InfoSAWIT, JAKARTA – Di sejumlah wilayah operasional PT Bumitama Gunajaya Agro, pembangunan tak lagi semata diukur dari jalan atau bangunan yang berdiri. Perusahaan mulai menempatkan pendidikan, penguatan ekonomi lokal, dan pengembangan talenta desa sebagai fondasi baru keberlanjutan industri sawit.
Di banyak wilayah perkebunan sawit, pembangunan biasanya mudah dikenali lewat jalan yang dibeton, jembatan yang dibangun, atau bangunan fisik yang berdiri tegak di tengah kebun. Infrastruktur menjadi simbol paling kasatmata dari kehadiran perusahaan. Namun di lingkungan operasional PT Bumitama Gunajaya Agro (BGA), arah pembangunan mulai bergeser perlahan: dari membangun fasilitas fisik menuju membangun manusia.
Perubahan pendekatan itu, menurut Corporate Affair Director BGA Johan Sukardi kepada InfoSAWIT pada pertengahan Mei 2026, bukan semata perubahan program Corporate Social Responsibility (CSR), melainkan perubahan cara pandang tentang keberlanjutan. BGA melihat pembangunan jangka panjang tidak cukup hanya meninggalkan jejak infrastruktur, tetapi juga harus meninggalkan kapasitas berpikir, keterampilan, dan daya tahan sosial masyarakat desa.
BACA JUGA: KLK dan AAK Bangun Kilang Minyak dan Lemak Khusus di Johor, Target Beroperasi Penuh 2029
Di titik itulah BGA mulai menempatkan pengembangan sumber daya manusia sebagai investasi strategis. Mereka membaca satu pola sederhana tetapi menentukan, negara-negara dengan pendapatan tinggi cenderung memiliki Human Development Index yang tinggi pula. Artinya, kemajuan ekonomi pada akhirnya ditopang kualitas manusia yang mampu mengelola peluang, sumber daya, dan perubahan.
Karena itu, perusahaan mulai menggeser orientasi dari pendekatan berbasis bantuan menuju pendekatan berbasis kapasitas. Fokusnya bukan lagi sekadar “apa yang dibangun”, tetapi “siapa yang tumbuh”.
Dari gagasan itu lahirlah Sekolah Desa Berdaya—sebuah pusat pengembangan masyarakat yang menjadi penggerak utama program pemberdayaan BGA. “Program ini tidak berdiri sebagai proyek tunggal, melainkan menjadi simpul dari enam pilar CSR perusahaan, mulai dari pendidikan, ekonomi, kesehatan, lingkungan, hingga kemanusiaan,” ungkap Johan.
BACA JUGA: Produksi Sawit Indonesia Juni 2026 Naik 8,59%, Konsumsi Biodiesel Tembus 1,13 Juta Ton
Di dalamnya, BGA mencoba menjawab dua tantangan sekaligus, masa depan industri sawit berkelanjutan dan kesiapan masyarakat desa menghadapi perubahan ekonomi. Maka yang dibangun bukan hanya keterampilan perkebunan, tetapi juga ekonomi non-sawit berbasis potensi lokal, kewirausahaan desa, hingga penguatan generasi muda menuju desa rendah karbon.
Pendekatan itu kemudian diterjemahkan ke lapangan secara konkret. Hingga Mei 2026, tercatat telah terbentuk 39 kelompok binaan yang didampingi langsung oleh CSR BGA. Kelompok-kelompok ini bergerak di sektor pertanian, peternakan, perikanan, olahan pangan, dan kerajinan tangan.
Hasilnya mulai terlihat dalam angka-angka ekonomi desa. Program budidaya produktif menghasilkan produksi lebih dari 29 ribu kilogram komoditas pertanian, peternakan, dan perikanan dengan omzet mencapai Rp1,14 miliar. Sementara sektor olahan pangan dan kerajinan tangan telah menghasilkan lebih dari 44,7 ribu Pcs (produk) dengan omzet sekitar Rp658 juta. Secara keseluruhan, total omzet kelompok binaan telah mencapai Rp1,8 miliar hingga Mei 2026.
“Produk-produk masyarakat bahkan mulai masuk ke jaringan pasar modern seperti Hypermart di Ketapang dan Pangkalan Bun, serta pusat oleh-oleh di Kalimantan Tengah,” terang Johan.
Namun bagi BGA, keberhasilan program tidak berhenti pada peningkatan omzet. Yang lebih penting adalah lahirnya “local champions”—orang-orang desa yang mampu menjadi penggerak sosial dan ekonomi di wilayahnya sendiri.
Karena itu, program pemberdayaan mereka dirancang bertingkat. Ada penguatan kelembagaan kelompok, peningkatan kapasitas petani sawit swadaya, hingga pengembangan daya saing pemuda desa melalui pendidikan formal dan nonformal.
BACA JUGA: BMKG Prediksi Risiko Karhutla Meningkat pada September 2026, Jambi dan Sejumlah Wilayah Jadi Sorotan
BGA, misalnya, mendukung pendidikan kesetaraan Paket C bagi masyarakat desa sekitar perusahaan. Pada tahun ajaran 2025/2026, program itu diikuti 81 peserta dengan tingkat kehadiran lebih dari 90 persen. Jumlah PKBM yang didukung perusahaan juga tumbuh dari satu menjadi empat dalam tiga tahun terakhir. (T2)
