InfoSAWIT, PETALING JAYA – Ekspektasi terhadap kenaikan harga minyak sawit mentah (CPO) mulai berhadapan dengan pertanyaan yang lebih konkret: seberapa besar dampak El Niño benar-benar akan menekan produksi buah tandan segar (TBS) sawit?
Sejumlah analis menilai pasar sawit kini memasuki fase ketika kekhawatiran terhadap pasokan yang lebih ketat harus dibuktikan melalui data produksi perkebunan. Jika cuaca kering berlanjut hingga awal 2027, tekanan terhadap produksi berpotensi semakin terlihat dan menjadi salah satu faktor pendukung harga CPO.
Dilansir InfoSAWIT dari The Star, Selasa (29/9/2026), Chief Investment Officer Tradeview Capital Sdn Bhd, Nixon Wong, mengatakan perusahaan perkebunan yang berorientasi pada bisnis hulu dapat lebih sensitif terhadap perubahan harga CPO. Namun, ruang kenaikan saham perkebunan selanjutnya akan semakin bergantung pada realisasi penurunan produksi masing-masing perusahaan.
Menurut Wong, ekspektasi terhadap program biodiesel Indonesia dan ancaman El Niño sudah mulai diperhitungkan oleh pasar. Karena itu, data produksi aktual akan menjadi faktor penting untuk menentukan apakah penguatan harga CPO dapat berlanjut.
Dampak El Niño Tidak Langsung Terlihat
Dampak cuaca kering terhadap kelapa sawit memiliki jeda waktu. Tanaman yang mengalami kekurangan air hari ini belum tentu langsung menghasilkan TBS lebih sedikit pada bulan yang sama.
Kondisi kekeringan berkepanjangan dapat memengaruhi pembentukan bunga, keberhasilan bunga betina menjadi tandan serta perkembangan dan bobot tandan. Dampaknya kemudian baru tercermin pada produksi beberapa bulan berikutnya.
BACA JUGA: BMKG Prediksi Hujan Oktober 2026 Rendah, Sejumlah Sentra Sawit Perlu Waspada Kekeringan
Situasi tersebut membuat periode 2027 menjadi perhatian penting bagi industri sawit apabila kondisi kering terus berlangsung. MBSB Research juga menilai tekanan kelembapan yang berkelanjutan dapat mengubah defisit curah hujan saat ini menjadi penurunan hasil dan pasokan CPO yang lebih ketat pada 2027.
Titik Panas Indonesia Jadi Sinyal Risiko
Risiko tersebut semakin mendapat perhatian setelah data ASEAN Specialised Meteorological Centre (ASMC) menunjukkan Indonesia mencatat 15.186 titik panas pada Agustus 2026. Sebanyak 13.260 titik atau 87,3% berada di Kalimantan. Malaysia pada periode yang sama mencatat 265 titik panas.
MBSB Research menilai peningkatan titik panas tersebut menjadi salah satu indikasi memburuknya kondisi kering di kawasan. Jika kekeringan bertahan lebih lama, hasil TBS dapat tertekan dan pada akhirnya memperketat pasokan minyak sawit.
BACA JUGA: BRIN Kembangkan Sensor Real-Time untuk Deteksi MOAH pada Minyak Sawit
Namun, dampaknya terhadap produksi Malaysia sejauh ini belum menunjukkan kontraksi yang merata.
Data Malaysian Palm Oil Board (MPOB) menunjukkan rata-rata hasil TBS perkebunan Malaysia selama Januari–Agustus 2026 mencapai 10,83 ton per hektare, turun 1,5% dibandingkan 11 ton per hektare pada periode yang sama tahun sebelumnya. Di Semenanjung Malaysia, hasil turun 7,8% menjadi 11,29 ton per hektare. Sebaliknya, Sabah dan Sarawak mencatat kenaikan 5,8% menjadi 10,48 ton per hektare.
Dengan demikian, data produksi saat ini belum memperlihatkan penurunan akibat cuaca yang terjadi secara nasional.
BACA JUGA: Bukan Sekadar Pintar, Ini 3 Karakter yang Diminta Poltek Sawit CWE dari Calon Pemimpin Industri
Biodiesel dan El Niño Bisa Bertemu
Selain faktor cuaca, pasar sawit juga menghadapi perubahan permintaan akibat program biodiesel Indonesia. Peningkatan konsumsi domestik untuk biodiesel berpotensi mengurangi volume minyak sawit yang tersedia untuk pasar ekspor.
MPOC sebelumnya memperkirakan harga CPO tetap berada di atas RM4.600 per ton pada September, sementara kontrak CPO untuk 2027 di Bursa Malaysia juga sempat diperdagangkan di atas RM5.000 per ton, mencerminkan perhatian pasar terhadap potensi dampak El Niño.
Kombinasi konsumsi biodiesel yang tinggi dan kemungkinan penurunan produksi akibat cuaca kering dapat memperketat neraca pasokan. Namun, besarnya dampak tetap bergantung pada produksi aktual, kondisi stok, permintaan negara konsumen, harga minyak nabati lain serta perkembangan harga energi.
BACA JUGA: Lulusan Poltek Sawit CWE Disiapkan Jadi Motor Industri Sawit Menuju 2045
Harga CPO Sudah Menguat
Ekspektasi tersebut hadir ketika harga CPO telah mengalami penguatan sepanjang 2026. Berdasarkan laporan The Star pada 28 September 2026, kontrak CPO aktif berada di sekitar RM4.780 per ton, naik hampir 19% secara year-to-date (YTD), setelah sempat mencapai RM5.158 per ton pada 8 September. Harga spot CPO Malaysia-Indonesia yang dirujuk Bloomberg berada sekitar RM4.862,86 per ton.
Kondisi tersebut membuat pasar kini menunggu bukti dari sisi produksi. Harga CPO yang tinggi dapat memberikan dukungan terhadap pendapatan perkebunan, tetapi apabila penurunan produksi belum terjadi secara signifikan, ruang penguatan berikutnya akan sangat bergantung pada perkembangan fundamental lainnya.
MPOB sendiri masih mempertahankan proyeksi produksi CPO Malaysia 2026 pada kisaran 19,5–19,8 juta ton, dibandingkan rekor 20,28 juta ton pada 2025.
BACA JUGA: Wisuda Poltek Kelapa Sawit CWE: Lulusan Diburu Industri, 86 Orang Sudah Terserap
Bagi industri sawit, beberapa bulan ke depan menjadi periode penting untuk mencermati curah hujan, kondisi tanaman, perkembangan hasil TBS dan produksi CPO. El Niño tidak selalu langsung terlihat dalam angka produksi, tetapi efek biologisnya dapat muncul setelah jeda waktu.
Pada akhirnya, arah pasar tidak hanya ditentukan oleh seberapa tinggi harga CPO, melainkan apakah kenaikan tersebut mampu bertahan ketika produksi, permintaan biodiesel, stok dan kondisi cuaca mulai bertemu dalam satu neraca pasokan. (T2)
