InfoSAWIT, JAKARTA – Dalam beberapa tahun terakhir, satu variabel baru muncul sebagai penentu harga sawit global: kebijakan biodiesel Indonesia.
Ketua Bidang Luar Negeri Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Fadhil Hasan, menilai program biodiesel nasional kini telah berkembang menjadi salah satu price anchor terbesar di pasar minyak sawit dunia. Sebagai produsen sawit terbesar global, setiap kebijakan peningkatan blending—menuju B45 hingga eventual B50—berarti semakin besar volume CPO yang dialihkan dari jalur ekspor ke konsumsi energi domestik.
Meski pemerintah memutuskan mandatori tahun ini tetap di level B40, rencana peningkatan campuran biodiesel tetap menciptakan ekspektasi pasar yang kuat.
BACA JUGA: Kinerja Teladan Prima Agro Semester I 2026 Tumbuh, Pendapatan Naik 6,5% Jadi Rp2,71 Triliun
Artinya, bahkan ketika produksi naik, pasokan ekspor yang tersedia bagi pasar global belum tentu bertambah signifikan. Di sinilah harga mendapatkan penopang struktural.
“Mandatori biodiesel secara langsung mengalihkan sawit dari kanal ekspor ke penggunaan energi, dan itu berdampak besar terhadap inventori global maupun floor price CPO,” demikian benang merah pandangan Fadhil Hasan.
Meski produksi diperkirakan tetap naik, sisi suplai masih menyimpan banyak ketidakpastian.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Kaltim Periode II-Juli 2026 Naik Rp. 50,56 per Kg
Cuaca tetap menjadi variabel paling sensitif. Pola La Niña, misalnya, dapat meningkatkan curah hujan dan mengganggu produktivitas maupun panen. Di Malaysia, siklus replanting, usia tanaman yang menua, serta isu tenaga kerja masih menjadi penghambat pertumbuhan output yang agresif.
Sementara di Indonesia, dinamika tata kelola lahan, penguatan pengawasan kebun, serta perubahan kebijakan domestik berpotensi memengaruhi ritme produksi.
Dengan kata lain, pasokan sawit global masih bertumbuh, tetapi elastisitasnya terbatas.
BACA JUGA: SPKS Dukung Percepatan RAD Sawit Berkelanjutan Konawe Utara, Fokus STDB dan ISPO Petani
Ketika suplai tumbuh moderat dan permintaan energi domestik meningkat, harga berpotensi tetap kuat—meski volatilitas akan tetap tinggi.
Harga Masih Tinggi, Tapi Lebih Rasional
Secara historis, rata-rata harga sawit sepanjang 2025 berada di level RM 4.285 per ton di Bursa Malaysia Derivatives, sedikit lebih rendah dibanding rerata 2024 sebesar RM 4.372 per ton. Di pasar domestik, harga referensi KPBN juga turun tipis menjadi ekuivalen RM 3.708, dibanding RM 3.815 tahun sebelumnya.
Yang menarik, sepanjang September 2024 hingga Maret 2025, sawit sempat menikmati status premium oil, ketika harganya diperdagangkan lebih tinggi dibanding minyak nabati lain—terutama soybean oil.
