InfoSAWIT, JAKARTA – Ganoderma bergerak perlahan, nyaris tanpa tanda. Ketika gejalanya tampak di permukaan, kerusakan sering kali sudah terlambat dihentikan. Para peneliti BRIN kini berupaya memburu jejaknya sejak dini, bahkan sebelum tanaman menunjukkan gejala sakit.
Bagi industri sawit, Ganoderma bukan sekadar penyakit tanaman. Ia adalah ancaman ekonomi sekaligus tantangan ilmiah yang belum sepenuhnya terpecahkan.
Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Tanaman Perkebunan, Organisasi Riset Pertanian dan Pangan (ORPP) BRIN, Siti Hardiyanti, menjelaskan bahwa Ganoderma boninense merupakan penyebab utama penyakit busuk pangkal batang (Basal Stem Rot/BSR) dan busuk batang atas pada kelapa sawit. Patogen ini menyerang sistem perakaran dan jaringan batang, mengganggu distribusi air dan unsur hara, lalu secara perlahan melemahkan tanaman hingga akhirnya mati.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Sumbar Periode II Agustus 2026 Naik Rp10,79 per Kg
Yang membuat penyakit ini menjadi persoalan besar bukan hanya tingkat kerusakannya, melainkan juga sifat patogennya yang sangat sulit dikendalikan. Jamur tersebut mampu bertahan lama di dalam tanah, hidup pada sisa akar dan batang tanaman yang telah terinfeksi. Dengan kata lain, meski tanaman sakit telah ditebang, sumber infeksi masih bisa tetap bertahan.
Akibatnya, produktivitas kebun menurun. Penyerapan air dan nutrisi terganggu, produksi Tandan Buah Segar (TBS) sawit merosot, dan kerugian ekonomi tak terhindarkan. Pada tingkat serangan berat, tanaman mati dalam jumlah besar. Di sejumlah wilayah Sumatera Utara, tingkat kematian tanaman bahkan pernah dilaporkan mencapai 60 persen.
Gejala yang Datang Perlahan
Pada ruang virtual Webinar EstCrops_Corner #26 yang diselenggarakan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dihadiri InfoSAWIT, akhir Mei 2026, mengungkap bahwa Ganoderma tidak menyerang secara mendadak. Penyakit ini berkembang perlahan mengikuti umur tanaman dan progres infeksi. (T2)
