InfoSAWIT, MUSI BANYUASIN – Koperasi perkebunan didorong tidak lagi hanya berperan sebagai kelembagaan ekonomi petani, tetapi berkembang menjadi pelaku utama dalam rantai hilirisasi kelapa sawit. Salah satu langkah yang ditawarkan adalah mendorong koperasi memiliki dan mengelola pabrik crude palm oil (CPO) guna meningkatkan nilai tambah sekaligus memperkuat posisi tawar petani.
Dilansir InfoSAWIT dari Antara, Kamis (13/8/2026), Menteri Koperasi Ferry Juliantono mengatakan percepatan hilirisasi sawit berbasis koperasi membutuhkan kolaborasi berbagai pihak. Salah satu pihak yang dinilai memiliki peran strategis adalah PT Agrinas Palma Nusantara (Persero), yang mendapat mandat pemerintah mengelola lahan sawit hasil penertiban Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH).
Dorongan tersebut disampaikan Ferry dalam Seminar Nasional “Optimalisasi dan Hilirisasi Sawit Berbasis Koperasi” di Kantor Bupati Musi Banyuasin.
BACA JUGA: Ekspor Satu Pintu DSI Dinilai Belum Matang, Petani Sawit Swadaya Berisiko Terpinggirkan
Menurut Ferry, koperasi yang masih aktif dan berada di sekitar kawasan perkebunan sawit memiliki peluang besar untuk memperkuat rantai pasok sekaligus mengambil bagian lebih jauh dalam kegiatan pengolahan hasil perkebunan.
“Koperasi didorong agar dapat mendirikan pabrik-pabrik CPO sendiri sehingga kebutuhan minyak goreng dan produk turunannya dapat dipenuhi secara mandiri oleh koperasi,” ujarnya.
2.587 Koperasi Perkebunan Jadi Basis Hilirisasi
Ferry menilai pengembangan hilirisasi melalui koperasi dapat memberikan dampak lebih besar terhadap petani. Dengan memiliki fasilitas pengolahan, koperasi berpotensi memperoleh nilai tambah dari hasil produksi anggotanya dan pada saat yang sama meningkatkan posisi tawar dalam rantai industri sawit.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Swadaya Riau Periode 12-18 Agustus 2026 Turun Rp61,74 per Kg
Kementerian Koperasi mencatat terdapat 2.587 koperasi yang bergerak di sektor perkebunan. Jumlah tersebut dinilai dapat menjadi basis untuk mengembangkan model hilirisasi berbasis koperasi di berbagai sentra perkebunan.
Menurut Ferry, pengembangan sektor hilir membutuhkan strategi dan instrumen baru untuk meningkatkan produktivitas perkebunan rakyat. Salah satu pendekatan yang ditawarkan adalah mengonsolidasikan petani sawit ke dalam badan usaha koperasi sehingga kegiatan ekonomi dapat dikelola dengan skala yang lebih kuat.
Setidaknya terdapat dua model bisnis yang dapat ditempuh. Pertama, memperkuat koperasi perkebunan yang telah berjalan. Kedua, mengonsolidasikan koperasi primer melalui badan usaha dengan skala yang lebih besar.
BACA JUGA: Vision AI Mulai Digunakan untuk Pantau Perkebunan Sawit dari Pembibitan hingga Panen
Aspek pembiayaan juga menjadi perhatian. Ferry mengatakan koperasi perkebunan dapat memanfaatkan dukungan pembiayaan dari Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) Koperasi untuk mengembangkan usaha, termasuk masuk ke sektor pengolahan.
Salah satu contoh yang disebut adalah Koperasi Mandiri Makmur yang telah mendapatkan pembiayaan LPDB Koperasi untuk pembangunan pabrik CPO. Pembangunan fasilitas tersebut kini telah mencapai sekitar 45 persen.
Agrinas Palma Gandeng Koperasi
Sementara itu, Direktur Utama PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) Mohammad Abdul Ghani mengatakan perusahaan akan memprioritaskan koperasi yang berada di sekitar lahan yang dikelolanya untuk menjadi mitra dalam kegiatan perkebunan.
BACA JUGA: Gajah Sumatera Ditemukan Mati di Perkebunan Sawit Aceh Tamiang, BKSDA Sebut Diduga Keracunan
Koperasi dapat dilibatkan dalam berbagai pekerjaan, mulai dari pemeliharaan tanaman, panen hingga kegiatan operasional perkebunan lainnya.
Abdul Ghani menjelaskan, dari total lahan yang dititipkan kepada Agrinas Palma, terdapat kewajiban mengalokasikan sedikitnya 20 persen sebagai plasma untuk rakyat. Untuk menjalankan skema tersebut, perusahaan akan menggandeng koperasi sebagai salah satu mitra pengelolaan.
“Kami akan utamakan koperasi di sekitar lahan sebagai vendor pemelihara tanaman, panen, dan kegiatan lainnya. Dengan luasnya area yang kami kelola, koperasi menjadi mitra utama dalam mendukung hilirisasi sawit sekaligus ketahanan pangan,” ujarnya. (T2)
