Pemisahan kelompok tersebut menunjukkan adanya keterpautan antara variasi genetik dengan karakter fenotipik yang diamati dalam penelitian. Dengan kata lain, perbedaan pada gen target berpotensi berkaitan dengan kemampuan tanaman dalam merespons kondisi ketersediaan fosfor.
Meski demikian, penelitian juga menemukan bahwa pola pewarisan kedua gen pada hasil persilangan DxP tidak sepenuhnya mengikuti rasio yang diharapkan berdasarkan Hukum Mendel. Analisis Chi-square menunjukkan adanya penyimpangan terhadap rasio segregasi yang secara teoritis diperkirakan.
Hasil tersebut membuka ruang penelitian lebih lanjut untuk memahami mekanisme genetik yang memengaruhi pewarisan sifat efisiensi fosfor pada kelapa sawit.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Jambi Periode 14–20 Agustus 2026 Turun Rp32,15 per Kg
Secara keseluruhan, penelitian UGM ini menghasilkan kandidat marka molekuler yang berpotensi diaplikasikan dalam proses seleksi tanaman kelapa sawit dengan kemampuan penyerapan fosfor yang lebih efisien. Jika dikembangkan lebih lanjut, pendekatan berbasis marka molekuler dapat membantu mempercepat proses pemuliaan dan seleksi material tanam.
Bagi industri sawit, pengembangan varietas yang mampu memanfaatkan unsur hara secara lebih efisien berpotensi mendukung pengurangan ketergantungan terhadap pemupukan berlebih, meningkatkan efisiensi biaya produksi, sekaligus memperkuat penerapan praktik perkebunan yang lebih berkelanjutan.
Temuan mengenai gen EgPti1 dan EgPap3 pun menjadi salah satu langkah penting dalam memahami hubungan antara genetika tanaman dan efisiensi penggunaan fosfor, yang ke depan dapat menjadi bagian dari pengembangan inovasi pemuliaan kelapa sawit Indonesia. (T2)
