InfoSAWIT, JAKARTA – Sejak awal tahun 2026, berbagai pihak termasuk BMKG dan pemerhati lingkungan telah menduga tahun ini akan menjadi tahun yang ‘panas’, di mana prediksi fenomena El Nino Godzilla diperkirakan akan membuat Indonesia jauh lebih kering daripada musim kemarau biasanya.
Benar saja, hingga September 2026 yang biasanya mulai diguyur hujan, kali ini hujan belum turun. Kondisi ini menyebabkan berbagai area baik lahan pertanian, perkebunan, maupun kawasan hutan rentan terhadap kebakaran.
Forum Petani Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia (FORTASBI) mencatat pada awal tahun 67,45 ribu hektare area terbakar sepanjang periode Januari–Maret, kini situasi telah bergeser menjadi krisis yang jauh lebih masif. Data terbaru per 20 Agustus 2026 menunjukkan bahwa akumulasi luasan indikatif area yang terbakar di Indonesia telah menyentuh angka 667.133 hektare. Bulan Agustus dan September menjadi masa yang sangat mencemaskan, di mana hanya dalam 20 hari pertama di bulan Agustus saja terjadi lonjakan kebakaran seluas 465.174 hektare.
BACA JUGA: FORTASBI Ingatkan Petani Sawit Waspadai Kemarau 2026, Risiko Kebakaran Meningkat
Hal ini berarti hampir 70% dari total luasan kebakaran sepanjang 2026 terjadi hanya dalam kurun waktu kurang dari tiga minggu pada bulan Agustus. Situasi tersebut tentu menjadi ujian berat bagi semua pihak, tidak terkecuali para petani swadaya. Kesiapsiagaan tanggap bencana mereka, khususnya penanganan kebakaran lahan, benar-benar diuji. Masalah yang krusial dihadapi oleh para petani yang mengelola lahan gambut untuk perkebunan kelapa sawit; meskipun mereka telah melakukan langkah-langkah pencegahan, kewaspadaan ekstra tetap mutlak diperlukan.
Di tengah kondisi ini, petani sawit swadaya petani swadaya yang telah tersertifikasi kelapa sawit berkelanjutan baik skema ISPO maupun RSPO), tidak berdiam diri, bahu-membahu melakukan patroli api di area kebun mereka, menggerakkan unit internal penanggulangan karhutla (kebakaran hutan dan lahan), hingga turut membantu petani lain di luar kelompoknya untuk memadamkan api.
Hal tersebut dilalakukan, Perkumpulan Petani Swadaya Bangun Seranten (PPS-BS) di Kabupaten Tebo, Jambi. Mereka berjibaku memadamkan kebakaran lahan di Desa Pintas Tuo pada pekan pertama September 2026. Meski titik api berjarak sekitar 25 kilometer dari kebun anggota dan merupakan lahan milik petani di luar perkumpulan, tim regu pemadam PPS-BS pantang berdiam diri.
BACA JUGA: Desakralisasi Kearifan Lokal untuk Mitigasi Karhutla
Selama dua hari dua malam, dengan peralatan yang dimiliki, mereka bahu-membahu bersama warga setempat menjinakkan kobaran api demi mencegah meluasnya kebakaran ke bentang kebun lainnya.
Aksi tanggap serupa hadir di Kabupaten Siak, Riau. Tim Internal Control System (ICS) Koperasi Beringin Jaya langsung bergerak menuju Desa Dayun, kawasan dekat Taman Nasional Zamrut, saat mendengar kabar kebakaran lahan gambut di sana.
Menaklukkan api di lahan gambut bukanlah perkara mudah. Bersama Manggala Agni dan warga sekitar, tim koperasi turut terjun mengendalikan api yang telah menyala sejak akhir Agustus 2026.
BACA JUGA: UU Reforma Agraria dan Prospek Investasi Kelapa Sawit
Meski lokasi titik api berjarak sekitar 30 kilometer dari perkebunan anggota, potensi rambatan di hamparan gambut kering sangat nyata jika tidak segera dihentikan. Sembari membantu pemadaman di luar wilayahnya, pengurus dan petani Koperasi Beringin Jaya rutin berpatroli memantau kelembapan air gambut di kebun sendiri—bahkan menyuntikkan air ke area yang mulai mengering untuk meminimalkan risiko kebakaran.
Di Kalimantan Timur, Koperasi Belayan Sejahtera di Kabupaten Kutai Kartanegara mengambil langkah struktural dengan membentuk Kelompok Tani Peduli Api (KTPA). Unit khusus ini dirancang sebagai sistem tanggap darurat yang tidak hanya melindungi kebun anggota, tetapi juga siap membantu memadamkan kebakaran di lahan milik petani sekitar serta memberikan pelatihan pemantauan dan patroli rutin.
Langkah antisipatif juga digencarkan kelompok tani bersertifikasi ISPO dan RSPO lainnya di berbagai wilayah, termasuk Asosiasi Petani Kelapa Sawit Mandiri (APKSM) di Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah. Sepanjang Agustus hingga September 2026, APKSM menyisir kebun secara berkala untuk memastikan tidak ada titik api yang lolos dari pantauan.
BACA JUGA: El Niño Mulai Diuji, Produksi Sawit Jadi Penentu Arah Harga CPO
“Jika api sudah masuk ke kebun, itu ancaman bagi kelangsungan hidup kami. Kami sangat memperhatikan situasi ini, dan tim pengendali kebakaran ICS kami selalu siaga,” ujar Widodo, Ketua ICS APKSM, dalam keterangan yang diterima InfoSAWIT, Kamis (24/9).
Semangat itu diamini oleh Jamaluddin, Ketua Koperasi Belayan Sejahtera. “Kami berkomitmen menjaga lahan kami dan lahan petani di sekitar tetap aman, sejalan dengan standar keberlanjutan kelapa sawit,” tegasnya.
Kolaborasi lintas pihak turut memperkuat kesiapsiagaan di tingkat tapak. Di Merangin, Jambi, Koperasi Tanjung Sehati Lestari menggandeng perusahaan terdekat untuk menggelar pelatihan tanggap darurat kebakaran lahan pada 9 September 2026.
BACA JUGA: BMKG Prediksi Hujan Oktober 2026 Rendah, Sejumlah Sentra Sawit Perlu Waspada Kekeringan
“Pelatihan ini menjadi langkah cepat agar seluruh pengurus ICS memiliki rencana tanggap darurat yang matang. Kami bersyukur mendapat dukungan dari pihak perusahaan dalam membangun kesiapan ini, sebab api tidak mengenal batas wilayah perkebunan,” kata Jalal Sayuti, Ketua Koperasi Tanjung Sehati Lestari.
Di tengah ancaman cuaca kering ekstrem, kisah para petani mandiri ini membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk bertindak. Berbekal kepedulian, kerja sama, dan kesiapsiagaan, mereka berdiri di garda depan menjaga bumi sekaligus sumber penghidupan bersama. (T3)
