Sebaliknya, beberapa sektor masih mengalami tekanan. Ekspor sektor pertanian turun 24,95 persen, sektor migas melemah 12,71 persen, sedangkan sektor pertambangan dan lainnya turun 8,14 persen. Penurunan terdalam di sektor pertanian terjadi pada komoditas kakao dan olahannya yang turun 39,34 persen, serta kopi, teh, dan rempah-rempah yang melemah 29,94 persen. Sementara pada sektor pertambangan, ekspor bijih logam, terak, dan abu merosot 45,97 persen.
Pasar Ekspor Semakin Beragam
Diversifikasi pasar ekspor juga terus menunjukkan hasil positif. Selama Januari–Mei 2026, ekspor nonmigas Indonesia ke Rumania melonjak 409,78 persen, diikuti Hong Kong sebesar 34,01 persen, Mesir naik 33,73 persen, Thailand tumbuh 19,32 persen, serta Tiongkok meningkat 17,68 persen.
Selain negara-negara tersebut, ekspor Indonesia ke kawasan Asia Tengah, Afrika Utara, Asia Timur, Amerika Selatan, dan Afrika Barat juga mencatatkan pertumbuhan positif. Kondisi ini menunjukkan strategi diversifikasi pasar yang dijalankan pemerintah mulai memperkuat ketahanan ekspor nasional sekaligus mengurangi ketergantungan pada pasar tradisional.
BACA JUGA: Bibit Topaz Bisa Dongkrak Produktivitas Sawit, dan Tawarkan Varietas Toleran Ganoderma
Bagi industri sawit nasional, kinerja perdagangan ini kembali menegaskan peran strategis produk lemak dan minyak hewani/nabati (HS 15) sebagai penyumbang surplus perdagangan terbesar Indonesia, sekaligus menjadi salah satu penopang utama stabilitas neraca perdagangan nasional di tengah tantangan ekonomi global. (T2)
