InfoSAWIT, JAKARTA – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan teknologi sensor kimia berbasis sistem pengenalan supramolekuler untuk mendeteksi mineral oil aromatic hydrocarbons (MOAH) pada minyak kelapa sawit secara real-time. Teknologi ini ditujukan sebagai metode alternatif untuk mempercepat pengawasan mutu dan keamanan pangan.
Postdoktoral Pusat Riset Kimia Molekuler BRIN, Ane Nurjanah, mengatakan sistem pengenalan supramolekuler memiliki kemampuan mengenali struktur molekul tertentu dengan tingkat selektivitas tinggi. Sistem tersebut juga dinilai memiliki stabilitas kimia dan termal yang dapat mendukung pengembangan sensor untuk analisis senyawa target.
“Keunggulannya adalah selektivitas tinggi terhadap struktur spesifik serta stabilitas kimia dan termal yang lebih baik dibandingkan reseptor biologis,” ujar Ane dalam webinar Jejak Kimia Molekuler #12 bertajuk “Rekayasa Material Molekuler untuk Keamanan Pangan dan Energi Berkelanjutan”, Jumat (25/9/2026).
Dua Strategi Deteksi MOAH
Dalam keterangahn resmi diperoleh InfoSAWIT dari BRIN, dalam pengembangan sensor MOAH, BRIN menerapkan dua pendekatan yang saling melengkapi. Pertama, memisahkan mineral oil saturated hydrocarbons (MOSH) dari MOAH melalui proses ekstraksi pelarut.
Pemisahan tersebut diperlukan untuk mengurangi pengaruh matriks pada sampel minyak sehingga senyawa MOAH sebagai target analisis dapat dikenali secara lebih optimal.
Strategi kedua dilakukan melalui penggunaan transduser berbasis fluoresensi, Raman, elektrokimia, hingga kolorimetri. Perubahan yang dihasilkan transduser kemudian dipadukan dengan sistem pengenalan supramolekuler untuk meningkatkan kemampuan sensor dalam mengidentifikasi senyawa sasaran.
Menurut Ane, teknologi tersebut selanjutnya diarahkan untuk terhubung dengan platform real-time berbasis telepon pintar. Pengembangan ini membuka peluang pemantauan MOAH secara langsung di lokasi, termasuk pada fasilitas pengolahan minyak kelapa sawit.
Masih pada Tahap Pengembangan Laboratorium
Saat ini, penelitian sensor MOAH tersebut berada pada tingkat kesiapterapan teknologi atau TRL 3. Tahapan riset mencakup sintesis dan karakterisasi sistem supramolekuler, pengujian selektivitas terhadap MOAH, serta validasi konsep deteksi pada skala laboratorium.
Tahap berikutnya akan difokuskan pada pengembangan purwarupa dan pengujian dalam lingkungan industri. BRIN menargetkan teknologi tersebut dapat mencapai TRL 5 atau lebih tinggi.
BACA JUGA: Lulusan Poltek Sawit CWE Disiapkan Jadi Motor Industri Sawit Menuju 2045
Ane menyebut terdapat sejumlah tantangan yang perlu diselesaikan, mulai dari modifikasi molekul host agar mampu mengenali MOAH yang memiliki komposisi kompleks, pemisahan dan preparasi sampel minyak sawit mentah atau CPO, hingga pengembangan sistem digital untuk mendukung pemantauan kualitas minyak sawit.
Melalui pendekatan tersebut, sistem pengenalan supramolekuler diharapkan dapat menjadi metode alternatif yang lebih cepat dan selektif dalam mendeteksi MOAH. Teknologi ini sekaligus diarahkan untuk memperkuat sistem pengawasan mutu dan keamanan minyak kelapa sawit, terutama ketika kebutuhan terhadap metode pengujian yang praktis dan dapat digunakan langsung di lokasi semakin meningkat. (T2)
