InfoSAWIT, LAGOS – Kekhawatiran terhadap kualitas minyak sawit mendorong sebagian konsumen dan pedagang di Lagos, Nigeria, semakin mengandalkan rasa, warna, aroma, serta tekstur untuk mengenali produk yang diduga telah dicampur atau dipalsukan.
Dilansir InfoSAWIT dari NAN News, Kamis(1/10/2026), pengalaman tersebut disampaikan sejumlah konsumen dan pedagang dalam wawancara terpisah dengan News Agency of Nigeria (NAN) di Lagos.
Bagi sebagian konsumen, memastikan keaslian minyak sawit kini menjadi bagian penting sebelum produk digunakan untuk memasak. Persoalan tersebut juga memunculkan perhatian terhadap bagaimana minyak sawit diproses dan disimpan sebelum sampai ke tangan konsumen.
BACA JUGA: Jangan Menua Tanpa Jaminan Sosial, Persiapan Masa Depan Harus Dimulai Sejak Produktif
Sejumlah konsumen bahkan mencurigai adanya minyak sawit yang dicampur dengan bahan pewarna untuk mempertahankan atau meningkatkan tampilan merah khas minyak sawit.
Pedagang minyak sawit di Oyingbo Market, Chidinma Nwabueze, mengatakan dirinya memperoleh produk terutama dari pabrik dan pemasok yang telah dipercaya. Sebagian pasokan berasal dari wilayah timur Nigeria dan kemudian dikirim ke Lagos.
Menurut Nwabueze, pengalaman menjadi salah satu faktor penting untuk membedakan minyak sawit asli dan produk yang diduga telah dicampur. Sebab, minyak yang telah dicampur dapat memiliki tampilan yang hampir menyerupai produk asli.
BACA JUGA: UU Reforma Agraria Indonesia Picu Ketidakpastian bagi Perusahaan Sawit Malaysia
Ia mengatakan konsumen yang sudah terbiasa menggunakan minyak sawit biasanya lebih mudah mengenali perbedaan melalui warna, kekentalan, dan aroma.
“Orang yang sangat mengenal minyak sawit dapat membedakan yang asli dan yang telah dicampur melalui warna, kekentalan, dan aromanya,” ujarnya.
Menurut dia, perbedaan tersebut terkadang baru terlihat ketika minyak digunakan untuk memasak. Minyak sawit asli dalam jumlah relatif sedikit disebut sudah cukup memberikan warna merah yang diharapkan pada makanan.
BACA JUGA: Formula 100% Kesuksesan Poltek Sawit CWE: 50% Integritas, 30% Kepandaian, 20% Fisik
Konsumen Mulai Lebih Waspada
Pengalaman serupa disampaikan Goodness Okoro, warga Apapa Road. Kecurigaannya terhadap kualitas minyak sawit muncul ketika ia menggunakan produk tersebut untuk memasak sup.
Okoro mengatakan dirinya harus menggunakan minyak dalam jumlah lebih banyak dari biasanya, tetapi warna dan kekentalan yang diharapkan tidak kunjung diperoleh.
“Saya memperhatikan rasa dan warna untuk memastikan kualitas. Saya sangat memperhatikan dampak kesehatan dari minyak sawit yang diduga telah dicampur,” katanya.
Ia menambahkan, harga bukan persoalan utama selama produk yang dibeli memiliki kualitas yang sesuai dan mampu menghasilkan cita rasa makanan yang diharapkan.
Sementara itu, Mummy Joy, warga Ikotun, mengaku pernah mendengar mengenai praktik pencampuran minyak sawit dengan bahan lain. Namun, ia tidak mengetahui secara pasti bahan yang digunakan.
Ia mengatakan memperoleh minyak sawit langsung dari wilayah timur Nigeria dan biasanya mengandalkan tampilan serta rasa untuk menilai keasliannya.
BACA JUGA: Harga CPO KPBN Inacom Turun Pada Selasa (29/9), Perdagangan CPO di Bursa Malaysia Melemah
“Minyak sawit palsu dapat dikenali melalui rasa. Ketika dicicipi, perbedaannya akan terasa,” ujarnya.
Dugaan Penggunaan Pewarna
Kekhawatiran mengenai penggunaan bahan pewarna juga disampaikan Okoro Ebube, warga kawasan Costain, Ibadan Street. Ia menilai dugaan pencampuran minyak sawit dengan bahan pewarna membuat konsumen semakin sulit membedakan produk asli dan produk yang telah dicampur.
Menurut Ebube, minyak sawit asli dari wilayah pedesaan Nigeria memiliki warna merah alami dan dapat mempertahankan kualitasnya dalam waktu lama.
