InfoSAWIT, BENGALURU – Pemerintah India memangkas bea masuk minyak nabati impor, termasuk minyak sawit mentah (CPO), dalam upaya menekan biaya bahan baku industri pangan. Kebijakan ini diperkirakan memberi ruang bagi produsen biskuit, mi, makanan ringan goreng, hingga jaringan restoran untuk memperbaiki margin, meski dampaknya terhadap harga konsumen belum tentu terasa dalam waktu dekat.
Dilansir InfoSAWIT dari The Times of India, Senin (28/9/2026), kebijakan baru tersebut menurunkan bea masuk dasar untuk minyak sawit mentah dan minyak kedelai mentah dari 10% menjadi 5%. Sementara itu, bea masuk minyak bunga matahari mentah dipangkas dari 10% menjadi nol. Tarif untuk produk minyak nabati olahan juga turut diturunkan.
Perubahan tersebut dijadwalkan berlaku mulai Kamis. Langkah ini muncul ketika harga minyak nabati menjadi salah satu komponen penting dalam struktur biaya industri makanan di India.
BACA JUGA: BMKG Prediksi Hujan Oktober 2026 Rendah, Sejumlah Sentra Sawit Perlu Waspada Kekeringan
Produsen Makanan Jadi Kandidat Penerima Manfaat
Laporan analis Nuvama menyebut produsen roti dan makanan ringan goreng sebagai kelompok yang berpotensi paling cepat merasakan dampak kebijakan tersebut. Pasalnya, minyak sawit merupakan salah satu bahan baku penting dalam proses produksi makanan ringan.
Produsen mi dan jaringan restoran juga berpotensi memperoleh manfaat, meski kontribusi minyak goreng terhadap total biaya restoran relatif lebih kecil.
Namun, besarnya penghematan tidak hanya ditentukan oleh penurunan tarif. Harga minyak nabati dunia, nilai tukar rupee serta persediaan minyak yang sebelumnya dibeli dengan tarif lama akan menentukan seberapa cepat manfaat kebijakan tersebut masuk ke struktur biaya perusahaan.
BACA JUGA: BRIN Kembangkan Sensor Real-Time untuk Deteksi MOAH pada Minyak Sawit
Kondisi ini membuat penurunan harga bahan baku tidak otomatis diterjemahkan menjadi penurunan harga jual produk.
Margin Perusahaan Bisa Pulih Lebih Dahulu
Bikaji Foods International memperkirakan biaya minyak yang mereka gunakan dapat turun sekitar 3–4%. Namun, perusahaan makanan ringan tersebut belum berencana langsung menurunkan harga produk atau mengubah ukuran kemasan.
Chief Operating Officer Bikaji Foods International, Manoj Verma, mengatakan penghematan awal kemungkinan akan digunakan untuk membantu memulihkan tekanan margin akibat kenaikan biaya input sebelumnya.
Artinya, konsumen belum tentu langsung melihat harga makanan ringan yang lebih murah setelah kebijakan bea masuk diberlakukan. Perusahaan cenderung membutuhkan waktu untuk menyerap perubahan biaya karena masih memiliki stok yang dibeli menggunakan struktur tarif sebelumnya.
Tidak Semua Produsen Menggunakan Minyak Impor
Dampak kebijakan juga berbeda antara satu perusahaan dengan perusahaan lainnya, tergantung jenis minyak yang digunakan.
Indraneel Chitale, managing partner Chitale Bandhu, mengatakan perusahaannya menggunakan minyak kacang tanah yang bersumber dari dalam negeri. Karena itu, penurunan bea masuk minyak nabati impor tidak memberikan dampak langsung yang besar terhadap biaya produksi perusahaan.
Sebaliknya, produsen makanan ringan dengan harga kemasan rendah, seperti produk senilai 5 dan 10 rupee, yang menggunakan minyak sawit dapat memperoleh ruang lebih besar untuk memperbaiki margin.
Permintaan Minyak Sawit India Jadi Perhatian
Bagi pasar minyak sawit global, kebijakan India tersebut menjadi langkah penting karena India merupakan salah satu konsumen sekaligus importir minyak nabati terbesar dunia.
Reuters sebelumnya melaporkan bahwa India memenuhi hampir dua pertiga kebutuhan minyak nabatinya melalui impor, terutama minyak sawit, minyak kedelai dan minyak bunga matahari. Penurunan bea masuk berpotensi meningkatkan konsumsi impor, meski pada saat yang sama dapat memengaruhi harga minyak nabati global apabila permintaan India meningkat.
BACA JUGA: Lulusan Poltek Sawit CWE Disiapkan Jadi Motor Industri Sawit Menuju 2045
Kondisi tersebut membuat perkembangan kebijakan India relevan bagi pasar CPO Indonesia dan Malaysia. Kenaikan permintaan impor India dapat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi arus perdagangan minyak sawit global.
Namun, manfaat kebijakan bagi perusahaan pengolah makanan dan pasar minyak nabati akan bergantung pada perkembangan harga komoditas internasional, nilai tukar, persediaan serta kecepatan perusahaan menyesuaikan pembelian dengan tarif baru. (T2)
