InfoSAWIT, JAKARTA – Dewan Negara-Negara Produsen Minyak Sawit atau Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC) mendorong harmonisasi kebijakan keberlanjutan antara ASEAN dan APEC guna memperkuat perdagangan terbuka, meningkatkan ketahanan rantai pasok, serta mengurangi beban kepatuhan yang dihadapi pelaku industri, khususnya petani sawit dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Dilansir InfoSAWIT dari laman media komunikasi CPOPC, Jumat (10/7/2026), isu tersebut disampaikan Sekretaris Jenderal CPOPC, Izzana Salleh, saat menjadi panelis dalam World Economic Forum (WEF) Annual Meeting of the New Champions 2026 pada sesi bertajuk “APEC, ASEAN and the Art of Alignment”.
Forum internasional tersebut turut menghadirkan perwakilan dari Sekretariat APEC, Pemerintah Thailand, kalangan akademisi, serta sektor swasta untuk membahas strategi penyelarasan kebijakan ekonomi di kawasan Asia-Pasifik.
Dalam paparannya, CPOPC menilai sinergi yang lebih kuat antara ASEAN dan APEC harus mampu memberikan manfaat nyata bagi sektor riil. Salah satunya melalui peningkatan kelancaran perdagangan lintas negara, penguatan rantai pasok global, serta penyelarasan kerangka kebijakan keberlanjutan yang semakin menjadi persyaratan utama dalam perdagangan internasional.
Menurut CPOPC, aspek keberlanjutan, sistem ketertelusuran (traceability), dan sertifikasi kini telah menjadi elemen penting dalam menentukan akses pasar berbagai komoditas, termasuk minyak sawit. Namun, beragamnya regulasi dan standar keberlanjutan yang diterapkan di berbagai negara dinilai masih menjadi tantangan karena meningkatkan biaya kepatuhan bagi pelaku usaha.
Kondisi tersebut, lanjut CPOPC, paling dirasakan oleh petani sawit dan UMKM yang memiliki keterbatasan sumber daya dalam memenuhi berbagai persyaratan sertifikasi yang berbeda-beda di setiap pasar tujuan ekspor.
Untuk itu, CPOPC mendorong pengembangan sistem keberlanjutan dan platform digital yang saling terhubung (interoperable) serta dapat dipercaya oleh seluruh pemangku kepentingan. Sistem tersebut diharapkan mampu meningkatkan transparansi, mendukung pengakuan bersama terhadap standar keberlanjutan, serta memperluas partisipasi pelaku usaha dalam perdagangan global yang berkelanjutan.
Melalui forum tersebut, CPOPC juga memanfaatkan kesempatan untuk menyuarakan perspektif negara-negara produsen minyak sawit di tengah berkembangnya berbagai kebijakan perdagangan dan lingkungan di tingkat internasional.
Organisasi itu kembali menegaskan komitmennya untuk terus mendorong integrasi ekonomi kawasan, memperkuat perdagangan yang berkelanjutan dan inklusif, serta membangun rantai pasok yang tangguh melalui kolaborasi internasional yang konstruktif. Langkah tersebut dinilai penting agar industri sawit tetap kompetitif sekaligus mampu memenuhi tuntutan pasar global yang semakin menekankan aspek keberlanjutan. (T2)
