Platform tersebut juga dilengkapi fitur edukasi interaktif dan marketplace kebutuhan peternakan. Integrasi berbagai layanan itu diharapkan dapat membantu peternak memperoleh informasi, layanan kesehatan hewan, kebutuhan operasional hingga akses pasar dalam satu ekosistem digital.
Model bisnis tersebut menjadi salah satu kekuatan SUWIIT karena menggabungkan inovasi produk dengan digitalisasi layanan peternakan.
Berdasarkan perhitungan awal tim, penerapan konsep SUWIIT diproyeksikan mampu menekan biaya pakan sekitar 20–40 persen. Selain itu, produktivitas ternak diperkirakan dapat meningkat 20–40 persen, sementara tingkat kematian ternak berpotensi ditekan sekitar 10–20 persen.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Swadaya Riau Periode 12-18 Agustus 2026 Turun Rp61,74 per Kg
Proyeksi tersebut masih menjadi perhitungan awal dan membutuhkan pengujian lebih lanjut dalam implementasi di lapangan. Namun, angka tersebut menunjukkan arah pengembangan SUWIIT yang tidak hanya berorientasi pada teknologi, tetapi juga pada manfaat ekonomi bagi peternak.
Beasiswa Sawit Dorong Inovasi Mahasiswa
Pengembangan SUWIIT mendapat pendampingan dari Dr. Fahmi Arifan. Pendampingan dilakukan untuk memperkuat aspek teknologi sekaligus mempertajam model bisnis yang dibawa dalam kompetisi.
Ketua Program Studi TRKI Sekolah Vokasi UNDIP, Dr. Mohamad Endy Julianto, menilai capaian tersebut menunjukkan pentingnya ekosistem pendidikan yang memberikan ruang kepada mahasiswa untuk mengembangkan gagasan menjadi solusi nyata.
Menurutnya, dukungan melalui beasiswa sawit juga memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk memperluas pemahaman mengenai sektor kelapa sawit, termasuk peluang pengembangan teknologi dan industri turunannya.
Bagi Luis Ibanez, kompetisi OLIVIA XI 2026 menjadi pengalaman penting dalam memahami bahwa sebuah inovasi tidak cukup hanya memiliki keunggulan teknologi. Sebuah gagasan juga harus mampu menjawab persoalan masyarakat, memiliki kelayakan bisnis, serta berpotensi dikembangkan secara lebih konkret.
Sementara Kholis Na’imah menekankan pentingnya perspektif ekonomi sirkular dalam pengembangan SUWIIT. Limbah, menurut pendekatan tersebut, tidak semestinya dipandang sebagai akhir dari proses produksi, melainkan sebagai sumber daya yang masih dapat diolah menjadi produk bernilai tambah.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Plasma Riau Periode 12-18 Agustus 2026 Turun Rp70,53 per Kg
Irgy Khoiroel Al Fahrezi menambahkan bahwa tantangan peternak tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan dan harga pakan. Akses terhadap informasi, layanan kesehatan hewan, edukasi, pendampingan dan pasar juga menjadi bagian penting dalam pengembangan usaha peternakan.
Karena itu, SUWIIT dirancang sebagai ekosistem terpadu yang menggabungkan pakan, teknologi digital, kesehatan hewan, edukasi dan akses pasar. (T2)
