InfoSAWIT, SINGAPURA – Kinerja operasional Kencana Agri Limited sepanjang enam bulan pertama 2026 menunjukkan pertumbuhan positif. Produksi minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) perseroan meningkat 5,6 persen, didukung kenaikan volume tandan buah segar (TBS) yang diolah serta membaiknya tingkat ekstraksi minyak.
Dilansir InfoSAWIT dari keterangan resmi Kencana Agri Limited, ditulis Minggu (23/8/2026), total TBS yang diolah grup sepanjang periode Januari hingga Juni 2026 mencapai 463.104 ton, meningkat 3,4 persen dibandingkan 448.088 ton pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Dari total tersebut, sebanyak 374.518 ton TBS berasal dari kebun inti dan plasma. Sementara pasokan TBS dari pihak ketiga melonjak 55,4 persen menjadi 88.586 ton.
BACA JUGA: Agrinas Siapkan Pilot Project Plasma Sawit Bersama Koperasi di Sumatera Utara
Peningkatan pembelian TBS eksternal tersebut dilakukan untuk menjaga tingkat utilisasi pabrik, terutama pada operasional perseroan di Bangka yang saat ini tengah menjalankan program peremajaan atau replanting.
Produksi CPO Tembus 99 Ribu Ton
Seiring meningkatnya volume pengolahan TBS, produksi CPO Kencana Agri juga mencatatkan pertumbuhan yang lebih tinggi. Sepanjang semester pertama 2026, produksi CPO mencapai 99.201 ton, naik dari 93.981 ton pada periode yang sama tahun 2025.
Pertumbuhan produksi CPO tersebut melampaui kenaikan volume TBS yang diolah. Salah satu faktor pendukungnya adalah perbaikan oil extraction rate (OER) atau tingkat ekstraksi minyak.
BACA JUGA: Harga CPO KPBN Inacom Naik pada Selasa (18/8), Harga CPO di Bursa Malaysia Menguat
OER Kencana Agri meningkat menjadi 21,4 persen, dibandingkan 21,0 persen pada semester pertama 2025. Perseroan menilai kenaikan tersebut mencerminkan perbaikan berkelanjutan dalam efisiensi proses pengolahan di pabrik kelapa sawit.
Di tengah upaya meningkatkan produktivitas, Kencana Agri juga menghadapi perubahan struktur umur tanaman. Hingga 30 Juni 2026, total areal tertanam grup tercatat mencapai 67.862 hektare, yang terdiri atas 51.151 hektare kebun inti dan 16.711 hektare kebun plasma.
Luas tersebut relatif tidak banyak berubah dibandingkan posisi akhir 2025 yang mencapai 67.885 hektare.
BACA JUGA: RSPO Dorong Sertifikasi Jadi Kunci Akses Pasar dan Penguatan Petani Sawit Swadaya
Namun, struktur usia tanaman menjadi perhatian penting. Selama semester pertama tahun ini, sekitar 6.716 hektare tanaman berpindah dari kategori usia produktif utama, yakni 7–18 tahun, ke kelompok tanaman berusia di atas 18 tahun.
Perubahan tersebut membuat porsi tanaman berumur lebih dari 18 tahun meningkat hingga mencapai 35,9 persen dari total areal tertanam. Kondisi ini menjadi salah satu alasan Kencana Agri terus melanjutkan program peremajaan untuk memperbarui basis produksi secara bertahap pada tahun-tahun mendatang.
B50, Geopolitik dan El Nino Jadi Faktor Penentu
Chairman Kencana Agri, Henry Maknawi, menilai prospek industri kelapa sawit Indonesia masih akan dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari implementasi kebijakan domestik, perkembangan geopolitik hingga kondisi cuaca.
BACA JUGA: Kinerja IndoAgri 2025 Tumbuh Kuat, Laba Naik 19% Ditopang Harga CPO dan Ekspansi Hilirisasi
Menurut dia, implementasi program biodiesel B50 berpotensi menopang permintaan CPO di pasar domestik dan memengaruhi keseimbangan antara konsumsi dalam negeri dengan ketersediaan pasokan untuk ekspor.
Di sisi lain, perseroan juga mencermati perkembangan kerangka tata kelola ekspor pemerintah yang melibatkan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI). Kerangka tersebut memasuki masa transisi pada Juni 2026, sementara pengaturan operasional secara rinci masih terus berkembang.
“Implikasinya terhadap industri akan bergantung pada cakupan akhir dan implementasi praktis dari kerangka tersebut,” demikian pandangan manajemen Kencana Agri dalam keterangannya.
