuat investasi, mendorong inovasi, serta menciptakan sistem industri yang terintegrasi.
“Malaysia berhasil membangun industri minyak sawit yang kompetitif secara global melalui kebijakan yang terarah, investasi besar, dan inovasi. Nigeria dapat mengambil banyak pelajaran dari pengalaman tersebut,” kata Iweta dalam forum Malaysia Market Connect di Lagos.
BACA JUGA: Petani Sawit Tanam 5 Ribu Pohon, Fortasbi dan Pesatri Bangun Benteng Hijau Aceh Tamiang
Keberhasilan Malaysia juga ditopang oleh pembangunan sistem keberlanjutan, ketertelusuran produk (traceability), promosi pasar internasional, serta pengembangan industri hilir bernilai tambah seperti oleokimia, bioenergi, hingga manufaktur berbasis sawit.
Meski demikian, para pakar menilai Nigeria tidak dapat sepenuhnya menyalin model Malaysia. Strategi pengembangan industri sawit harus disesuaikan dengan kondisi geografis, sosial, dan ekonomi negara tersebut agar mampu bersaing di pasar global.
Saat ini sekitar 80% produksi sawit Nigeria masih berasal dari pekebun kecil yang memanen tanaman semi-liar dengan teknologi pengolahan yang sederhana. Padahal, kawasan sabuk sawit Nigeria membentang di 24 negara bagian, termasuk seluruh wilayah Delta Niger dan kawasan tenggara, yang menyimpan potensi besar untuk dikembangkan.
Sejumlah ahli memperkirakan Nigeria membutuhkan sekitar tiga juta hektare perkebunan sawit produktif agar mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri secara mandiri. Tanpa investasi yang memadai pada riset, peremajaan tanaman, peningkatan kapasitas pengolahan, akses pembiayaan berbiaya rendah, serta penguatan rantai pemasaran, Nigeria diperkirakan akan tetap menjadi negara pengimpor bersih komoditas yang dahulu pernah menjadikannya pemimpin pasar dunia. (T2)
