Posnett kemudian mempertanyakan apakah pertimbangan yang lebih luas, termasuk hubungan perdagangan antara Inggris dan AS, turut berperan dalam keputusan tersebut. Pernyataan itu dilaporkan Financial Times dan merupakan pandangan dari pihak industri, bukan temuan resmi pemerintah.
Perdebatan mengenai biodiesel juga mengingatkan industri Inggris pada kebijakan perdagangan sebelumnya terkait bioetanol.
Tahun lalu, pemerintah Inggris memberikan kuota impor bioetanol asal AS sebesar 1,4 miliar liter melalui kesepakatan perdagangan dengan pemerintahan Presiden AS Donald Trump. Bioetanol merupakan bahan bakar terbarukan yang berbeda dari biodiesel.
BACA JUGA: Harga CPO KPBN Inacom Naik Pada Senin (28/9), Perdagangan CPO di Bursa Malaysia Ditutup Bervariasi
Setelah pengaturan tersebut, fasilitas bioetanol terbesar di Inggris ditutup. Fasilitas itu sebelumnya disebut mendukung sekitar 4.000 lapangan pekerjaan dan menyisakan satu fasilitas bioetanol yang masih beroperasi.
Industri Minta Kepastian Kebijakan
RTFA kini berkonsultasi dengan penasihat hukum untuk mempertimbangkan langkah hukum terhadap keputusan pemerintah Inggris. Organisasi tersebut juga mendorong pemerintah mengambil kebijakan yang lebih kuat untuk mendukung produksi bahan bakar terbarukan di dalam negeri.
Di sisi lain, Department for Business, Innovation and Science and Trade menegaskan pemerintah tetap berkomitmen membangun industri bahan bakar rendah karbon Inggris yang kompetitif.
BACA JUGA: BRIN Kembangkan Sensor Real-Time untuk Deteksi MOAH pada Minyak Sawit
Pemerintah juga menyatakan produsen domestik telah memperoleh perlindungan melalui sejumlah instrumen trade remedies. Selain itu, kebijakan Renewable Transport Fuel Obligation (RTFO) tetap mendukung penggunaan bahan bakar nabati berkelanjutan, termasuk biodiesel.
Perdebatan di Inggris memperlihatkan tantangan yang dihadapi negara-negara dalam membangun industri bahan bakar terbarukan. Di satu sisi, impor dapat memberikan pasokan dengan biaya lebih rendah bagi pengguna. Namun di sisi lain, keberadaan kapasitas produksi domestik menjadi bagian dari pertimbangan ketahanan energi, investasi, dan pengembangan industri rendah karbon dalam jangka panjang. (T2)
