InfoSAWIT, BOGOR – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan pemerintah tidak akan tinggal diam ketika menemukan praktik yang berpotensi merugikan petani sawit. Menurutnya, gejolak harga tandan buah segar (TBS) yang sempat terjadi beberapa waktu lalu merupakan anomali yang tidak sejalan dengan kondisi pasar global.
Pernyataan tersebut disampaikan Mentan Amran saat menjawab pertanyaan mahasiswa dalam kegiatan Ministerial and Top Executive Lecture Series yang menjadi bagian dari rangkaian Dies Natalis ke-25 Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) IPB University, di Auditorium Andi Hakim Nasution, Kampus IPB Dramaga, Bogor, Kamis lalu.
Dialog tersebut bermula dari pertanyaan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) IPB, Abdul Aziz, yang mengapresiasi keberhasilan pemerintah mempercepat target swasembada pangan nasional. Menurut Aziz, capaian tersebut menjadi prestasi tersendiri di tengah krisis pangan dan ketidakpastian geopolitik global.
BACA JUGA: Akankah Monopoli Ekspor Memicu Keruntuhan Industri Sawit?
“Saya bangga dengan Bapak. Bapak menjanjikan swasembada pangan dalam empat tahun, tetapi dalam waktu sekitar satu tahun sudah bisa tercapai. Di tengah berbagai krisis pangan dan geopolitik global, ini tentu menjadi capaian yang luar biasa,” ujar Aziz, dilansir InfoSAWIT dari IPB University, Selasa (16/6/2026)
Selain menanyakan strategi menjaga keberlanjutan surplus beras nasional, Aziz juga menyoroti fenomena penurunan harga TBS yang sempat dikeluhkan petani sawit di berbagai daerah.
Menanggapi hal itu, Mentan Amran menjelaskan bahwa sektor pangan Indonesia saat ini menunjukkan perkembangan positif. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi beras nasional mencapai sekitar 34,6 juta ton, sementara stok beras nasional berada di kisaran 5,3 juta ton, tertinggi sejak Indonesia merdeka.
BACA JUGA: Akankah Monopoli Ekspor Memicu Keruntuhan Industri Sawit?
“Kita janji empat tahun, alhamdulillah bisa lebih cepat. Tetapi ini bukan karena saya. Ini hasil kerja keras semua pihak, mulai dari petani, akademisi, pemerintah daerah, hingga seluruh rakyat Indonesia,” kata Amran.
Ia juga menyebut sektor pertanian mencatat pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) tertinggi dalam 25 tahun terakhir.
“Alhamdulillah, Indonesia saat ini menjadi salah satu rujukan dunia dalam sektor pangan. Tantangannya memang berat, tetapi kita mampu membuktikan bahwa Indonesia bisa menjaga ketahanan pangannya,” ujarnya.
BACA JUGA: Pendaftaran Beasiswa SDM Sawit 2026 Tinggal Sepekan, Kuota 5.000 Mahasiswa Segera Terisi
Namun perhatian pemerintah, lanjut Amran, tidak hanya tertuju pada sektor pangan. Persoalan harga TBS sawit juga menjadi fokus utama setelah banyak laporan yang masuk terkait turunnya harga di tingkat petani.
Amran mengaku menerima berbagai keluhan petani sawit saat menjalankan ibadah haji di Tanah Suci. Bahkan, saat berada di Masjidil Haram, dirinya berdialog langsung dengan sejumlah petani yang menyampaikan keresahan mereka terhadap anjloknya harga TBS.
“Saya sedang di Tanah Suci ketika mendapat laporan soal harga TBS yang turun. Begitu selesai ibadah, saya mendapat telepon dari Presiden. Beliau meminta agar persoalan ini segera diselesaikan karena menyangkut kehidupan jutaan petani sawit Indonesia,” ungkapnya.
