InfoSAWIT, ABUJA – Rencana kerja sama yang ditawarkan Malaysia untuk membantu pengembangan industri minyak sawit Nigeria dinilai perlu disikapi secara hati-hati. Di tengah upaya memperkuat hubungan perdagangan kedua negara, pelaku industri minyak nabati Nigeria mengingatkan agar kolaborasi tersebut tidak justru meningkatkan ketergantungan terhadap impor minyak sawit dari Malaysia.
Ketua Nasional Vegetable/Edible Oil Producers Association of Nigeria (VEOPAN), Francis Ikoro, menilai setiap bentuk kerja sama internasional seharusnya diarahkan untuk memperkuat kapasitas produksi dalam negeri, bukan memperluas pasar bagi negara eksportir.
Pernyataan tersebut muncul menyusul sikap Malaysian Palm Oil Council (MPOC) yang menyatakan kesiapannya mendukung pengembangan sektor sawit Nigeria melalui alih teknologi, penerapan standar keberlanjutan, hingga peningkatan kerja sama industri. Di sisi lain, MPOC juga secara terbuka menyebut Nigeria sebagai salah satu pasar strategis yang masih memiliki peluang besar untuk meningkatkan ekspor minyak sawit Malaysia.
BACA JUGA: KPP Sita Aset Perusahaan Sawit di Lampung, Tunggakan Pajak Capai Rp42 Miliar
Menurut Ikoro, kondisi tersebut menunjukkan bahwa kepentingan ekonomi Malaysia tetap berorientasi pada perluasan pasar ekspor, mengingat negara tersebut telah menginvestasikan sumber daya besar selama puluhan tahun untuk mempertahankan posisinya sebagai salah satu eksportir minyak sawit terbesar dunia.
Dilansir InfoSAWIT dari businessday.ng, Selasa (7/7/2026), Ia menegaskan, tantangan utama Nigeria bukan terletak pada kurangnya pengetahuan mengenai budidaya kelapa sawit. Sebaliknya, Afrika Barat, termasuk Nigeria, merupakan kawasan asal tanaman kelapa sawit yang pernah menjadikan negara tersebut sebagai salah satu produsen utama dunia sebelum posisinya disalip Malaysia dan Indonesia melalui investasi jangka panjang, riset, mekanisasi, serta kebijakan pemerintah yang konsisten.
Saat ini, menurut VEOPAN, industri sawit Nigeria justru menghadapi persoalan struktural, mulai dari kebijakan yang belum konsisten, keterbatasan infrastruktur, maraknya penyelundupan minyak sawit, minimnya akses pembiayaan, penggunaan benih berproduktivitas rendah, hingga lemahnya perlindungan terhadap produsen domestik.
Karena itu, setiap bentuk kemitraan internasional dinilai harus memberikan manfaat nyata bagi pengembangan industri nasional. VEOPAN mengusulkan agar kerja sama difokuskan pada pembangunan pusat produksi benih unggul di Nigeria, investasi pada perkebunan dan pabrik pengolahan, pengembangan industri manufaktur mesin pengolahan di dalam negeri, peningkatan kapasitas peneliti dan tenaga penyuluh, serta pelaksanaan riset bersama dengan perguruan tinggi lokal.
Selain itu, organisasi tersebut juga mendorong penerapan persyaratan tingkat kandungan lokal dalam setiap proyek kerja sama agar transfer teknologi benar-benar memperkuat industri nasional, bukan sekadar membuka jalan bagi peningkatan ekspor produk Malaysia.
VEOPAN mengingatkan bahwa industri minyak nabati Nigeria saat ini telah menghadapi tekanan akibat impor legal, penyelundupan melalui negara tetangga, serta perubahan kebijakan fiskal. Jika ketergantungan terhadap minyak sawit impor terus meningkat, kondisi tersebut dikhawatirkan akan mengurangi investasi pada perkebunan domestik, menekan utilisasi pabrik pengolahan, mengurangi kesempatan kerja di pedesaan, serta meningkatkan tekanan terhadap cadangan devisa negara.
Menurut organisasi tersebut, setiap ton minyak sawit yang diimpor merupakan potensi produksi yang seharusnya dapat dihasilkan petani lokal, diolah oleh industri nasional, dan memberikan nilai tambah bagi perekonomian domestik.
VEOPAN menilai Nigeria memiliki peluang besar untuk kembali menjadi salah satu produsen minyak sawit utama dunia karena didukung ketersediaan lahan yang luas, iklim tropis yang sesuai, pasar domestik yang besar, serta jumlah tenaga kerja usia produktif yang melimpah.
Untuk itu, pemerintah Nigeria didorong mempercepat perluasan areal perkebunan, meningkatkan dukungan kepada petani swadaya, menyediakan pembiayaan yang lebih terjangkau, melindungi industri lokal dari praktik impor yang tidak sehat, serta memperbesar investasi pada penelitian dan pengembangan benih sawit unggul.
Organisasi tersebut menegaskan bahwa kerja sama internasional tetap penting selama mampu meningkatkan kapasitas produksi nasional. Namun, pembangunan industri strategis, termasuk sektor minyak sawit, harus tetap berlandaskan kepentingan ekonomi nasional agar Nigeria dapat membangun industri minyak nabati yang lebih mandiri dan berdaya saing di pasar global. (T2)
