InfoSAWIT, JAKARTA – Permintaan biofuel melonjak, pasokan minyak nabati tertinggal. Di tengah dorongan kebijakan dan keterbatasan bahan baku, pasar global bergerak ke satu arah, harga naik, keseimbangan berubah.
Pada gelaran 37th Palm & Lauric Oils Price Outlook Conference & Exhibition (POC) 2026 di Kuala Lumpur, Head of Vegoils and Biofuels Research, CERAS Analytics, Artem Hammerschmidt memaparkan sesuatu yang tampak seperti tren biasa, harga minyak nabati tetap kuat. Namun di balik itu, ada perubahan yang lebih mendasar—pasar tidak lagi sepenuhnya ditentukan oleh pangan, melainkan oleh energi.
“Permintaan secara struktural melampaui pasokan,” ujarnya. Sebuah kalimat sederhana, tapi cukup untuk menjelaskan mengapa harga minyak nabati tak lagi tunduk pada siklus lama.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Kaltim Periode II Oktober 2026 Turun, Usia 10–20 Tahun Jadi Rp3.476,09
Dulu, minyak nabati adalah soal dapur dan industri makanan. Kini, ia menjadi bahan bakar—secara harfiah. Biofuel, dari biodiesel hingga Sustainable Aviation Fuel (SAF), menyedot kebutuhan minyak dan lemak dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Pada 2025, produksi biofuel di luar Amerika Serikat naik 2,3 juta ton. Bukan semata karena kebutuhan energi, melainkan karena kebijakan, mandat yang semakin agresif, serta harga sertifikat biofuel yang melonjak.
Di balik itu semua, ada mekanisme yang bekerja diam-diam. Ketika selisih harga antara minyak nabati dan gasoil melebar, sistem insentif justru mendorong produksi biofuel. Margin produsen membaik—bukan karena efisiensi, tetapi karena kebijakan.
BACA JUGA: RSPO Sebut Mayoritas Kebakaran Lahan di Indonesia Terjadi di Luar Konsesi Sawit
‘Energi, pada akhirnya, tidak hanya mengonsumsi minyak nabati. Ia mengatur ulang logika pasar,” kata Artem Hammerschmidt, dalam paparannya.
Amerika Serikat: Mesin Permintaan Baru
Jika ada satu wilayah yang akan mengubah peta global, itu adalah Amerika Serikat.
Target biofuel 2026–2027 diproyeksikan melonjak tajam—bahkan melampaui kapasitas domestik. Untuk menutup celah itu, Amerika akan melakukan dua hal sekaligus: menyerap lebih banyak bahan baku dari dalam negeri, dan menarik impor dari luar.
Minyak kedelai menjadi prioritas, didorong oleh insentif produksi (45Z). Namun itu tidak cukup. Amerika tetap membutuhkan pasokan besar minyak jelantah dan limbah dari pasar global.
Konsekuensinya langsung terasa: ekspor biodiesel Amerika harus turun, sementara impor meningkat. Sebuah pembalikan posisi yang signifikan—dari eksportir menjadi importir.
Dalam lanskap seperti ini, harga tidak lagi ditentukan hanya oleh produksi. Ia ditentukan oleh kebijakan. (T2)
Lebih lengkap baca Majalah InfoSAWIT Edisi Agustus 2026
