InfoSAWIT, JAKARTA – Peningkatan rendemen minyak sawit tidak bisa hanya dibebankan kepada pabrik kelapa sawit (PKS). Kualitas tandan buah segar (TBS) yang diterima, kedisiplinan sortasi, serta pengendalian proses pengolahan turut menentukan seberapa besar minyak yang berhasil diperoleh dari bahan baku.
Pakar pabrik kelapa sawit sekaligus Direktur PT Mitra Agro Servindo, Bonar Saragih, menekankan pentingnya melihat kinerja pabrik secara menyeluruh dalam IPS Planter Talk Series #4 bertajuk “Building a High Extraction, Low Loss and Reliable Palm Oil”, dihadiri InfoSAWIT, Selasa (27/10/2026).
Dalam paparannya, Bonar menyebut kualitas bahan baku sebagai salah satu faktor utama yang memengaruhi rendemen. Berdasarkan pengalaman konsultasinya di sejumlah pabrik, ia memperkirakan sekitar 80% pencapaian rendemen berkaitan dengan kondisi bahan baku, sedangkan 20% lainnya dipengaruhi proses pengolahan di pabrik.
BACA JUGA: Pemerintah Percepat PSN Sawit, Legalitas Kebun Rakyat dan Kemitraan Jadi Prioritas
Angka tersebut merupakan estimasi berdasarkan pengalaman praktis yang disampaikan Bonar, bukan hasil penelitian terkontrol yang dipaparkan dalam forum.
Ia menjelaskan, buah mentah dapat menurunkan potensi perolehan minyak secara signifikan. Karena itu, pengawasan kualitas TBS harus dilakukan sejak proses pembelian hingga buah masuk ke jalur pengolahan.
“Kalau buahnya semakin buruk, rendemen juga akan terpengaruh,” menjadi salah satu pokok penekanan dalam paparannya.
BACA JUGA: BPDP dan Ditjenbun Bersama PT CWE Melatih 167 Petani Sawit Bengkulu Membuat Pupuk Organik
Sortasi TBS Menjadi Titik Penting
Bonar menyoroti praktik penerimaan TBS dari pihak eksternal atau buah pembelian yang memerlukan pengawasan ketat. Menurutnya, sistem sortasi harus didukung tenaga kerja yang memadai, parameter penilaian yang jelas, serta prosedur yang dijalankan secara konsisten.
Ia mengingatkan bahwa pengawasan tidak cukup hanya mengandalkan perkiraan atau penilaian subjektif petugas. Perusahaan perlu menetapkan standar penerimaan buah, memberikan pelatihan kepada petugas sortasi, dan memastikan hasil pemeriksaan dapat dipertanggungjawabkan.
Bonar juga menyinggung risiko penyimpangan dalam proses penerimaan buah. Karena itu, pengelola pabrik perlu memperkuat sistem pengawasan, dokumentasi, dan pengendalian internal agar keputusan penerimaan TBS tetap mengacu pada standar perusahaan.
Selain kualitas bahan baku, waktu tunggu TBS sebelum diolah juga perlu diperhatikan. Dalam paparannya, ia menekankan pentingnya pengendalian waktu penerimaan hingga pengolahan, dengan target agar buah tidak terlalu lama menunggu sebelum masuk proses produksi.
Pengaturan tersebut perlu disesuaikan dengan kapasitas pabrik, kondisi bahan baku, serta sistem pengangkutan dan antrean kendaraan.
Pengendalian Kehilangan Minyak Perlu Berbasis Data
Selain rendemen, Bonar menyoroti pentingnya pengendalian kehilangan minyak atau oil losses pada berbagai tahapan pengolahan.
BACA JUGA: Pakistan-AS Bahas Perjanjian Dagang, Peluang Ekspor Pertanian dan Produk Sawit Jadi Perhatian
Menurutnya, pengelola PKS perlu memahami titik-titik kehilangan minyak melalui pengukuran yang konsisten. Pemeriksaan laboratorium, pemantauan kualitas hasil olahan, dan evaluasi parameter proses dapat membantu perusahaan mengetahui sumber kehilangan minyak yang perlu diperbaiki.
Ia juga menyinggung pentingnya memperhatikan kandungan minyak dalam limbah cair. Apabila kandungan minyak yang masih terbawa limbah terlalu tinggi, perusahaan perlu mengevaluasi proses pemisahan dan pemulihan minyak yang diterapkan.
Dalam konteks tersebut, data operasional tidak boleh hanya menjadi laporan administratif. Hasil pengukuran perlu digunakan sebagai dasar untuk menentukan tindakan korektif, mengevaluasi efektivitas perbaikan, dan membandingkan kinerja antar periode.
BACA JUGA: Margin Keuntungan Kedelai Brasil Diproyeksi Meningkat pada 2026/2027, Petani AS Tertekan
Bonar turut mengingatkan bahwa peningkatan rendemen tidak seharusnya dilakukan dengan mengorbankan kualitas produk. Setiap perubahan parameter proses perlu diuji dan dihitung dampaknya terhadap hasil akhir, penggunaan energi, serta biaya operasional.
Menurut dia, peningkatan rendemen harus berjalan seiring dengan pengendalian kualitas CPO dan efisiensi pengolahan.
Dengan memperbaiki kualitas TBS, memperkuat sortasi, dan mengendalikan kehilangan minyak berdasarkan data, perusahaan memiliki peluang meningkatkan nilai minyak yang dihasilkan tanpa semata-mata mengandalkan penambahan volume bahan baku.
BACA JUGA: Karhutla Sumsel Tak Cukup Diatasi dengan Pemadaman, Tata Kelola Gambut Jadi Kunci
Upaya tersebut menjadi bagian penting dalam membangun pabrik kelapa sawit yang efisien, andal, dan mampu menjaga daya saing di tengah tuntutan peningkatan produktivitas industri sawit. (T2)
