InfoSAWIT, JAKARTA – IndoAgri mencatatkan tahun 2025 sebagai periode pertumbuhan dan ketahanan bisnis, ditopang oleh penguatan operasional perkebunan, ekspansi kapasitas refinery, serta kondisi pasar minyak sawit yang menguntungkan.
Dilansir InfoSAWIT dari laporan tahunan perusahaan, pada April 2026, Chief Executive Officer dan Executive Director Mark Julian Wakeford menyampaikan, bahwa meski dihadapkan pada ketegangan geopolitik dan volatilitas pasar komoditas, perseroan tetap mampu menjaga daya saing dan memanfaatkan peluang pertumbuhan.
“Tahun 2025 menjadi periode pertumbuhan dan ketahanan bagi IndoAgri. Kami memperkuat operasional perkebunan dan meningkatkan kapasitas refinery, dengan tetap fokus pada praktik berkelanjutan dan efisiensi rantai pasok,” ungkap Mark Julian Wakeford dalam laporan tersebut.
BACA JUGA: Harga CPO Malaysia Diproyeksi Tetap Kuat pada Semester II 2026 Meski Stok Naik
Harga CPO Menguat, Dorong Kinerja Keuangan
Sepanjang 2025, kondisi pasar dinilai cukup mendukung industri sawit. Pasokan yang terbatas serta tingginya permintaan dari program biodiesel domestik mendorong kenaikan harga CPO.
Harga CPO domestik (KPB) tercatat naik 8% menjadi rata-rata Rp14.234 per kg, sementara harga internasional (CIF Rotterdam) meningkat 15% menjadi rata-rata US$1.283 per ton. Kenaikan harga minyak inti sawit juga mengikuti tren minyak kelapa, sehingga turut mendongkrak pendapatan dan profitabilitas perusahaan.
Kinerja keuangan IndoAgri pun mengalami peningkatan signifikan. Pendapatan tumbuh 32% menjadi Rp21,1 triliun, sementara laba bersih setelah pajak naik 19% menjadi Rp2,5 triliun.
BACA JUGA: Nanolignin dari TKKS Berpotensi Jadi Adsorben Ramah Lingkungan untuk Serap Timbal
Divisi Perkebunan IndoAgri mengedepankan pendekatan proaktif dalam mengelola risiko perubahan iklim. Perseroan memanfaatkan proyeksi iklim dari World Bank hingga tahun 2050, termasuk analisis pola curah hujan yang diperbarui setiap enam bulan.
Langkah ini diikuti dengan alokasi belanja modal untuk mitigasi banjir, terutama di wilayah berisiko tinggi seperti Kalimantan, guna menjaga produktivitas tandan buah segar (TBS) dalam jangka panjang. (T2)
