InfoSAWIT, JAKARTA – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia sepanjang Januari hingga September 2026 menunjukkan skala yang lebih besar dibandingkan periode yang sama pada 2019. Data pemantauan Nusantara Atlas mencatat, luas area terdampak kebakaran telah mencapai sekitar 1,9 juta hektare, dengan jumlah titik panas juga meningkat signifikan.
Founder The TreeMap sekaligus pengembang Nusantara Atlas, David Gaveau, mengungkapkan bahwa berdasarkan sistem pemantauan yang dikembangkan timnya, jumlah titik panas pada 2026 tercatat 63% lebih banyak dibandingkan periode yang sama pada 2019. Sementara itu, luas area yang terdampak kebakaran meningkat sekitar 38%.
Paparan tersebut disampaikan Gaveau dalam presentasi mengenai perkembangan karhutla di Indonesia. Ia menjelaskan, data Nusantara Atlas diperbarui setiap bulan, sekitar tanggal 10 pada bulan berikutnya. Pemetaan area terbakar dilakukan menggunakan citra satelit Sentinel-2 milik Eropa yang merekam permukaan bumi, termasuk wilayah Indonesia, setiap dua hingga lima hari.
BACA JUGA: RSPO Menegaskan Komitmen Terhadap Akuntabilitas dalam Menangani Krisis Kebakaran di Indonesia
“Data yang kami tampilkan menunjukkan bahwa kebakaran tahun ini lebih besar dibandingkan 2019,” ujar Gaveau dalam konferensi pers, RT RSPO 2026 dihadiri InfoSAWIT, Selasa (3/11/2026).
Sebagai pembanding, tahun 2019 dikenal sebagai salah satu periode karhutla besar di Indonesia. Pada tahun tersebut, luas area terbakar tercatat lebih dari 2,6 juta hektare hingga Desember. Namun, Gaveau mengingatkan bahwa sistem pemantauan yang dipaparkan belum mencakup data pembanding sejak 2015, sehingga analisis historisnya masih memiliki keterbatasan.
September Jadi Periode Terparah
Berdasarkan pemantauan bulanan, September 2026 menjadi periode dengan dampak kebakaran terbesar. Luas area terbakar pada bulan tersebut tercatat sedikit lebih dari 1 juta hektare atau hampir separuh dari total area terdampak selama Januari–September.
BACA JUGA: Langkah Strategis Petani Swadaya Sawit
Gaveau juga memaparkan sebaran kebakaran berdasarkan tutupan lahan. Sekitar 35% area terdampak berada pada vegetasi rawa. Sementara itu, wilayah sabana dan padang rumput juga menjadi bagian dari area yang terbakar, terutama di kawasan yang memiliki karakteristik musim kemarau yang kuat.
Untuk kawasan hutan alam, analisis menggunakan peta dasar Kementerian Kehutanan mencatat sekitar 88.000 hektare area hutan terdampak kebakaran atau sekitar 4,6% dari total area terbakar. Penghitungan menggunakan peta dasar lain yang dikembangkan Nusantara Atlas menghasilkan angka sekitar 85.000 hektare.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa hasil pemetaan dapat dipengaruhi oleh sumber data dan klasifikasi tutupan lahan yang digunakan. Gaveau menegaskan pentingnya membedakan area yang teridentifikasi terbakar dengan kondisi vegetasi di lapangan, karena piksel citra satelit yang terdeteksi sebagai area terbakar masih mungkin mencakup sebagian vegetasi hidup.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Kaltim Periode II Oktober 2026 Turun, Usia 10–20 Tahun Jadi Rp3.476,09
Kebakaran di Berbagai Konsesi
Dalam analisis berdasarkan penggunaan lahan, Nusantara Atlas juga memetakan area terbakar di sejumlah wilayah konsesi. Sekitar ratusan ribu hektare area terbakar teridentifikasi berada di dalam konsesi perkebunan kelapa sawit, atau sekitar 11% dari total area terdampak kebakaran yang dipetakan. Dari luasan tersebut, sekitar 19.000 hektare merupakan kawasan hutan yang berada di dalam batas konsesi sawit.
Gaveau menjelaskan, keberadaan area hutan di dalam konsesi perlu diperhatikan karena tidak seluruh wilayah konsesi perkebunan kelapa sawit merupakan areal yang telah ditanami sawit.
Analisis serupa juga dilakukan terhadap konsesi pertambangan, wilayah hak guna usaha (HGU), konsesi kehutanan, serta kategori konsesi lainnya. Dalam paparannya, proporsi area terbakar tercatat sekitar 8,5% di konsesi pertambangan, 6,4% di wilayah HGU, 6% di konsesi kehutanan, 2,5% di konsesi penebangan, dan 2% pada kategori konsesi lainnya.
BACA JUGA: Taruhan Baru Pabrik Sawit Teknologi Dry Process, dan Penerimaan Pasar
Secara keseluruhan, data tersebut memberikan gambaran mengenai sebaran kebakaran berdasarkan batas-batas penguasaan dan pemanfaatan lahan. Namun, keberadaan area terbakar di dalam suatu konsesi tidak dengan sendirinya membuktikan siapa penyebab kebakaran. Penetapan tanggung jawab tetap membutuhkan pemeriksaan dan pembuktian lebih lanjut.
Nusantara Atlas menyediakan akses terhadap data pemantauan tersebut melalui platform yang dapat digunakan secara interaktif. Menurut Gaveau, pengguna dapat mengakses sistem dengan melakukan pendaftaran, sehingga informasi mengenai area terdampak kebakaran dapat ditelusuri lebih lanjut.
Data berbasis satelit ini diharapkan membantu berbagai pihak memahami perkembangan karhutla secara lebih terukur, sekaligus menjadi salah satu dasar untuk memperkuat pemantauan dan penanganan kebakaran di Indonesia. (T2)
