InfoSAWIT, JAKARTA – Pasar minyak nabati global bergerak di atas keseimbangan yang rapuh. Ketergantungan dunia pada ekspor sawit dari Indonesia dan Malaysia kian besar, justru ketika laju pertumbuhan produksinya melambat. Dorongan kebijakan biodiesel dan agenda transisi energi membuat permintaan tetap menguat. Di titik inilah para analis melihat satu arah yang sama: harga minyak nabati bersiap menanjak pada 2026, dengan Indonesia memegang kunci reli berikutnya.
Pasar minyak nabati global memasuki fase baru yang semakin kompleks. Ketergantungan dunia terhadap pasokan ekspor dari Indonesia dan Malaysia kian besar, sementara pertumbuhan produksi minyak sawit justru menunjukkan tanda-tanda perlambatan. Kondisi ini diperkirakan akan mendorong kenaikan harga minyak nabati secara global pada 2026.
Executive Director ISTA Mielke GmbH (Oil World), Thomas Mielke, mengungkapkan bahwa Indonesia dan Malaysia masih menjadi tulang punggung perdagangan minyak nabati dunia. Dalam 12 bulan terakhir, kedua negara tersebut menyumbang sekitar 46 persen dari total ekspor global minyak dan lemak. Meski pangsa ini turun dari sekitar 50 persen beberapa tahun lalu, ketergantungan konsumen dunia terhadap pasokan dari Asia Tenggara tetap tidak tergantikan.
BACA JUGA: Stok Minyak Sawit Malaysia Turun 3,9% pada Februari 2026, Produksi dan Ekspor Turut Melemah
“Jika ekspor minyak sawit terus menurun, pemenuhan kebutuhan impor global akan semakin sulit. Dampaknya akan langsung tercermin pada kenaikan harga di pasar dunia,” ujar Mielke.
Menurutnya, tanpa tambahan pasokan signifikan dari Amerika Selatan, Amerika Utara, Rusia, Ukraina, maupun kawasan Laut Hitam, pasar akan menghadapi tekanan struktural. Oil World menilai tren penurunan ekspor sawit berpotensi berlanjut pada 2026, seiring melambatnya pertumbuhan produksi global minyak dan lemak. (T2)
