InfoSAWIT, MEDAN – Upaya memperkuat kesiapan pekebun swadaya dalam menerapkan tata kelola perkebunan kelapa sawit berkelanjutan terus didorong. Sebanyak 87 pekebun swadaya asal Kabupaten Aceh Singkil mengikuti Pelatihan Implementasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) yang berlangsung di Medan, Sumatera Utara.
Kegiatan yang digelar pada 10–15 Agustus 2026 di Hotel AIHO Medan tersebut dilaksanakan oleh PT Koompasia Enviro Institute melalui Program Pengembangan Sumber Daya Manusia Perkebunan Kelapa Sawit (SDM PKS). Program ini mendapat dukungan dari Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) bersama Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun).
Para peserta dibagi ke dalam tiga angkatan. Selama pelatihan, mereka dibekali pemahaman mengenai prinsip dan kriteria ISPO, sekaligus berbagai langkah yang perlu dipersiapkan untuk menerapkannya dalam pengelolaan kebun maupun kelembagaan pekebun.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Sumbar Periode III Agustus 2026 Turun Rp113,48 per Kg
Bagi pekebun swadaya, perjalanan menuju sertifikasi ISPO bukan sekadar melengkapi persyaratan administrasi. Kesiapan juga mencakup pemahaman mengenai aspek legalitas, penguatan kelembagaan, penerapan praktik perkebunan yang baik, perlindungan lingkungan, pemenuhan aspek sosial, hingga pencatatan kegiatan usaha secara tertib dan berkelanjutan.
Belajar dari Praktik Lapangan
Untuk memperkuat pemahaman peserta, pelatihan dirancang dengan pendekatan interaktif. Selain menerima materi di dalam kelas, para pekebun terlibat dalam diskusi, berbagi pengalaman, serta membahas berbagai persoalan yang selama ini mereka hadapi dalam pengelolaan kebun.
Peserta juga mengikuti praktik lapangan untuk melihat secara langsung penerapan prinsip dan kriteria ISPO yang telah dijalankan oleh lembaga petani di Kecamatan Sipispis, Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Swadaya Riau Periode 19-25 Agustus 2026 Turun Rp40,50/Kg, Umur 9 Tahun Rp3.834,39/Kg
Melalui kunjungan tersebut, peserta memperoleh gambaran lebih konkret mengenai bagaimana prinsip keberlanjutan diterapkan dalam praktik sehari-hari. Pengalaman lapangan itu diharapkan dapat membantu pekebun menghubungkan materi pelatihan dengan kondisi nyata yang mereka hadapi ketika kembali ke Aceh Singkil.
Penguatan kelembagaan turut menjadi salah satu perhatian utama dalam pelatihan. Proses menuju sertifikasi ISPO membutuhkan keterlibatan bersama, bukan hanya dari jajaran pengurus organisasi atau koperasi, tetapi juga seluruh anggota.
Dengan keterlibatan kolektif, proses pembenahan administrasi, legalitas, praktik budidaya, hingga sistem pencatatan dapat dilakukan secara lebih terarah.
BACA JUGA: Harga CPO KPBN Inacom Withdraw pada Rabu (19/8), Perdagangan CPO di Bursa Malaysia Ditutup Menguat
Para trainer yang terlibat dalam kegiatan ini juga memiliki pengalaman dalam mendampingi pekebun swadaya menuju sertifikasi ISPO. Pengalaman tersebut menjadi bekal penting dalam membantu peserta membahas berbagai persoalan yang kerap muncul di lapangan serta mencari solusi yang sesuai dengan kondisi pekebun.
Dalam keterangan resmi diterima InfoSAWIT, Kamis (20/8/2026), Kepala Bidang PPSDMPP Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh, Mukhlis, mengatakan pemenuhan prinsip dan kriteria ISPO masih menjadi tantangan yang perlu dihadapi oleh pekebun swadaya di Aceh.
Menurutnya, peningkatan kapasitas melalui kegiatan pelatihan menjadi bagian penting agar pekebun memiliki pemahaman dan kemampuan yang lebih baik dalam mempersiapkan proses sertifikasi.
BACA JUGA: GAPKI Sumbar Keberatan Pajak Air Permukaan Dikenakan pada Areal Sawit Berbasis Curah Hujan
Sementara, Direktur PT Koompasia Enviro Institute, Henry Marpaung, mengatakan pelatihan tersebut tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan pengetahuan peserta mengenai ISPO.
Lebih dari itu, kegiatan ini diharapkan mampu melahirkan petani champion yang dapat menjadi penggerak dan pionir di daerah masing-masing.
Para peserta diharapkan dapat membawa kembali pengetahuan yang diperoleh selama pelatihan ke dalam kelembagaan mereka. Dengan demikian, proses pembenahan menuju sertifikasi ISPO dapat terus didorong secara bertahap dan melibatkan lebih banyak pekebun.
