Surplus Perdagangan Nonmigas Capai US$ 16,31 Miliar, Sawit Tetap Jadi Penopang Utama Ekspor Indonesia

oleh -299 Kali Dibaca
Editor: Redaksi InfoSAWIT
InfoSAWIT
Dok. Istimewa/Kantor Kemendag.

InfoSAWIT, JAKARTA – Kinerja perdagangan luar negeri Indonesia tetap menunjukkan daya tahan di tengah dinamika ekonomi global. Meski neraca perdagangan pada Mei 2026 mengalami defisit sebesar US$ 1,61 miliar, secara kumulatif sepanjang Januari–Mei 2026 Indonesia masih membukukan surplus perdagangan sebesar US$ 4,03 miliar, yang ditopang kuat oleh surplus sektor nonmigas.

Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan, perdagangan nonmigas masih menjadi fondasi utama kinerja ekspor Indonesia. Menurutnya, surplus yang terus terjaga menunjukkan daya saing produk nasional tetap kuat meskipun menghadapi tantangan dari perlambatan ekonomi global dan tekanan pada sektor energi.

“Walaupun neraca perdagangan Mei 2026 mengalami defisit, secara kumulatif Indonesia masih mencatatkan surplus. Hal ini membuktikan bahwa perdagangan nonmigas Indonesia tetap kokoh di tengah berbagai tantangan global,” ujar Budi Santoso, dalam keterangan resmi ditulis InfoSAWIT, Minggu (5/7/2026).

BACA JUGA: Harga TBS Sawit Aceh Periode 1–14 Juli 2026 Capai Rp 3.622/Kg, Berikut Rincian Wilayah Timur dan Barat

Data Kementerian Perdagangan menunjukkan, selama Januari–Mei 2026 sektor nonmigas mencatatkan surplus US$ 16,31 miliar, yang mampu menutup defisit perdagangan migas sebesar US$ 12,28 miliar. Sementara pada Mei 2026 saja, defisit sektor migas melebar menjadi US$ 3,76 miliar, terutama dipicu tingginya impor hasil minyak senilai US$ 3,40 miliar dan minyak mentah sebesar US$ 0,70 miliar. Di sisi lain, perdagangan gas alam masih mencatatkan surplus sebesar US$ 0,35 miliar.

Di tengah tekanan tersebut, perdagangan nonmigas tetap menghasilkan surplus US$ 2,15 miliar pada Mei 2026. Tiga kelompok komoditas yang menjadi penyumbang surplus terbesar yakni bahan bakar mineral (HS 27) senilai US$ 2,54 miliar, lemak dan minyak hewani atau nabati (HS 15)—yang didominasi produk minyak sawit—sebesar US$ 2,21 miliar, serta besi dan baja (HS 72) sebesar US$ 1,38 miliar.

Secara kumulatif hingga Mei 2026, kelompok lemak dan minyak hewani/nabati (HS 15) menjadi kontributor terbesar surplus nonmigas dengan nilai mencapai US$ 13,92 miliar, disusul bahan bakar mineral sebesar US$ 10,88 miliar, serta besi dan baja senilai US$ 7,09 miliar.

BACA JUGA: Agrinas Palma Nusantara Gandeng Pertamina Power Indonesia, Bidik Penguatan Bioenergi Nasional

Dari sisi negara tujuan, Amerika Serikat menjadi penyumbang surplus perdagangan nonmigas terbesar bagi Indonesia dengan nilai US$ 8,47 miliar, diikuti India sebesar US$ 5,34 miliar, serta Filipina senilai US$ 3,42 miliar.

 

Industri Pengolahan Tetap Menjadi Motor Ekspor

Meski nilai ekspor Indonesia pada Mei 2026 tercatat US$ 23,20 miliar, turun 8,30 persen dibanding April 2026 dan melemah 5,73 persen dibanding Mei 2025, kinerja ekspor secara kumulatif masih menunjukkan tren positif.

Sepanjang Januari–Mei 2026, total ekspor Indonesia mencapai US$ 115,36 miliar, atau tumbuh 3,02 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut ditopang ekspor nonmigas yang naik 3,89 persen menjadi US$ 110,19 miliar, sementara ekspor migas turun 12,71 persen menjadi US$ 5,17 miliar.

BACA JUGA: Kenali Tipe Warna Buah Sawit, Planter Diminta Tak Hanya Andalkan Warna Saat Menentukan Panen

Budi Santoso menegaskan, sektor industri pengolahan masih menjadi motor utama pertumbuhan ekspor nasional. Menurutnya, peningkatan ekspor manufaktur menunjukkan kebijakan hilirisasi mulai memberikan dampak positif terhadap peningkatan nilai tambah produk Indonesia.

“Pemerintah akan terus memperluas akses pasar ekspor sekaligus meningkatkan nilai tambah produk nasional agar kinerja ekspor tetap terjaga,” katanya.

Selama lima bulan pertama 2026, ekspor sektor industri pengolahan tumbuh 6,80 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut didorong meningkatnya ekspor aluminium dan barang daripadanya sebesar 64,33 persen, nikel dan produk turunannya sebesar 60,88 persen, serta bahan kimia organik yang naik 31,04 persen. Kenaikan ini didukung membaiknya harga komoditas dunia serta meningkatnya permintaan pasar internasional.

 

 

Dapatkan update berita InfoSAWIT setiap hari dengan bergabung di Grup Telegram "InfoSAWIT - News Update", caranya klik link InfoSAWIT-News Update, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Bisa juga IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


Atau ikuti saluran Whatsapp "InfoSAWIT News", caranya klik link InfoSAWIT News

Untuk informasi langganan dan Iklan silahkan WhatsApp ke Marketing InfoSAWIT_01 dan Marketing InfoSAWIT_02 atau email ke sawit.magazine@gmail.com