InfoSAWIT, KUALA LUMPUR – Persediaan minyak sawit Malaysia melonjak ke level tertinggi dalam lima bulan pada Juli 2026. Namun, kenaikan stok tersebut belum mampu menekan harga minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO), yang justru tetap bertahan kuat di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap potensi pengetatan pasokan mulai 2027.
Pasar kini mulai melihat risiko jangka menengah, terutama dari menguatnya fenomena El Niño, penerapan mandatori biodiesel B50 di Indonesia, hingga gangguan pasokan minyak nabati pesaing dari kawasan Laut Hitam.
Sejak awal tahun, harga CPO acuan telah menguat lebih dari 15 persen. Rata-rata harga CPO Malaysia pada Juli 2026 tercatat sebesar RM4.493 per ton, naik 9,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, rata-rata harga selama tujuh bulan pertama tahun ini berada di level RM4.388 per ton.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Jambi Periode 28 Agustus–3 September 2026 Naik Rp47,02 per Kg
Prospek harga CPO yang lebih tinggi juga mulai mendapat dukungan dari sejumlah pelaku industri. Produsen sawit besar, SD Guthrie, memperkirakan harga CPO dapat bergerak di kisaran RM4.600 hingga RM5.000 per ton sepanjang sisa tahun 2026. Jika dampak El Niño semakin nyata, harga bahkan berpotensi mencapai RM5.200 per ton pada kuartal pertama 2027.
Dilansit InfoSAWIT dari The Edge Market, Sabtu (29/8/2026), Ivy Ng Lee Fang, Head of Malaysia Research and Regional Plantation Analyst CIMB Securities, menilai pasar mulai beralih dari sekadar memperhitungkan ekspektasi terhadap dampak El Niño menjadi mencermati tanda-tanda nyata dari perubahan kondisi cuaca tersebut.
Menurutnya, banyak pihak mulai memperkirakan harga CPO akan bergerak lebih tinggi, terutama jika produksi mulai tertekan menjelang 2027.
BACA JUGA: MPOC: Musim Monsun Berpotensi Redam Dampak Super El Niño terhadap Produksi Sawit Malaysia
El Niño Mulai Jadi Perhatian Pasar Sawit
Kekhawatiran terhadap El Niño menjadi salah satu faktor utama yang menopang sentimen pasar. Kondisi kering dinilai berpotensi memberikan dampak lebih besar terhadap produksi kelapa sawit di Indonesia dibandingkan Malaysia.
Aktivitas titik panas di Indonesia juga menunjukkan peningkatan selama Agustus 2026, terutama di Kalimantan. Data Asean Specialised Meteorological Centre mencatat jumlah titik panas meningkat 159 persen secara bulanan menjadi 3.462 titik.
Meski jumlah tersebut masih jauh di bawah periode El Niño kuat seperti pada 2015 dan 2019, laju peningkatan titik panas dinilai menjadi sinyal meningkatnya kondisi kering di sejumlah wilayah Indonesia.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Sumbar Periode IV Agustus 2026 Naik Rp108,52 per Kg
CGS International dalam catatannya juga menyoroti kebakaran hutan yang dilaporkan terjadi di Jawa Timur pada awal Agustus dan berdampak pada sekitar 550 hektare. Kondisi tersebut dipandang sebagai indikasi meningkatnya kekeringan di beberapa wilayah.
Jika periode kering berlangsung lebih lama, kondisi tersebut bukan hanya berpotensi mengganggu produksi, tetapi juga dapat meningkatkan risiko kabut asap yang dapat memengaruhi aktivitas panen di Malaysia.
Pengalaman El Niño 2015/2016 menjadi salah satu referensi bagi pasar. Pada periode tersebut, harga CPO tercatat meningkat sekitar 21,5 persen, sementara produksi CPO Malaysia turun dari 19,96 juta ton pada 2015 menjadi 17,32 juta ton pada 2016.
BACA JUGA: Kabut Asap Riau, PERSI Pastikan Rumah Sakit Siaga 24 Jam Antisipasi Lonjakan ISPA
CIMB sendiri telah menaikkan proyeksi rata-rata harga CPO untuk 2026 dan 2027 masing-masing sebesar RM50 per ton menjadi RM4.450 dan RM4.550 per ton. Revisi tersebut mempertimbangkan risiko geopolitik, penguatan El Niño, serta meningkatnya permintaan biodiesel di Indonesia.
Stok Sawit Malaysia Naik 3,3 Persen
Di sisi lain, laporan bulanan Malaysian Palm Oil Board atau MPOB menunjukkan persediaan minyak sawit Malaysia pada Juli 2026 meningkat 3,3 persen secara bulanan menjadi 2,63 juta ton.
Posisi tersebut merupakan yang tertinggi dalam lima bulan dan naik 24 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
