PONTIANAK, InfoSAWIT – Pengelolaan hutan dan lahan di Kalimantan Barat dinilai perlu melihat hubungan antara ekosistem, tanaman, tanah, serta sumber penghidupan masyarakat dalam satu kesatuan lanskap. Pendekatan tersebut dinilai penting untuk menjaga fungsi ekologis sekaligus memastikan masyarakat tetap memperoleh manfaat ekonomi dari lahan yang mereka kelola.
Gagasan itu mengemuka dalam Seminar dan Festival Lanskap Lestari yang digelar Yayasan Farmers for Forest Protection Foundation (4F) bersama Universitas Tanjungpura (UNTAN) dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Pontianak, Kalimantan Barat, Rabu (12/8/2026).
Kegiatan tersebut mempertemukan peneliti, akademisi, pemerintah, petani, masyarakat adat, organisasi masyarakat sipil, dan pelaku usaha untuk membahas pengelolaan lanskap berbasis bukti ilmiah sekaligus pengalaman masyarakat di tingkat tapak.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Kaltim Periode I-Agustus 2026 Naik Rp33,58 per Kg
Direktur Eksekutif 4F Tirza Pandelaki mengatakan, hasil penelitian perlu dipertemukan dengan pengetahuan masyarakat agar tidak berhenti sebagai dokumen akademik.
“Selama bekerja bersama masyarakat di berbagai lanskap desa, kami melihat bahwa perlindungan hutan dan penghidupan masyarakat memang tidak bisa dipisahkan. Karena itu, kami ingin hasil penelitian yang dibahas hari ini tidak berhenti sebagai laporan, tetapi dibicarakan bersama dan dilihat apa yang bisa diterapkan di lapangan,” kata Tirza, dalam keterangan resmi diterima InfoSAWIT, Minggu (16/8/2026).
Dekan Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura, Dr. Ir. Farah Diba, S.Hut., M.Si., menambahkan bahwa prinsip keberlanjutan harus mampu mempertemukan kepentingan ekologis dan ekonomi.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Jambi Periode 14–20 Agustus 2026 Turun Rp32,15 per Kg
Menurutnya, bukti ilmiah perlu diterjemahkan menjadi solusi yang dapat diterapkan masyarakat sekaligus memberikan manfaat ekonomi.
“Keberlanjutan harus mampu menyeimbangkan kepentingan ekologi dan ekonomi. Karena itu, bukti ilmiah tidak boleh berhenti di laboratorium, tetapi harus dapat diterapkan di masyarakat dan memberi manfaat nyata, termasuk meningkatkan perekonomian masyarakat,” ujarnya.
Tembawang Dinilai Penting dalam Lanskap Desa
Salah satu kajian yang dibahas dalam kegiatan tersebut berkaitan dengan hutan regenerasi, hutan dengan kerapatan rendah, dan tembawang atau wanatani yang masih menjadi bagian penting dari lanskap masyarakat Kalimantan Barat.
Expert Spatial Yayasan 4F, Harits Yowansyah Pandayu Putra, mengatakan hasil analisis spasial menunjukkan hutan regenerasi muda dan hutan dengan kerapatan rendah tetap menghadapi risiko kehilangan tutupan.
Analisis dengan meng-overlay data deforestasi Kementerian Kehutanan periode 2023–2025 dan data tutupan hutan berbasis Stok Karbon Tinggi (SKT) menunjukkan adanya kecenderungan deforestasi pada kedua kelas hutan tersebut.
“Perlindungan hutan tidak hanya diperlukan pada kawasan dengan tutupan yang masih rapat. Hutan yang sedang beregenerasi juga perlu dijaga agar peluang pemulihannya tidak kembali hilang,” kata Harits.
