InfoSAWIT, KUTAI KARTANEGARA – Di sebuah desa di ujung Kutai Kartanegara, anak-anak muda Koperasi Perkebunan Belayan Sejahtera mengubah abu sisa pembakaran boiler pabrik kelapa sawit. Material yang semula dianggap sisa menjadi bernilai baru: menjadi bata ringan yang kini digunakan oleh masyarakat sekitar sebagai material bahan bangunan.
Abu boiler tidak biasa masuk ke dalam percakapan sehari-hari menjadi sebuah bangunan. Di pabrik pengolahan kelapa sawit milik PT REA Kaltim, abu itu tertinggal dari proses pembakaran. Material kelabu itu lebih sering dipandang sebagai sisa produksi. Sampai Jamal, Ketua Koperasi Perkebunan Belayan Sejahtera, melihat potensi dan manfaat lain di balik tumpukan tersebut.
“Di balik ribuan ton kelapa sawit yang kita kirimkan ke pabrik, tidak banyak orang tahu tentang abu bekas bakaran, limbah bakaran yang disebut abu boiler,” kata Jamal, dalam keterangan yang diterima InfoSAWIT, Selasa (27/10/2026).
Jamal lalu mengajak Bima untuk bertandang ke lokasi penampungan abu sisa pembakaran boiler milik PT REA Kaltim.
“Ini kayak pasir,” ujar Bima ketika diajak untuk melihat tumpukan abu sisa pembakaran mesin boiler. Ia membawa beberapa karung sampel untuk diteliti. Dipelajarinya karakter material itu, menelusuri artikel dan jurnal, lalu mulai mencoba mengolahnya menjadi bata ringan.
Yang tampak sederhana di mata ternyata menyimpan pekerjaan panjang: abu itu harus lebih dulu dipahami sebelum dapat dipakai sebagai bagian dari bahan bangunan. Dibutuhkan waktu delapan hingga sepuluh bulan untuk melakukan percobaan, hingga akhirnya mendapatkan formula yang tepat dan menghasilkan bata ringan yang diinginkan. Banyak orang sempat meragukan abu sisa pembakaran mesin boiler itu dapat diubah menjadi bata ringan.
BACA JUGA: Ateng Sutisna Desak Evaluasi Dana Sawit dan Percepatan Eksekusi Putusan Karhutla
“Nggak akan mungkin bataringanmu itu”, ungkap Jamal menirukan cibiran orang-orang terkait proses yang sedang dilakukan karena sudah berkali-kali gagal.
Dukungan para petani ikut membuat mereka bertahan. Bagi Jamal dan Bima, pekerjaan ini bukan semata-mata soal membuat barang yang bisa dijual. Ia juga ingin melihat apakah hasil samping industri dapat digunakan dengan cara yang lebih bermanfaat.
“Masalah bataringan ini nggak cuma tentang sosial ekonomi, tapi juga lingkungan yang sifatnya berkelanjutan,” kata Bima.
Perjalanan dari beberapa karung sampel abu boiler tersebut akhirnya keluar dari ruang uji dan berhadapan dengan pemakaian sehari-hari. Bata ringan hasil riset dan percobaan panjang itu kemudian mulai digunakan pada bangunan milik masyarakat di Desa Muai.
Jamal menyebut bata yang mereka kembangkan dapat mengapung dan telah memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI).
Masyarakat mulai membicarakan hal-hal yang menentukan apakah sebuah bata layak dipakai: keamanan, ukuran, daya rekat semen, dan harga dibandingkan dengan produk lain yang serupa di pasaran. Pertanyaan itu terdengar praktis, tetapi di situlah hasil percobaan bertemu dengan kebutuhan.
BACA JUGA: Malaysia Perkuat Hilirisasi Sawit, Bidik Produk Farmasi dan Nutraceutical Bernilai Tinggi
Sebuah bahan bangunan tidak cukup hanya menarik sebagai gagasan; ia juga harus dapat digunakan dan masuk akal bagi orang yang membeli dan menggunakannya.
“Karya anak bangsa,” ungkap Jamal.
“Karya Muai,” kata Bima, menimpali omongan Jamal.
BACA JUGA: FORTASBI Angkat Peran Petani Sawit dalam Pengurangan Emisi dan Perlindungan Hutan
Ada kebanggaan pada sesuatu yang dikembangkan di kampung sendiri. Di balik bata ringan yang mulai digunakan, ada pengetahuan yang diperoleh lewat percobaan dan keterampilan yang tumbuh selama proses.
Bagi Belayan Sejahtera, manfaat yang tumbuh tidak hanya terletak pada bata ringan sebagai barang jadi. Ada ruang bagi koperasi untuk belajar mengolah material, mengembangkan keterampilan, dan mencari peluang usaha dari bahan yang sebelumnya kurang dimanfaatkan.
Bata ringan itu juga merupakan alternatif bagi bahan bangunan yang lazim digunakan masyarakat, yang biasanya banyak menggunakan kayu sebagai material mendirikan bangunan, kini menggunakan bata ringan. Harapannya, pilihan tersebut dapat ikut mengurangi tekanan terhadap hutan.
BACA JUGA: 31 Pekebun Sawit Sulbar Dibekali Keterampilan Pemetaan Digital
Di sinilah ekonomi sirkular berjalan. Sebuah barang tidak berhenti hanya ketika ia berubah menjadi limbah, tapi dia kembali bisa dimanfaatkan menjadi barang yang memiliki nilai dan manfaat baru.
“Sebenarnya limbah itu nggak pernah ada. Yang ada hanya suatu hal yang belum menemukan nilainya.” Ungkap Bima di sela-sela proses pembuatan bata ringan.
Di tepian Sungai Belayan, seiring lembayung senja yang mulai merayap mengikuti arus sungai, perjalanan abu menjadi bata ringan terus berlangsung. Koperasi telah mengubah pertanyaan menjadi percobaan, lalu membawa hasilnya ke bangunan yang dapat dinilai warga.
Ada satu perubahan yang sudah tampak: abu yang dahulu hanya dilihat sebagai sisa kini mendapat kesempatan sebagai bahan yang berguna. Sebagai bangunan untuk merajut masa depan masyarakat yang terletak di ujungnya Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur. (T3)
