Indonesia Dorong Negara-Negara Selatan Naik Kelas Lewat Hilirisasi Mineral Kritis

oleh -361 Kali Dibaca
Editor: Redaksi InfoSAWIT
InfoSAWIT
Dok. Istimewa/(Kiri-kanan) Wakil Ketua Sekretariat Satgas Percepatan Hilirisasi dan Ketahanan Energi Hariyanto, Direktur Jendral Mineral dan Batu Bara Tri Winarno, Deputi Bidang Hilirisasi Investasi Strategis BKPM Heldy Satrya Putera, Direktur Eksekutif INDEF Esther Sri Astuti, dan Direktur Program Yayasan Penabulu Rini Devianti Nasution di acara Jakarta Agenda Declaration, di Jakarta, Kamis (13/8/2026).

InfoSAWIT, JAKARTA – Persaingan industri mineral kritis mulai bergeser dari sekadar perebutan akses terhadap bahan mentah menuju upaya membangun ekosistem industri yang mampu menciptakan nilai tambah di negara produsen. Bagi negara-negara Global Selatan atau belahan bumi selatan, perubahan arah tersebut dinilai penting agar kekayaan sumber daya alam tidak berhenti sebagai komoditas ekspor.

Gagasan tersebut mengemuka dalam diskusi Critical Minerals & Green Industrialization for Shared Prosperity in the Global South di Jakarta, Kamis (13/8/2026). Forum yang mempertemukan negara-negara dari Asia, Afrika, Amerika Latin hingga Timur Tengah itu turut melahirkan Agenda Jakarta sebagai pijakan bersama untuk mendorong industrialisasi hijau dan memperkuat posisi negara produsen dalam rantai nilai mineral kritis global.

Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM Tri Winarno mengatakan, negara-negara produsen di Global Selatan memiliki kepentingan yang sama untuk meningkatkan porsi nilai tambah ekonomi yang diperoleh dari sumber daya mineral. Karena itu, kerja sama strategis antarnegara menjadi semakin penting.

BACA JUGA: Harga TBS Sawit Kaltim Periode I-Agustus 2026 Naik Rp33,58 per Kg

Menurut dia, pengalaman Indonesia dalam mendorong hilirisasi nikel dan tembaga dapat menjadi salah satu contoh bagaimana sumber daya alam diolah lebih lanjut sehingga tidak semata-mata diekspor dalam bentuk mentah.

Namun, Tri mengingatkan bahwa hilirisasi tidak cukup hanya mengejar peningkatan kapasitas pengolahan. Keberlanjutan harus menjadi fondasi utama, termasuk penerapan standar lingkungan, keselamatan kerja, serta sistem keterlacakan atau traceability dalam seluruh rantai produksi.

Selain aspek lingkungan, pengembangan industri mineral kritis juga harus memberikan manfaat langsung bagi perekonomian domestik. Pengolahan mineral diharapkan mampu menciptakan lapangan kerja yang layak sekaligus memperkuat daya saing industri manufaktur.

BACA JUGA: Harga TBS Sawit Jambi Periode 14–20 Agustus 2026 Turun Rp32,15 per Kg

“Indonesia siap menjadi mitra sepadan untuk membangun rantai nilai mineral kritis yang bernilai tambah, bertanggung jawab, serta menyejahterakan Global Selatan,” kata Tri, dalam keterangan resmin dilansir InfoSAWIT, Minggu (16/8/2026).

 

Hilirisasi Mineral Kritis Tak Bisa Berjalan Sendiri

Deputi Bidang Hilirisasi Investasi Strategis BKPM Heldy Satrya Putera menilai pengembangan mineral kritis ke depan perlu diarahkan pada pembentukan ekosistem industri yang terintegrasi.

Menurut Heldy, negara-negara di Asia, Afrika, Amerika Latin dan Timur Tengah memiliki sumber daya, kapasitas serta keunggulan yang berbeda. Perbedaan tersebut justru dapat menjadi modal untuk membangun rantai nilai regional melalui kemitraan investasi, transfer dan kolaborasi teknologi, serta penyelarasan standar produksi yang bertanggung jawab.

BACA JUGA: Harga CPO KPBN Inacom Naik Tipis pada Jumat (14/8), Perdagangan CPO di Bursa Malaysia Ditutup Menguat

Kolaborasi lintas kawasan juga dinilai dapat mempertemukan modal, teknologi dan kapasitas manufaktur yang selama ini tersebar di berbagai negara Global Selatan.

Dalam kerangka tersebut, Indonesia tidak hanya menawarkan pengalaman hilirisasi, tetapi juga membuka ruang untuk belajar bersama dengan negara produsen lainnya.

“Fokus utama kita bukan sekadar mengolah komoditas mentah, melainkan membangun ekosistem industri yang berdaya saing dengan memadukan kebijakan industri dan prinsip hijau. Indonesia terbuka untuk saling belajar dan berkolaborasi guna memperkuat kapasitas produksi, keterlacakan, serta rantai pasok global bersama mitra di kawasan selatan,” ujar Heldy.

 

Dapatkan update berita InfoSAWIT setiap hari dengan bergabung di Grup Telegram "InfoSAWIT - News Update", caranya klik link InfoSAWIT-News Update, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Bisa juga IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


Atau ikuti saluran Whatsapp "InfoSAWIT News", caranya klik link InfoSAWIT News

Untuk informasi langganan dan Iklan silahkan WhatsApp ke Marketing InfoSAWIT_01 dan Marketing InfoSAWIT_02 atau email ke sawit.magazine@gmail.com