Temuan tersebut memperlihatkan bahwa pengelolaan perkebunan dan lahan pertanian tidak dapat sepenuhnya dilepaskan dari kondisi lingkungan di sekitarnya. Kualitas tanah, keberagaman vegetasi, dan keberadaan mikroorganisme menjadi bagian dari ekosistem yang turut memengaruhi kesehatan tanaman.
Petani Minta Penjaga Hutan Mendapat Manfaat
Perspektif ilmiah dalam seminar tersebut kemudian bertemu dengan pengalaman masyarakat yang selama ini berhadapan langsung dengan perubahan lanskap.
Isa Kenedy, perwakilan petani sekaligus Tim Penjaga Hutan Desa Setawar, Kabupaten Sekadau, mengatakan kelapa sawit tetap memiliki arti penting bagi perekonomian masyarakat. Namun, keberadaan hutan juga tidak kalah penting untuk menjaga lingkungan dan mendukung keberlanjutan kebun.
BACA JUGA: Menkop Dorong Koperasi Miliki Pabrik CPO, Hilirisasi Sawit Dinilai Perkuat Petani
Menurutnya, peningkatan nilai ekonomi sawit perlu diiringi kesadaran untuk menjaga hutan adat maupun hutan yang dikelola masyarakat agar tidak seluruhnya beralih menjadi perkebunan.
“Kalau hutan habis, apa yang akan kita wariskan kepada anak cucu? Karena itu, masyarakat yang menjaga hutan perlu mendapatkan insentif. Jangan hanya mereka yang membuka hutan yang mendapatkan keuntungan, tetapi mereka yang mempertahankan hutan juga harus mendapatkan manfaat,” kata Isa.
Pandangan tersebut menempatkan insentif bagi masyarakat sebagai salah satu bagian penting dalam upaya perlindungan hutan. Masyarakat yang berada di sekitar kawasan hutan dinilai perlu memiliki alasan ekonomi yang kuat untuk mempertahankan tutupan hutan sekaligus mengembangkan sumber penghidupan yang berkelanjutan.
BACA JUGA: 4 Anak Usaha KAS Group Raih ISPO, Targetkan Seluruh Kebun Rampung Tersertifikasi di 2027
Festival Lanskap Dorong Penelitian Berujung Aksi
Rangkaian Seminar dan Festival Lanskap Lestari juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk memperkenalkan hasil pengelolaan lanskap mereka. Sebanyak 11 desa binaan 4F membawa dan memasarkan berbagai hasil hutan bukan kayu (HHBK) serta produk lokal.
Produk unggulan masyarakat juga ditampilkan melalui lomba HHBK sebagai bagian dari upaya memperlihatkan potensi ekonomi yang tumbuh dari lanskap desa.
Kegiatan tersebut turut ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman antara BRIN dan UNTAN serta penyerahan isolat Azotobacter kepada UNTAN untuk mendukung penelitian dan inovasi lanjutan yang disesuaikan dengan kondisi lingkungan setempat.
Tirza mengatakan festival tersebut diharapkan menjadi ruang untuk mempertemukan pengetahuan ilmiah dengan pengalaman masyarakat.
“Melalui festival ini, kami ingin menunjukkan bahwa masyarakat memiliki pengetahuan, pengalaman, produk, dan potensi ekonomi yang tumbuh dari lanskap mereka. Hasil penelitian membantu kita memahami lanskap, sementara masyarakat tahu bagaimana lanskap itu dikelola dan dimanfaatkan,” ujarnya.
Menurutnya, tantangan berikutnya adalah memastikan pengetahuan dan pengalaman tersebut tidak berhenti pada forum diskusi, tetapi diterjemahkan menjadi praktik pengelolaan lahan yang memberikan manfaat ekonomi sekaligus mempertahankan fungsi ekologis.
BACA JUGA: Mahasiswa UNDIP Sulap Limbah Sawit Jadi Pakan Ternak, Raih Gold Medal Nasional
Pendekatan lanskap dengan demikian tidak hanya berbicara mengenai bagaimana hutan dipertahankan, tetapi juga bagaimana tanah, tanaman, perkebunan, tembawang, dan sumber penghidupan masyarakat dapat dikelola secara lebih terintegrasi. (T2)
