InfoSAWIT, JAKARTA – Limbah tandan kosong kelapa sawit (TKKS) yang selama ini menjadi tantangan bagi industri perkebunan berpotensi berubah menjadi sumber energi terbarukan dan bahan baku industri bernilai ekonomi. Melalui pengembangan teknologi pirolisis, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berupaya mengoptimalkan pemanfaatan biomassa sawit untuk mendukung transisi energi sekaligus memperkuat penerapan ekonomi sirkular di Indonesia.
Ketua Tim Riset Pirolisis Minyak Biomassa Pusat Riset Kimia Molekuler BRIN, Dieni Mansur, mengatakan pemanfaatan limbah biomassa sebagai energi dan bahan kimia berbasis hayati menjadi salah satu strategi untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap bahan bakar fosil.
“Minyak pirolisis dikembangkan untuk mendukung diversifikasi energi nasional. Sementara itu, tandan kosong kelapa sawit merupakan limbah yang volumenya sangat besar sehingga perlu dimanfaatkan secara optimal,” ujar Dieni dalam keterangan resmi yang diperoleh InfoSAWIT, Rabu (1/7/2026).
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Plasma Riau 1-7 Juli 2026 Naik Rp. 55,6 per Kg
Menurut Dieni, teknologi pirolisis bekerja melalui proses pemanasan biomassa tanpa oksigen dengan beberapa metode, yakni pirolisis lambat, cepat, maupun sangat cepat. Saat ini, fasilitas reaktor yang dimiliki BRIN telah mampu mengolah limbah TKKS menggunakan metode pirolisis lambat dengan durasi proses sekitar dua hingga empat jam.
Melalui proses tersebut, limbah tandan kosong kelapa sawit dapat diubah menjadi tiga produk utama, yakni asap cair, minyak biomassa (bio-oil), dan arang hayati (bio-char). Ketiganya memiliki nilai ekonomi dan peluang pemanfaatan yang cukup luas di berbagai sektor.
Asap cair, misalnya, berpotensi dimanfaatkan sebagai pelapis alami untuk memperpanjang umur simpan buah-buahan. Selain itu, hasil riset juga menunjukkan peluang pengembangannya menjadi material berbentuk film yang dapat digunakan untuk membantu proses penyembuhan luka pada rongga mulut.
BACA JUGA: Harga CPO KPBN Inacom Naik Pada Senin (29/6), Perdagangan CPO di Bursa Malaysia Masih Menguat
Sementara itu, minyak biomassa dan asap cair hasil pirolisis mengandung berbagai senyawa organik, seperti fenol, asam asetat, keton, dan metanol yang banyak dibutuhkan sebagai bahan baku industri kimia.
Dieni menjelaskan, saat ini minyak biomassa dari TKKS telah memungkinkan digunakan sebagai bahan bakar boiler di sektor industri. Meski belum dapat dimanfaatkan secara langsung sebagai bahan bakar utama kendaraan bermotor, kandungan senyawa kimianya memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai bahan aditif pada bahan bakar cair, termasuk bensin.
“Potensi ini membuka peluang baru dalam pemanfaatan limbah sawit sebagai sumber energi alternatif sekaligus bahan kimia berbasis hayati yang lebih berkelanjutan,” jelasnya.
Ia menambahkan, penelitian tersebut tidak hanya menawarkan solusi terhadap persoalan penumpukan limbah perkebunan, tetapi juga menghadirkan alternatif penyediaan energi terbarukan yang memiliki nilai tambah ekonomi. Pendekatan tersebut dinilai sejalan dengan konsep ekonomi sirkular yang mendorong pemanfaatan sumber daya secara lebih efisien sekaligus mengurangi dampak lingkungan.
Ke depan, BRIN berharap teknologi pirolisis tandan kosong kelapa sawit dapat diadopsi lebih luas oleh industri sehingga mampu membantu mengurangi limbah biomassa, memperkuat ketahanan energi nasional, sekaligus meningkatkan nilai tambah sektor kelapa sawit Indonesia.
Dengan ketersediaan biomassa sawit yang melimpah, pengembangan teknologi pirolisis dinilai menjadi salah satu peluang strategis bagi Indonesia untuk mempercepat pengembangan energi terbarukan berbasis sumber daya lokal serta mendukung transisi menuju ekonomi hijau yang lebih berkelanjutan. (T2)
