InfoSAWIT, LONDON – Industri biodiesel Inggris tengah menghadapi tekanan setelah pemerintah memutuskan tidak memberlakukan bea perlindungan terhadap impor biodiesel bersubsidi dari Amerika Serikat (AS). Keputusan tersebut memicu kekhawatiran pelaku industri terhadap keberlangsungan kapasitas produksi biodiesel domestik.
Dilansir InfoSAWIT dari Bioenergy Times, Kamis (1/10/2026), keputusan pemerintah Inggris tersebut sebelumnya mendapat sorotan setelah kajian resmi menunjukkan bahwa pengenaan tarif lebih dari £250 per ton berpotensi memberikan perlindungan bagi produsen biodiesel domestik.
Namun, Menteri Bisnis Inggris Jonathan Reynolds menolak usulan penerapan bea tersebut pada awal September 2026. Pemerintah mendasarkan keputusan itu pada kajian kepentingan ekonomi yang memperkirakan kebijakan perlindungan hanya memberikan manfaat sekitar £3 juta per tahun bagi produsen Inggris. Sebaliknya, biaya tambahan yang harus ditanggung pengguna industri hilir dan konsumen diperkirakan mencapai sekitar £46 juta per tahun.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Plasma Riau Turun Rp36,41 per Kg, Umur 9 Tahun Jadi Rp3.912,29
Kapasitas Produksi Terus Menyusut
Renewable Transport Fuel Association (RTFA), organisasi yang mewakili industri bahan bakar terbarukan Inggris, menilai keputusan tersebut berpotensi semakin menekan industri biodiesel domestik.
RTFA mencatat Inggris kini hanya memiliki tiga fasilitas produksi biodiesel. Jumlah tersebut telah berkurang dibandingkan beberapa tahun sebelumnya ketika terdapat lima fasilitas produksi.
Chief Executive RTFA Alex Wolfe mengatakan, kebijakan tersebut dapat membuat Inggris semakin bergantung pada pasokan bahan bakar terbarukan dari luar negeri. Ketergantungan itu dinilai membuat pasar domestik lebih rentan terhadap perubahan harga dan kondisi perdagangan global.
BACA JUGA: India Pangkas Bea Masuk Minyak Nabati, Industri Makanan Berpotensi Tekan Biaya
Menurut Wolfe, Inggris justru membutuhkan peningkatan kapasitas produksi bahan bakar rendah karbon di dalam negeri untuk mendukung transisi energi, bukan mengurangi kapasitas yang sudah tersedia.
Biodiesel diproduksi dari berbagai bahan baku terbarukan, termasuk minyak jelantah, minyak limbah, serta lemak hewan. Bahan bakar tersebut kemudian digunakan sebagai campuran bahan bakar konvensional untuk kendaraan jalan raya, truk, hingga kapal.
Industri biodiesel menempatkan bahan bakar tersebut sebagai salah satu bagian dari upaya mengurangi emisi karbon dan mendukung target net-zero.
BACA JUGA: Aksi Sigap Petani Sawit Swadaya Menjaga Kehidupan Dari Kebakaran Lahan
Produksi Biodiesel Global Terus Tumbuh
Di tengah persoalan industri domestik Inggris, kebutuhan biodiesel secara global justru diproyeksikan meningkat.
World Bioenergy Association bersama Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) dan Food and Agriculture Organization (FAO) memperkirakan produksi biodiesel dunia meningkat hampir 40%, dari sekitar 71 miliar liter pada 2024 menjadi 99 miliar liter pada 2035.
Namun, produsen Inggris saat ini hanya memasok sekitar 7% kebutuhan biodiesel domestik. Sementara itu, impor dari AS diperkirakan menyumbang sekitar seperempat pasar Inggris.
BACA JUGA: El Niño Mulai Diuji, Produksi Sawit Jadi Penentu Arah Harga CPO
Sisa kebutuhan terutama dipenuhi dari sejumlah negara dan kawasan lain, termasuk China, Uni Eropa, serta Malaysia.
Kondisi tersebut membuat posisi produsen domestik Inggris menjadi semakin penting dalam perdebatan mengenai ketahanan pasokan energi terbarukan.
Dickon Posnett, Corporate Affairs Director Argent Energy, salah satu produsen biodiesel Inggris yang masih bertahan, mengatakan industri membutuhkan kejelasan mengenai arah kebijakan pemerintah dalam jangka panjang.
BACA JUGA: UU Reforma Agraria dan Prospek Investasi Kelapa Sawit
Menurut Posnett, kepastian kebijakan menjadi penting bagi pelaku usaha untuk menentukan investasi dan mempertahankan kapasitas produksi bahan bakar terbarukan di Inggris.
Dugaan Dampak Impor AS
Persoalan tersebut bermula ketika produsen biodiesel Inggris mengajukan pengaduan kepada Trade Remedies Authority pada Maret 2025. Mereka menilai impor biodiesel bersubsidi dari AS telah memberikan tekanan terhadap produsen domestik.
Otoritas perdagangan Inggris kemudian menemukan adanya bukti kerugian terhadap industri domestik. Namun, rekomendasi untuk memberikan perlindungan perdagangan akhirnya tidak diterapkan setelah pemerintah menyimpulkan bahwa persyaratan berdasarkan kepentingan ekonomi yang lebih luas tidak terpenuhi.
