InfoSAWIT, YOGYAKARTA – Upaya meningkatkan efisiensi pemupukan kelapa sawit mendapat peluang baru melalui pengembangan marka molekuler. Penelitian yang dilakukan di Universitas Gadjah Mada (UGM) mengidentifikasi dua kandidat gen, EgPti1 dan EgPap3, yang berpotensi digunakan untuk menyeleksi tanaman kelapa sawit dengan kemampuan penyerapan fosfor (P) yang lebih efisien.
Dilansir InfoSAWIT dari hasil penelitian UGM berjudul “Identifikasi dan Karakterisasi Gen Terpaut Defisiensi Fosfor Pada Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.)”, Jumat (21/8/2026), penelitian tersebut menempatkan efisiensi penggunaan unsur fosfor sebagai salah satu kunci dalam mendukung sistem perkebunan kelapa sawit yang lebih berkelanjutan.
Fosfor merupakan salah satu unsur hara penting yang berperan dalam pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Namun, ketersediaannya tidak selalu optimal, terutama pada sejumlah jenis tanah tropis. Kondisi tersebut membuat kebutuhan pemupukan menjadi salah satu komponen penting dalam pengelolaan perkebunan, sekaligus membuka peluang pengembangan varietas yang mampu memanfaatkan fosfor secara lebih efisien.
BACA JUGA: RSPO Dorong Sertifikasi Jadi Kunci Akses Pasar dan Penguatan Petani Sawit Swadaya
Penelitian ini berangkat dari studi pendahuluan yang telah menghasilkan dua kandidat marka molekuler terkait efisiensi fosfor, yakni gen EgPti1 dan EgPap3. Kedua gen tersebut kemudian dikaji lebih jauh untuk mengetahui pola ekspresi, aktivitas enzim yang terkait, hubungan antara genotipe dan karakter tanaman, hingga pola pewarisannya.
Peneliti menggunakan dua kelompok material tanam, yakni tanaman kelapa sawit klonal dengan genotipe Prolifik dan non-Prolifik, serta bibit hasil persilangan Dura × Pisifera (DxP). Material DxP tersebut berasal dari tetua heterozigot yang sebelumnya diseleksi berdasarkan variasi single nucleotide polymorphism atau SNP pada kedua gen target.
Untuk mengetahui variasi genetik tanaman, penelitian menggunakan metode Unlabeled Probe High-Resolution Melting (UP-HRM) pada SNP gen EgPti1. Sementara itu, SNP pada gen EgPap3 dianalisis menggunakan metode Cleavage Amplified Polymorphism Sequence (CAPS).
BACA JUGA: Kemerdekaan Ekonomi dan Jalan Panjang Koperasi Rakyat
Selanjutnya, progeni yang memiliki alel berbeda diuji dalam kondisi variasi dosis fosfor menggunakan sistem hidroponik kultur air. Tingkat ekspresi gen EgPti1 dan EgPap3 kemudian dievaluasi menggunakan metode Real Time Quantitative Polymerase Chain Reaction (RT-qPCR).
“Hasil penelitian menunjukkan adanya respons berbeda antara material klonal dan tanaman hasil persilangan DxP. Pada tanaman klonal dengan genotipe Prolifik, ekspresi kedua gen meningkat pada jaringan akar dan daun. Sementara pada bibit DxP, peningkatan ekspresi EgPti1 dan EgPap3 terutama ditemukan pada bagian akar,” demikian catat abstrak dari penelitian tersebut.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa sistem perakaran menjadi salah satu bagian penting dalam respons tanaman terhadap kondisi ketersediaan fosfor. Akar menjadi organ pertama yang berinteraksi dengan unsur hara di media tumbuh dan berperan langsung dalam proses penyerapan nutrisi.
BACA JUGA: Indonesia Dorong Negara-Negara Selatan Naik Kelas Lewat Hilirisasi Mineral Kritis
Penelitian juga mengamati aktivitas dua enzim yang dikendalikan oleh kandidat gen tersebut, yakni acid phosphatase (APase) dan serin/treonin kinase. Pada tanaman klonal yang mengalami kondisi kekurangan fosfor, aktivitas kedua enzim meningkat pada akar dan daun.
Sementara pada tanaman DxP, aktivitas APase mengalami peningkatan pada akar dan meningkat secara signifikan pada daun. Aktivitas serin/treonin kinase juga tercatat meningkat secara signifikan pada kedua organ tersebut.
Analisis hubungan antara genotipe dan fenotipe menggunakan metode Principal Component Analysis (PCA) turut menunjukkan pola yang menarik. Genotipe Prolifik diketahui membentuk kelompok yang terpisah dari genotipe netral dan non-Prolifik.
