InfoSAWIT, KUALA LUMPUR – Prospek harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) diperkirakan tetap menguat pada paruh kedua 2026. Meningkatnya risiko geopolitik, penguatan fenomena El Niño, serta tingginya permintaan biodiesel dipandang menjadi sejumlah faktor yang berpotensi menopang harga sekaligus membuka peluang bagi saham-saham sektor perkebunan.
Dilansir InfoSAWIT dari The Edge Malaysia, Kamis (20/8/2026), sejumlah analis memperkirakan harga CPO akan tetap bertahan di atas RM4.000 per ton hingga akhir tahun, meski pasar masih dibayangi tingginya persediaan minyak sawit di Malaysia.
CIMB Securities memperkirakan harga CPO dalam jangka pendek bergerak di kisaran RM4.400 hingga RM4.600 per ton. Proyeksi tersebut didukung meningkatnya risiko geopolitik, potensi dampak El Niño terhadap produksi, serta kenaikan kebutuhan minyak sawit untuk program biodiesel di Indonesia.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Sumbar Periode II Agustus 2026 Naik Rp10,79 per Kg
Menurut CIMB, gangguan terhadap pengiriman komoditas dari kawasan Rusia dan Ukraina berpotensi mengurangi pasokan minyak bunga matahari di pasar global. Kondisi ini dapat mendorong konsumen beralih ke minyak sawit sebagai alternatif minyak nabati.
Prospek permintaan juga mendapat dukungan dari India yang akan memasuki musim perayaan. Peningkatan aktivitas konsumsi selama periode tersebut diperkirakan akan mendorong kebutuhan minyak goreng dan berbagai produk minyak nabati.
El Niño Berpotensi Tekan Produksi Sawit
Faktor cuaca menjadi perhatian penting dalam proyeksi harga CPO. CIMB menilai penguatan kondisi El Niño yang diperkirakan mulai terasa pada Oktober dapat memberikan tekanan terhadap produktivitas dan produksi kelapa sawit di Asia Tenggara.
BACA JUGA: Agrinas Siapkan Pilot Project Plasma Sawit Bersama Koperasi di Sumatera Utara
Namun, dampak terbesar terhadap pasokan diperkirakan baru akan lebih terlihat pada 2027. Hal ini berkaitan dengan adanya jeda waktu antara terjadinya tekanan cuaca dan dampaknya terhadap produksi tandan buah segar serta output minyak sawit.
Sejalan dengan perubahan tersebut, CIMB menaikkan proyeksi harga rata-rata CPO untuk 2026 dan 2027 masing-masing sebesar RM50 per ton. Estimasi harga CPO 2026 kini dipatok pada RM4.450 per ton, sedangkan proyeksi untuk 2027 dinaikkan menjadi RM4.550 per ton.
Penyesuaian proyeksi tersebut mencerminkan meningkatnya risiko pasokan akibat El Niño serta ketidakpastian geopolitik global yang masih berlangsung.
BACA JUGA: Kinerja IndoAgri 2025 Tumbuh Kuat, Laba Naik 19% Ditopang Harga CPO dan Ekspansi Hilirisasi
B50 Indonesia Jadi Penopang Permintaan CPO
Di sisi permintaan, kebijakan mandatori biodiesel B50 di Indonesia diperkirakan akan memberikan dukungan tambahan terhadap konsumsi CPO. Program tersebut berpotensi meningkatkan penyerapan minyak sawit di dalam negeri dan memperketat ketersediaan pasokan untuk pasar global.
Prospek tersebut semakin diperkuat oleh revisi proyeksi produksi minyak sawit Indonesia. Departemen Pertanian Amerika Serikat atau USDA menurunkan perkiraan produksi minyak sawit Indonesia pada periode 2026–2027 menjadi 47,2 juta ton dengan mempertimbangkan potensi kondisi kekeringan.
Persediaan minyak sawit Indonesia juga diproyeksikan menyusut. Stok diperkirakan turun sekitar 28 persen secara tahunan menjadi 3,1 juta ton, sehingga dapat menjadi faktor pendukung bagi keseimbangan pasar minyak sawit global.
BACA JUGA: Pendapatan CPO Bumitama Tembus Rp10,27 Triliun, Naik 23 Persen pada Semester I 2026
Sementara itu, Public Investment Bank memperkirakan harga rata-rata CPO berada di kisaran RM4.400 per ton untuk periode 2026 hingga 2027.
Stok Tinggi Malaysia Masih Menjadi Tekanan
Meski prospek harga CPO dinilai positif, ruang penguatan tetap berpotensi dibatasi oleh tingginya persediaan minyak sawit Malaysia.
TA Securities mencatat stok minyak sawit Malaysia pada Juli mencapai 2,63 juta ton, melampaui ekspektasi pasar. Tingginya persediaan tersebut menjadi salah satu faktor yang dapat menahan kenaikan harga CPO dalam jangka pendek.
