InfoSAWIT, KUALA LUMPUR – Momentum harga minyak sawit mentah (CPO) Malaysia diperkirakan tetap kuat pada paruh kedua 2026, meski produksi dan persediaan sawit menunjukkan peningkatan. Public Investment Bank Bhd melalui PublicInvest Research menilai kekhawatiran terhadap potensi penurunan hasil panen akibat perkembangan El Niño dapat menjadi penopang harga CPO hingga akhir tahun.
Lembaga riset tersebut mencatat stok minyak sawit Malaysia meningkat untuk bulan keempat berturut-turut pada Juli 2026 dan mencapai level tertinggi dalam lima bulan. Persediaan naik 3,3% secara bulanan menjadi sekitar 2,6 juta ton, terutama dipengaruhi peningkatan produksi di tengah konsumsi domestik yang lebih lemah.
Meski stok bertambah, rasio stok terhadap penggunaan justru turun dari 13% menjadi 12,5%. Kondisi tersebut menunjukkan peningkatan persediaan belum sepenuhnya mengubah keseimbangan pasar sawit Malaysia.
BACA JUGA: 4 Anak Usaha KAS Group Raih ISPO, Targetkan Seluruh Kebun Rampung Tersertifikasi di 2027
Dilansir InfoSAWIT, Jumat (14/8/2026) dari laporan PublicInvest Research, memperkirakan harga CPO tetap bertahan pada semester II 2026 karena pasar mulai mengantisipasi potensi pelemahan hasil panen di Malaysia dan Indonesia akibat perkembangan El Niño.
“Kami memperkirakan harga CPO tetap bertahan pada 2H26 di tengah kekhawatiran terhadap pelemahan hasil sawit Malaysia dan Indonesia akibat perkembangan El Niño,” kata lembaga riset tersebut.
Ekspor Sawit Malaysia Tumbuh 14,5 Persen
Dari sisi permintaan, kinerja ekspor memberikan dukungan terhadap pasar CPO Malaysia. Ekspor minyak sawit pada Juli 2026 meningkat 14,5% secara bulanan, terutama didorong kenaikan pengiriman ke Uni Eropa, India dan kawasan Timur Tengah.
BACA JUGA: Menkop Dorong Koperasi Miliki Pabrik CPO, Hilirisasi Sawit Dinilai Perkuat Petani
Pengiriman sawit Malaysia ke Uni Eropa meningkat 28,4%, sementara ekspor ke India naik 14,3%. Kenaikan paling besar terjadi pada pengiriman ke Timur Tengah yang melonjak 173,8%.
Namun, tidak seluruh pasar utama mencatat pertumbuhan. Ekspor ke China turun 51,2%, sedangkan pengiriman ke Amerika Serikat terkoreksi 14,1%.
Perbedaan kinerja ekspor antarnegara tersebut menunjukkan bahwa permintaan global terhadap minyak sawit masih bergerak beragam. Meski demikian, pertumbuhan pengiriman ke sejumlah pasar utama memberikan dukungan terhadap penyerapan produksi Malaysia.
BACA JUGA: Pabrik Sawit KUD Sejahtera Diresmikan, Koperasi Didorong Naik Kelas ke Hilirisasi Sawit
Produksi CPO Malaysia Naik 9,4 Persen
Dari sisi pasokan, produksi CPO Malaysia meningkat untuk bulan kedua berturut-turut. Produksi pada Juli 2026 mencapai sekitar 1,8 juta ton, naik 9,4% dibandingkan bulan sebelumnya.
Produksi di Semenanjung Malaysia meningkat 10,6%, sementara produksi di Malaysia Timur tumbuh 7,9% secara bulanan.
Namun, dalam periode Januari-Juli 2026, hasil tandan buah segar (TBS) Malaysia justru sedikit melemah. Rata-rata hasil TBS tercatat 9,27 ton per hektare, menunjukkan adanya tekanan pada produktivitas perkebunan.
