InfoSAWIT, PETALING JAYA – Harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) diperkirakan masih bertahan pada level tinggi dalam beberapa bulan ke depan. Meski persediaan minyak sawit Malaysia berpotensi meningkat akibat memasuki periode puncak produksi, penguatan harga energi, permintaan biodiesel, serta risiko cuaca menjadi sejumlah faktor yang dapat menopang pasar.
Dilansir InfoSAWIT dari The Star, Rabu (16/9/2026), BIMB Research memperkirakan harga CPO tetap berada pada level tinggi selama tiga bulan mendatang. Namun, ruang kenaikan diperkirakan terbatas oleh peningkatan produksi musiman dan tingginya stok minyak sawit.
BIMB Research mempertahankan proyeksi harga CPO rata-rata sebesar RM4.400 per ton untuk 2026 dan RM4.500 per ton pada 2027. Lembaga riset tersebut juga melihat adanya potensi kenaikan di atas proyeksi tersebut.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Sumbar Periode II September 2026 Naik Rp22,18 per Kg
Prospek harga CPO pada 2027 turut mendapat dukungan dari kemungkinan dampak tertunda El Niño. Fenomena cuaca tersebut berpotensi memperketat pasokan minyak sawit regional sehingga memberikan tekanan terhadap keseimbangan pasar.
Harga CPO Agustus Tembus RM4.549 per Ton
Penguatan harga CPO tercermin dari data Malaysian Palm Oil Board (MPOB). Pada Agustus 2026, harga rata-rata CPO mencapai RM4.549 per ton, meningkat 1,2 persen dibandingkan bulan sebelumnya dan naik 5,1 persen secara tahunan.
Harga tersebut menjadi rata-rata bulanan tertinggi sejak April, meskipun kinerja ekspor minyak sawit Malaysia masih mengalami tekanan.
BACA JUGA: RSI – USU Dorong Penguatan Kelembagaan Petani Sawit
Menurut BIMB Research, kenaikan harga terutama dipengaruhi risiko dari sisi pasokan, meningkatnya kekhawatiran terhadap El Niño serta faktor yang berkaitan dengan energi.
Harga gas oil yang menguat sepanjang Agustus hingga awal September turut memperbaiki daya saing biodiesel berbasis sawit. Kenaikan tersebut memperlebar diskon harga minyak sawit terhadap gas oil menjadi US$315 per ton, dibandingkan rata-rata lima tahun yang mencatat premium sebesar US$180 per ton.
Kondisi tersebut membuat keekonomian produksi biodiesel menjadi lebih menarik dan berpotensi meningkatkan permintaan terhadap minyak sawit.
Sementara itu, rata-rata harga CPO selama delapan bulan pertama 2026 tercatat sebesar RM4.413 per ton. Angka tersebut relatif sejalan dengan proyeksi BIMB Research untuk rata-rata harga CPO sepanjang 2026 sebesar RM4.400 per ton.
Stok Sawit Berpotensi Mendekati 3 Juta Ton
Pandangan serupa disampaikan UOB Kay Hian (UOBKH) Research. Lembaga riset tersebut mempertahankan proyeksi harga CPO sebesar RM4.500 per ton untuk 2026 dan RM4.400 per ton untuk 2027.
Proyeksi tersebut masih berada di sekitar harga rata-rata CPO yang dicatat MPOB pada Agustus 2026, yakni RM4.548,50 per ton.
Dari sisi produksi, UOBKH Research memperkirakan produksi sawit Malaysia mencapai puncaknya pada September dan Oktober. Kondisi tersebut berpotensi mendorong persediaan minyak sawit mendekati tiga juta ton pada akhir September.
Faktor cuaca juga menjadi perhatian. Curah hujan Malaysia pada Agustus tercatat hanya 152 milimeter (mm), terendah sepanjang tahun berjalan. Wilayah barat Semenanjung Malaysia dan Sarawak bahkan mencatat curah hujan di bawah rata-rata, masing-masing sebesar 108 mm dan 136 mm.
Meski stok diperkirakan meningkat, UOBKH Research menilai kenaikan persediaan saat ini lebih banyak dipicu oleh perkembangan ekspor dibandingkan peningkatan pasokan.
BACA JUGA: Pendekatan Sosiologi dan Antropologi Dinilai Penting untuk Perkuat Kemitraan Petani Sawit
Dengan kombinasi potensi peningkatan stok, puncak produksi musiman, harga energi yang menguat dan risiko cuaca, pasar CPO Malaysia diperkirakan tetap bergerak dalam kondisi yang relatif kuat. Perkembangan produksi dan dampak El Niño selanjutnya akan menjadi faktor penting yang menentukan arah harga sawit hingga memasuki 2027. (T2)
