InfoSAWIT, MANOKWARI – Tandan kosong kelapa sawit (TKKS) berpotensi menjadi bahan baku usaha baru bagi masyarakat di sekitar perkebunan. Di Kampung Desay, Manokwari, Papua Barat, Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Airlangga (UNAIR) memperkenalkan pemanfaatan limbah tersebut sebagai media tanam jamur tiram sekaligus bahan baku produk pangan olahan.
Program bertajuk optimalisasi limbah sawit untuk mendukung peningkatan ekonomi masyarakat di wilayah Prafi itu dilaksanakan melalui pelatihan pada Kamis (8/10/2026). Tim yang diketuai Prof. Dr. apt. Sukardiman, M.S., mengajak masyarakat mempelajari proses budidaya jamur tiram dengan memanfaatkan TKKS, yang selama ini berpotensi belum dimanfaatkan secara optimal.
Pendekatan tersebut membuka peluang pengembangan usaha berbasis sumber daya lokal. Limbah perkebunan tidak hanya dipandang sebagai sisa produksi, tetapi juga dapat diolah menjadi bahan yang mendukung kegiatan ekonomi masyarakat.
BACA JUGA: Bareskrim Tetapkan 9 Tersangka Kasus Karhutla Korporasi, 223 Orang Jadi Tersangka Perorangan
TKKS diperkenalkan sebagai media tanam alternatif
Dalam pelatihan tersebut, peserta mempelajari tahapan pembuatan baglog atau media tanam jamur tiram berbahan TKKS. Prosesnya meliputi pencacahan dan pengomposan bahan, pencampuran bahan tambahan, pengemasan dalam plastik, sterilisasi, hingga penanaman bibit jamur.
Prof. Sukardiman menjelaskan, TKKS mengandung selulosa dan lignoselulosa yang berpotensi mendukung pertumbuhan jamur. Kandungan tersebut menjadikan TKKS sebagai salah satu alternatif bahan media tanam yang dapat dikembangkan selain serbuk gergaji.
“TKKS mengandung selulosa dan lignoselulosa yang dapat mendukung pertumbuhan jamur. Bahan ini berpotensi menjadi alternatif serbuk gergaji yang umum digunakan dalam budidaya jamur tiram,” jelasnya.
Dalam praktiknya, media tanam dibuat dengan memadukan TKKS, dedak padi, kapur atau dolomit, serta air. Komposisi bahan, kebersihan selama proses pembuatan, dan kelembapan media menjadi sejumlah faktor yang perlu diperhatikan untuk mendukung pertumbuhan miselium.
Setelah bibit diinokulasikan, media perlu ditempatkan dalam ruang tumbuh dengan kondisi suhu dan kelembapan yang sesuai hingga jamur berkembang dan siap dipanen.
Pemanfaatan TKKS tersebut juga berpotensi membantu mengurangi timbunan limbah kelapa sawit di lingkungan sekitar. Namun, keberhasilan penerapannya tetap bergantung pada penguasaan teknik budidaya dan pengelolaan media tanam secara tepat.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Kaltim Periode I Oktober 2026 Turun, Usia 10–20 Tahun Jadi Rp3.542,60/kg
Jamur tiram dikembangkan menjadi produk olahan
Pelatihan tidak berhenti pada pembuatan media tanam. Masyarakat juga diperkenalkan dengan pengolahan jamur tiram menjadi nugget sebagai upaya meningkatkan nilai tambah hasil budidaya.
Diversifikasi produk memungkinkan masyarakat memiliki pilihan usaha selain menjual jamur dalam kondisi segar. Produk olahan juga berpeluang dikembangkan melalui pengemasan, penyimpanan beku, dan pemasaran yang disesuaikan dengan kebutuhan konsumen.
Dilansir InfoSAWIT dari Unair, Minggu (18/10/2026), menurut Prof. Sukardiman, jamur tiram mengandung protein, serat pangan, vitamin B kompleks, serta berbagai mineral. Pengolahannya menjadi makanan siap olah dapat memperluas pemanfaatan hasil panen sekaligus membuka peluang usaha pangan skala lokal.
Dengan demikian, nilai ekonomi program tidak hanya bertumpu pada kemampuan masyarakat membudidayakan jamur, tetapi juga pada keterampilan mengolah dan memasarkan produk. Pengembangan usaha lanjutan tersebut membutuhkan perhatian terhadap mutu produk, keamanan pangan, kemasan, serta keberlanjutan pasokan bahan baku.
Mendukung ekonomi lokal dan pemanfaatan limbah
Program Tim Ekspedisi Patriot UNAIR di Kampung Desay turut mendukung sejumlah Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), yakni SDG 2 tentang Tanpa Kelaparan, SDG 8 mengenai Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, serta SDG 17 mengenai Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.
Melalui pelatihan tersebut, masyarakat diperkenalkan pada peluang menghubungkan pengelolaan limbah perkebunan dengan budidaya pangan dan pengembangan usaha. Pendekatan ini juga membuka ruang kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam mengembangkan pemanfaatan sumber daya lokal.
BACA JUGA: Bank Dunia dan CPOPC Dorong Investasi Sawit untuk Perluas Lapangan Kerja
Ke depan, keberlanjutan program akan bergantung pada kemampuan masyarakat menerapkan keterampilan yang diperoleh, menjaga konsistensi produksi, serta menemukan pasar bagi jamur segar maupun produk olahannya.
Jika dikembangkan secara berkelanjutan, pemanfaatan TKKS sebagai media tanam jamur tiram dapat menjadi salah satu alternatif untuk mengubah limbah perkebunan menjadi sumber nilai tambah sekaligus memperluas peluang ekonomi masyarakat di sekitar wilayah perkebunan sawit. (T2)
