InfoSAWIT, SEMARANG – Limbah tandan kosong kelapa sawit (TKKS) yang selama ini menjadi bagian dari persoalan pengelolaan biomassa industri justru dilihat sebagai peluang bisnis oleh mahasiswa Sekolah Vokasi Universitas Diponegoro (UNDIP). Melalui inovasi pakan ternak berbasis TKKS, tim mahasiswa UNDIP berhasil meraih Gold Medal kategori Business Plan dalam Olimpiade Vokasi Indonesia (OLIVIA) XI 2026.
Dilansir InfoSAWIT dari UNDIP, Rabu (12/8/2026), prestasi tersebut diraih dalam ajang OLIVIA XI 2026 yang berlangsung di Universitas Negeri Surabaya pada 2–4 Agustus 2026. Inovasi yang diusung bernama SUWIIT (Smart Livestock Integrated Technology), sebuah konsep yang menggabungkan produk pakan ternak berbasis biomassa sawit dengan layanan digital peternakan.
Tim SUWIIT dipimpin Luis Ibanez Sitinjak bersama Kholis Na’imah dan Irgy Khoiroel Al Fahrezi dari Program Studi Sarjana Terapan Teknologi Rekayasa Kimia Industri (TRKI) Sekolah Vokasi UNDIP.
BACA JUGA: Ekspor Satu Pintu DSI Dinilai Belum Matang, Petani Sawit Swadaya Berisiko Terpinggirkan
Di hadapan dewan juri yang berasal dari kalangan akademisi, praktisi industri, pelaku bisnis hingga instansi pemerintah, ketiga mahasiswa tersebut menawarkan solusi yang berangkat dari persoalan nyata di daerah asal mereka di Sumatra.
Kawasan perkebunan kelapa sawit tidak hanya menghasilkan minyak sawit mentah, tetapi juga menyisakan biomassa dalam jumlah besar. Salah satunya TKKS yang membutuhkan pengelolaan agar dapat memberikan nilai tambah lebih tinggi.
Pada saat yang sama, sektor peternakan menghadapi persoalan lain berupa tingginya biaya pakan yang menjadi salah satu komponen utama biaya produksi. Dua persoalan tersebut kemudian dipertemukan dalam konsep SUWIIT.
BACA JUGA: Gajah Sumatera Ditemukan Mati di Perkebunan Sawit Aceh Tamiang, BKSDA Sebut Diduga Keracunan
TKKS Diolah Menjadi Pakan Bernilai Tambah
Melalui inovasi tersebut, TKKS diolah menjadi bahan dasar pakan ternak nutrasetikal. Tim mahasiswa UNDIP memanfaatkan proses fermentasi yang diperkaya probiotik, mineral, serta imunostimulan alami untuk meningkatkan nilai nutrisi bahan tersebut.
Konsep itu menjadikan biomassa sawit yang sebelumnya kurang bernilai sebagai bahan baku produk pakan yang dapat dimanfaatkan sektor peternakan.
Pakan yang dikembangkan dirancang untuk mendukung kesehatan sistem pencernaan, meningkatkan daya tahan tubuh, sekaligus menunjang pertumbuhan ternak. Dengan demikian, SUWIIT tidak sekadar menawarkan pemanfaatan limbah, tetapi juga mencoba membangun rantai nilai baru yang menghubungkan industri sawit dengan sektor peternakan.
BACA JUGA: Vision AI Mulai Digunakan untuk Pantau Perkebunan Sawit dari Pembibitan hingga Panen
Gagasan tersebut sejalan dengan prinsip ekonomi sirkular, yakni mengupayakan agar material sisa dari suatu proses produksi dapat kembali dimanfaatkan dan menghasilkan nilai ekonomi baru.
Dilengkapi Platform Digital Berbasis AI
Keunggulan SUWIIT tidak berhenti pada produk pakan. Tim mahasiswa UNDIP juga mengembangkan Smart Livestock Assistance, sebuah platform digital yang dirancang menjadi pendamping bagi peternak.
Melalui aplikasi tersebut, peternak dapat memantau kondisi kesehatan hewan, memperoleh akses konsultasi dengan dokter hewan, serta mendapatkan rekomendasi perawatan secara otomatis dengan dukungan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
