InfoSAWIT, JAKARTA – Pengelolaan penyakit tanaman menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga produktivitas berbagai komoditas perkebunan, mulai dari kelapa sawit, karet, kopi, kakao, teh hingga tebu. Seiring meningkatnya tuntutan terhadap praktik budi daya yang berkelanjutan, strategi pengendalian penyakit kini didorong untuk tidak hanya mengandalkan pestisida kimia, tetapi juga memanfaatkan inovasi agen hayati dan teknologi nano.
Perspektif tersebut mengemuka dalam Webinar EstCrops_Corner #30 bertema “Innovative Microbial and Nanodelivery Approaches to Support Sustainable Estate Plant Diseases Management” yang digelar Pusat Riset Tanaman Perkebunan, Organisasi Riset Pertanian dan Pangan (ORPP) BRIN, Jumat (14/8).
Kepala Pusat Riset Peternakan BRIN, Santoso, mengatakan penyakit tanaman masih menjadi tantangan serius dalam pengelolaan berbagai komoditas perkebunan. Karena itu, menurutnya, pendekatan pengendalian perlu diarahkan menuju sistem yang lebih terpadu, preventif, presisi, serta ramah terhadap lingkungan.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Sumbar Periode II Agustus 2026 Naik Rp10,79 per Kg
“Pengendalian penyakit perlu bergeser dari ketergantungan pada pestisida kimia menuju pengelolaan yang terpadu, preventif, presisi, dan ramah lingkungan,” ujar Santoso dilansir InfoSAWIT dari keterangan resmi ditulis Rabu (19/8/2026).
Ia menjelaskan, sejumlah mikroorganisme seperti Trichoderma, Bacillus, Pseudomonas, mikoriza, hingga mikroba endofit memiliki potensi untuk menekan perkembangan patogen. Selain itu, agen hayati tersebut juga dapat mendukung pertumbuhan serta meningkatkan ketahanan tanaman.
Namun demikian, pemanfaatan mikroorganisme sebagai agen pengendali hayati masih menghadapi sejumlah tantangan di tingkat aplikasi lapangan. Stabilitas formulasi, umur simpan, serta sensitivitas terhadap perubahan kondisi lingkungan menjadi beberapa faktor yang perlu diatasi agar teknologi tersebut dapat digunakan secara lebih luas.
BACA JUGA: Produktivitas Sawit Bumitama Naik 16 Persen, Laba Bersih Semester I 2026 Capai Rp1,83 Triliun
Nanoenkapsulasi Minyak Atsiri untuk Biopestisida
Salah satu pendekatan yang dikembangkan adalah pemanfaatan teknologi nanoenkapsulasi untuk meningkatkan stabilitas dan efektivitas biopestisida berbasis minyak atsiri.
Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Tanaman Perkebunan, Riki Warman, memaparkan penelitian mengenai kombinasi minyak atsiri serai wangi, cengkeh, dan eukaliptus yang diformulasikan untuk mengendalikan penyakit antraknosa pada tanaman cabai akibat serangan jamur Colletotrichum.
Menurut Riki, minyak atsiri memiliki potensi besar sebagai biopestisida alami. Namun, penggunaan secara langsung masih menghadapi sejumlah keterbatasan karena sifat senyawanya yang mudah menguap dan rentan mengalami degradasi akibat paparan sinar ultraviolet, suhu tinggi, serta proses oksidasi.
BACA JUGA: Dari Pakistan ke Indonesia, Temukan Perspektif Baru tentang Sawit
Melalui teknologi nanoenkapsulasi, senyawa aktif minyak atsiri dilindungi dalam matriks berukuran nano. Pendekatan tersebut juga memungkinkan pelepasan bahan aktif secara perlahan dan terukur atau controlled release ketika diaplikasikan pada tanaman.
Pengujian di laboratorium dan skala terbatas menunjukkan formulasi nanoemulsi yang dikembangkan memiliki karakteristik fisik yang mendukung kestabilan formulasi, dengan distribusi ukuran partikel berada pada skala nanometer. Formulasi tersebut juga mampu menghambat perkembangan patogen antraknosa secara konsisten hingga hari ke-14 setelah aplikasi.
Meski tingkat efektivitasnya masih berada di bawah fungisida sintetis, hasil penelitian tersebut membuka peluang pengembangan biopestisida berbasis bahan alami dengan teknologi penghantaran yang lebih presisi.
